Pernahkah kita sadari bahwa kertas sangat dekat dengan aktivitas keseharian kita?

Di rumah, biasanya kertas terlihat di berbagai sudut ruangan. Mulai dari kalender, undangan pernikahan yang tergeletak di meja, sampai nota bekas pembayaran, semua ada.

Di kantor, kertas digunakan untuk berbagai keperluan, misalnya surat-menyurat; di warnet, kertas HVS digunakan untuk melahirkan tulisan-tulisan tugas anak sekolah; dan di gerai fotokopi, banyak menjual berbagai jenis benda berbahan kertas.

Bahkan penjual gorengan menggunakan kertas sebagai alas kantong plastik kemasan gorengan yang ia jajakan. Sangat jelas, keseharian manusia tidak lepas dari yang namanya kertas.

Meski kita sering beraktivitas dengan kertas-kertas, mungkin masih banyak yang belum tahu jika kertas yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari berbahan dasar dari pohon. Itu diproses sedemikian rupa menjadi pulp (bubur kertas) yang kemudian pada tahapan akhir menjadi berbagai jenis produk kertas.

Di era modern saat ini, banyak sekali produk barang elektronik maupun makanan siap saji yang kemasannya (packaging) berbahan dasar kertas.

Seperti kulkas, TV, alat make up, semua biasanya terbuat dari kemasan kertas berupa carton box (kardus). Dan untuk kemasan makanan seperti pizza, KFC, dan lainnya, bentuknya bisa bermacam-macam, seperti paper tray, paper cup, dan lunch box.

Ketergantungan serta kebutuhan manusia di era modern terhadap kertas makin tinggi. Secara otomatis, permintaan terhadap kertas pun menjadi tinggi.

Seperti yang telah disinggung pada paragraf sebelumnya, pohon adalah bahan pokok utama pembuatan kertas. Jika kebutuhan dan permintaan tinggi, maka kelestarian hutan/pohon akan terancam akibat dari permintaan tersebut. Itu jika tidak ada metode yang tepat dalam menebang pohon tanpa memikirkan periode tahapan penanamannya kembali.

Misalnya dengan reboisasi atau melakukan sistem tebang pilih pada pohon yang telah layak untuk ditebang, maka ini ancaman yang serius bagi kelestarian pohon juga keberlangsungan hidup umat manusia serta makhluk hidup lainnya.

Kertas menjadi industri besar. Setiap negara, dunia, membutuhkan kertas. Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri mengatakan, “Saat ini konsumsi kertas di dunia mencapai 394 juta ton dan akan terus meningkat menjadi 490 juta ton pada tahun 2020.”

Walau Indonesia berada pada tingkat konsumsi kertas yang tergolong rendah dari rata-rata konsumsi negara lainnya, tetapi secara umum konsumsi kertas bagi khalayak dunia sangat tinggi.

Kerusakan hutan di tanah air cukup memprihatinkan. Berdasarkan catatan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia, sedikitnya 1,1 juta hektare atau 2 persen dari hutan Indonesia menyusut setiap tahunnya.

Data KLHK menyebutkan, dari sekitar 130 juta hektar hutan yang tersisa di Indonesia, 42 juta hektare di antaranya sudah habis ditebang.

Akhir Februari 2019, saya berkunjung ke PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk di Kecamatan Kragilan, Kabupaten Serang. Perusahaan ini menggunakan limbah kertas sebagai bahan baku utama untuk memproduksi kertas baru, khususnya produk kardus.

Ini menjadi contoh yang baik bahwa masih ada perusahaan besar industri kertas yang aware terhadap kelestarian lingkungan dengan berfokus pada konsep daur ulang sembari kualitas produk yang dihasilkan tetap baik.

Sebagaimana yang disampaikan Dani Kusumah, Koordinator CSR PT Indah Kiat Pulp & Paper wilayah Kabupaten Serang, bahan baku yang digunakan perusahaan tersebut berasal dari limbah kertas. Itu tidak hanya didatangkan dari Indonesia, tetapi impor dari negara lain. Karena suplay limbah kertas dari dalam negeri tidak mencukupi target kebutuhan produksi.

Seperti yang dilakukan oleh PT Indah Kiat Pulp & Paper, dengan alur seperti ini, tentu akan tetap menjaga kelestarian alam, khususnya pepohonan, agar tidak dieksploitasi secara berlebihan.

PT Indah Kiat Pulp & Paper juga menanam pohon industri dengan periode penanaman yang terukur dan sistem fire management untuk mengantisipasi terjadinya kebakaran hutan. Dari pohon industri inilah yang kemudian dijadikan sebagai bahan baku, khususnya untuk produksi kertas bagi kemasan makanan yang aman untuk digunakan. 

Seperti dilansir dari tulisan Afdiyat Walton berjudul Sudah Amankah Kemasan Makanan dan Minuman Kita?, dijelaskan bagaimana proses pembuatan kemasan berbahan kertas berasal dari Departemen Paper Machine B PT Indah Kiat Pulp & Paper yang memproduksi kertas White Grade.

Khusus untuk produk kemasan makanan, bahan bakunya tidak menggunakan waste paper, melainkan virgin pulp. Proses selanjutnya dapat dibaca pada tulisan tersebut.

Hal demikian menjadi catatan penting bahwa kita sebagai manusia yang senantiasa bersentuhan dengan kertas, khususnya bagi para pencinta kuliner, perlu mengetahui bahwa tidak semua kemasan makanan berbahan dasar kertas itu baik digunakan. Dalam arti, ia dapat berdampak kurang baik bagi kesehatan.

Yang baik digunakan, yaitu kemasan makanan berbahan dasar kertas. Namun tidak dari hasil daur ulang, melainkan kemasan makanan dan minuman yang berlabel Food Grade.

Artinya, material yang digunakan layak dipakai untuk memproduksi kemasan makanan, yaitu dari virgin pulp yang telah disebutkan pada paragraf sebelumnya. Biasanya kemasan kertas ini tidak berwarna cokelat seperi warna dasar kertas hasil produksi dari waste paper (daur ulang).

Antara kertas dan pohon itu penting bagi manusia. Maka bijaklah dalam penggunaan kertas, agar pohon dapat terjaga kelestariannya dan tumbuh dengan bebas.