11594_57462.jpg
http://media.philly.com
Filsafat · 7 menit baca

Kertas dan Katalisator Modernitas

Tsai Lun mungkin tak akan mengira, betapa temuannya telah mengubah wajah peradaban dunia sampai hari ini. Tak ada manusia yang hidup tanpa kertas. Digitalisasi sekalipun tak jua mampu melibas peran kertas yang telah ‘menubuh’ atas peradaban. Teknologi dan artefaknya akan sulit berevolusi tanpa dokumentasi sains di lembaran-lembaran kertas yang jelajahi dunia kehidupan kita, dunia modern.

Renaisans menjadi periode umum langkah kemajuan Eropa membawa modernitas menuju puncak yang lain, puncak hasrat baru manusia yang diawali dengan penemuan mesin cetak, kompas, dan mesiu. Tapi apa yang sebenarnya baru dari modernitas dan teknologi?

Dalam sejarahnya, secara subjektif ihwal modernitas dan teknologi itu bisa diteropong dari masing-masing sudut pandang. Renaisans bisa jadi fondasi sekaligus awal puncak kemajuan peradaban manusia dalam periode yang lain dari estafet peradaban Islam di Timur -Tengah, Tiongkok, Romawi, Maya-Aztec-Inka di benua Amerika, Mesir, atau Yunani kuno yang berjaya di masing-masing mula.

Secara kontekstual, setiap yang modern ada masanya. Tiap teritori ada budayanya. Dan tiap teknologi ada instrumentalisasinya. Hakikat yang teknik dalam teknologi bukanlah sesuatu yang baru. Ia lebih mula dari sains, meski tanpa harus berdikotomi. Dari sudut pandang Heidegger, ‘techne’ telah menempatkan artefak dan teknologi menjadi bagian alami dari manusia dan semesta. Ia lebih tua dari manusia mengenal sejarah sebagai upaya bertahan hidup.

Tetapi relasi ini tidak semata-mata hanya bersifat antropologis dan instrumental. Upaya mencipta atau mentransformasikan sesuatu yang baru (enframing) kemudian membuka cakrawala reflektif filosofisnya sendiri.

Kertas secara signifikan merubah orientasi budaya komunikasi oral menjadi baca-tulis. Awalnya teknologi dan budaya dianggap berciri partikular dalam lingkup relasi antar manusia. Tiap manuskrip dan teks-teks lama ditulis di media-media berbeda di lokasi budaya yang berbeda; piringan tanah liat, papyrus, batu, kulit kayu/kayu, lontar, tulang, gading, bambu, dan kulit binatang (parchmen/vellum).

Dari Tiongkok, setelah beberapa lama menjadi rahasia, secara gradual teknik pembuatan kertas merambah wilayah terdekat, yakni Korea dan Jepang di sekitar awal abad ke-7. Tak dinyana, maskulinitas hasrat manusia lewat peperangan berdampak semacam a blessing in disguise, transfer teknologi kertas pada bangsa Arab setelah Pertempuran Talas.

Pabrik kertas pertama dibuat di Samarkand. Bangsa Arab secara intens menggunakan kertas untuk berbagai kepentingan dokumentasi, seperti kitab suci, ilmu agama, dan ilmu pengetahuan, serta karya penting lainnya dalam mode penjilidan buku dengan jahitan benang sutera, dan menutupnya dengan papan pasta. Secara relatif singkat, kertas menjadi sebuah komoditas baru.

Penggunaan kertas untuk kemasan sudah dimulai sekitar tahun 1035 di Kairo, Mesir. Di abad ke 12, toko-toko dan lapak buku mulai bermunculan di Maroko dengan jumlah yang cukup banyak. Fenomena ini berjalan seiring perkembangan transfer ilmu pengetahuan yang masif terjadi pada era Abbasiyah. Secara umum, kekhalifahan memiliki akses wilayah dan secara otomatis pula akses budaya terhadap Byzantium, Mesir, Syria, Persia, dan India.

Keterbukaan pada ilmu pengetahuan dan poliglotisme, menjadi patron terpenting proses trayektori modernisasi. Tanpa melihat sentimen latar belakang suku bangsa dan agama, para ahli difasilitasi kekhalifahan al-Ma’mun dalam mengolah berbagai sumber literasi. Dasar pengetahuan Yunani kuno diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Ilmu pengetahuan dikembangkan. Dialektika ditradisikan. Pada fase berikutnya, jejak literasi pembentuk Renaisans Barat diawali proses penerjemahan karya Arab tadi ke dalam bahasa Latin, semisal usaha dari Gerard dari Cremona di Toledo yang telah menerjemahkan sekitar delapan-puluhan karya penting.

Jadi pintu pencerahan Eropa dari era kegelapan (Dark Ages) ditandai dengan penemuan kembali budaya Romawi dan Yunani lama yang berasal dari lembaran-lembaran khazanah intelektual Islam.

Semuanya tentu lewat perantara kertas yang berperan secara dominan. Inovasi lalu melahirkan inspirasi. Mesin cetak Gutenberg, dan mesin kertas Louis Robert merubah wajah lain modernisasi. Tampaknya, ekses renaisans memiliki kekhasan dibanding fase peradaban terdahulu: distribusi massal instrumentalisasi teknologi.

Proses rasionalisasi dan empiris membuat segala standar produksi yang efisien, masif, menguntungkan, dan progresif meniscayakan jaminan regulasi yang legitimatif. Pakta perjanjian, jurnal-jurnal ilmiah, sertifikat hak paten, dokumen identitas, surat berharga, surat kabar, dokumen rahasia, alat pemasaran, dan segala kepentingan administratif  mendorong proses reformasi di segala bidang. Segurat tanda tangan diatas secarik kertas menjadi sangat menentukan. Einstein jadi fenomenal karena publikasi makalah-makalah ilmiah.

Sampai era Aufklarung menuju modernisasi, kertas tidak hanya berfungsi ergonomis, tetapi juga estetis. Kacamata berfikir Don Ihde dalam membaca relasi budaya manusia dengan teknologi yang ‘menubuh’ bisa berarti alih fungsi tubuh atau ekstensi manusia memandang dan mengartikan dunianya. Dalam konteks kultural, upaya interpretasi berjalan menuju kesesuaian paham nilai praktis.

Kertas sebagai media penyampaian pesan dan informasi adalah bentuk lain dari serangkaian fase evolutif. Nilai praktis utamanya telah berlaku lazim sejak masa pra-kertas yang perlahan tidak bertahan pada seleksi alamiah modernitas. Tetapi sisi lain akal budi manusia yang estetis membuat kertas memperluas area fungsinya, diluar media baca-tulis. Artefak bisa berarti teknofak atau sosiofak, atau keduanya. Perbedaan persepsi dalam melihat teknosains berkonteks dengan perbedaan budaya memaknainya.

Secara konkret kertas mewujud pada lampion di tiongkok, bagian dari partisi (Shoji) di Jepang, seni origami, seni cutteristic, media lukis, foto, sculpture, atau permainan seperti layang-layang. Karena itu ia bersifat ‘multistabil’. Saat ini, kertas telah eksis di hampir semua bidang industri, di setiap lini kehidupan kita, dengan nilai praktisnya yang beraneka.

Dalam konteks ‘kebertubuhan’, artefak kertas adalah ekstensi pemikiran manusia kepada khalayak luas, perpanjangan tangan kekuasaan, ungkapan perasaan seseorang, narasi yang ‘berkata-kata’, atau sebentuk penegasan substansi identitas.

Namun ketika dunia masa kini mustahil dari dunia non-teknosains, wajah ganda modernisasi memantik kesadaran lain atas refleksi akibat kemajuan. Dilema ekonomis dan ekologis membuka ruang diskursus baru.

Area filosofi modern terbaca cukup mengesampingkan atau mencurigai sama sekali unsur metafisika pada pembentukan konsep dan sistem yang a priori. Fokus maksimal pada empirisme dianggap sebagai sebuah metode analitis konkret yang fungsional bagi kehidupan. Perwujudan olah rasio melulu ditentukan oleh logika dan hukum yang teknik.

Akibatnya, relasi antara manusia, teknologi, dan alam (dunia) menjadi semakin mekanis sehingga mengubah paradigma dan perilaku manusia membaca dunianya. Prioritas antropologis memandang alam tersedia sebagai objek yang ada untuk segala kebutuhan manusia yang dengannya secara insting dan wajar harus ditaklukkan, merekayasa alam, padahal visi pencerahan adalah emansipasi.

Global warming bukanlah mitos politis, melainkan batas kesadaran baru yang harus dipahami atas perilaku pengolahan alam oleh manusia sejauh ini. Sudah berapa banyak pohon yang ditebang, laut dicemari, gunung dikeruk, hutan dieksploitasi berlebih untuk pemenuhan konsumsi?  Pada akhirnya statistik adalah kepasifan angka-angka. Sebagaimana hasil produk industri lainnya, kertas adalah dunia ‘multistabil’ yang siap pakai, yang kita sering tak perdulikan alur proses kelahirannya.

Untuk bahan baku, mesin tak dapat menunggu lama pohon reboisasi. Kaidah efisiensi dan profitabilitas menegasi niat memperbarui alam dengan kegiatan penghilangan pohon/hutan (deforestasi).

Opini alternatif lalu memandang teknosains sebagai ‘mitos’ karena implikasi ‘mitos’ turunannya: bahwa kemajuan teknologi akan membawa kemajuan dan pemerataan ekonomi.

Jika kertas diasumsikan berperan besar pada kemajuan teknologi dan katalisator modernisasi, bisakah ia pula berperan sebagai penyeimbang dampak negatif modernisasi?

Sejauh revolusi industri sampai saat ini berjalan, kerusakan ekosistem lebih banyak disebabkan oleh industri pertambangan dan manufaktur. Wacana ‘Green Economy’ dan masifnya digitalisasi agaknya sedikit mengurangi faktor eksploitasi kertas, meski tak membuat paradigmanya harus bergeser menuju pandangan teknologi yang deterministik.

Teknosains bukanlah entitas otonom yang dapat mengontrol dirinya sendiri, membuat solusi olehnya sendiri. Pandangan dikotomis subjek-objek antara manusia dan teknologi terasa kontradiktif dengan fokus penelaahan filsafat rasional yang antropologis, dimana manusia jadi pusat analisa.

Kita bisa menumbuhkan budaya sadar lingkungan dengan mengurangi penggunaan tisu, mengganti kemasan kantong plastik, menggunakan dua sisi kertas, mengurangi konsumsi rokok, atau membuat produk-produk hasil teknologi daur ulang, yang berarti pula bahwa manusia memiliki faktor penentu yang setara dengan teknologi. Ia hanya netral saat pasif tanpa intervensi.

Dengan kata lain, disamping domain instrumental ada dunia sosial lain yang terbuka, intersubjektif, dan komunikatif. Distorsi eksistensi manusia dan alam dilihat sebagai gangguan dalam rasionalitas komunikasi, yang sering dipakai Habermas dalam konsep konsensus.

Elaborasi intelektual dalam daftar perjanjian-perjanjian, konvensi, protokol internasional tentang lingkungan hidup menuntut seberapa jauh komitmen untuk sebuah kemajuan peradaban yang bertanggung jawab atas keseimbangan ekologi dan sains. Jurnal-jurnal ilmiah, buku referensi, dan media massa otoritatif dipandang penulis masih relevan dalam penyampaian opini dan kritik yang berasaskan prinsip-prinsip moral etis. Peran negara menjadi vital bagi pelaksanaan regulasi yang penting bagi ekosistem, penegakan hukumnya, sekaligus solusi ekonomis.

Dalam kacamata neraca keseimbangan, alam dapat dianggap sebagai modal yang tidak boleh mengurangi keuntungan dan merongrong aset hingga mengakumulasi beban-beban, jika tak ingin bumi ini jatuh pailit.

Menjadi sebuah pertanyaan pribadi, mengapa teknosains bisa berkembang hebat di Barat pasca renaisans padahal sejarah penemuan kertas bermula dari tanah Tiongkok? Apakah budaya dan cara pandang ‘ketimuran’ terhadap alam yang dianggap ‘sakral’ memang mempengaruhi pengalamannya menjalani cara berkehidupan? 

Seringkali pola paradigma tak selalu sejalan dengan arah waktu yang ke depan. Kebijaksanaan lampau tak hanya mengisi wacana isu masa kini, selain sebuah nostalgia. Karena di lembaran-lembaran kertas kita tidak hanya merumuskan dan memproduksi dunia baru, tetapi pula berefleksi, dan memaknai realitas semesta.

Hingga pada jarak, dari apa-apa yang teknis terhadap apa-apa yang maknawi tak lantas membuat kita berlaku bak mesin, dan mengasing.