Dikisahkan bahwa peradaban manusia merupakan evolusi yang paling sempurna. Langkah yang membawa dunia pada sebuah titik yang disebut kemajuan. 

Penemuan kertas pada awal abad kedua menjadi salah satu tonggak di antaranya. Bahkan, tanpa arsip atau catatan yang ada, mungkin kita tidak pernah tahu bagaimana sejarah dunia, penemuan para ahli, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, hingga ragam kebudayaan. Namun, bagaimanakah substansi sejarah kertas itu sendiri?

Secara etimologis, kertas atau paper berasal dari bahasa Yunani, yaitu papyros yang merujuk pada sebuah tanaman bernama Cyperus Papyrus. Papyros adalah empelur dari tanaman Cyperus Papyrus yang diolah menjadi bahan yang serupa dengan kertas dan berukuran tebal. Papyros inilah yang digunakan oleh masyarakat Mediterania dan Mesir Kuno untuk menulis pada wangsa Firaun. 

Tetapi, masyarakat masih sering keliru dan menganggap bahwa papyros adalah kertas, padahal keduanya berbeda. Papyros adalah laminasi tanaman alami, sedangkan kertas terbuat dari serat yang sifatnya telah diubah.

Sejatinya, sejarah pembuatan kertas pertama kali di dimulai Cina, tepatnya pada masa Dinasti Han (202-220 SM). Saat itu, seorang pejabat pengadilan kekaisaran bernama Tsai Lun berhasil menemukan kertas yang berbahan dasar serat kulit kayu, jala ikan, dan batang gandum hingga sisa jerami. 

Kertas tersebut dirasa ringan, murah, dan lebih tahan lama serta cocok digunakan untuk menulis dengan kuas daripada Bo. Bo sendiri merupakan media menulis seperti kertas yang terbuat dari sutra dan digunakan oleh masyarakat Cina untuk menulis sebelumnya. 

Tercatat pula, saat itu, Kaisar Ho Ti amat senang oleh temuan Tsai Lun. Bahkan ia memberikan gelar kebangsawanan bagi Tsai Lun dan dengan sendirinya menjadi cukong.

Selanjutnya, proses produksi kertas di Cina disempurnakan dengan menggunakan bahan dasar berupa bambu yang dirasa memiliki hasil dengan tekstur yang jauh lebih halus. Terlebih lagi, tanaman bambu sangat mudah ditanam dan didapatkan di dataran Tiongkok.

Uniknya, selama ratusan tahun, Cina merahasiakan teknik dan proses pembuatan kertas dari mata dunia. Hingga akhirnya pengetahuan ini pun mulai tersebar ke Korea dan Jepang melalui para pendeta Buddha di tahun 610.

Sekitar satu setengah abad kemudian, tepatnya di tahun 751, yaitu pada masa dinasti Tang, Cina mengalami kekalahan oleh bangsa Arab dalam Pertempuran Talas. Akibat kekalahan tersebut, para prajurit Cina harus menjadi tawanan perang. 

Mereka pun mengajarkan teknik pembuatan kertas kepada bangsa Arab. Hingga akhirnya sebuah pabrik kertas pertama kali didirikan di Samarkhan, Uzbeksitan.

Bangsa arab pun makin getol dalam menjadikan kertas sebagai bagian dari sendi-sendi kehidupan mereka, terlebih di sektor pendidikan dan agama. Hal ini terbukti dengan banyaknya buku-buku maupun karya penting lain yang terbit. 

Mereka menjilid kertas-kertas tersebut dengan cara menjahitnya dengan benang sutra dan menutupnya dengan papan pasta untuk menghindari kelembapan. Puncaknya terjadi pada abad ke 12, di mana banyak toko buku yang bermunculan di Marrakesh/Maroko. Bahkan jumlahnya mencapai 100 toko.

Tak sampai di situ, industri kertas juga menapakkan kakinya di tanah Eropa, tepatnya di Italia. Namun, manufaktur kertas sendiri baru pertama kali diperkenalkan di Mainz, Jerman, pada tahun 1320. Selanjutnya, pabrik kertas komersial mulai dikembangkan di Inggris pada tahun 1588.

Lantas, bagaimanakah sejarah kertas di Indonesia?

Budaya tulis-menulis di Indonesia sendiri disinyalir dimulai pada abad ke 5. Hal tersebut diperkuat dengan adanya bukti temuan Prasasti Kerajaan Tarumanegara dan Yupa dari Kerajaan Kutai. 

Namun, kertas belumlah menjadi media untuk menulis, melainkan batu kemudian logam. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia atau Nusantara sejatinya telah mengenal budaya tulis-menulis jauh sebelum adanya kertas itu sendiri. Kertas diperkirakan baru masuk ke Indonesia saat mengalami kontak dengan budaya asing (Eropa).

Vereenigde de Oost Indische Compagnie (VOC) merupakan organisasi dagang Belanda yang didirikan di Indonesia pada tahun 1602. Melalui sejarah, tentu kita tahu bagaimana kondisi Indonesia pada saat itu. 

Melalui sejarah pula, kita tahu betapa berat perjuangan para pendahulu kita. Namun, di situlah titik di mana Indonesia mulai mengenal kertas dan saat ini kita bisa menuliskan mimpi-mimpi kita di atasnya.

PT Kertas Padalarang (PTKP) atau yang dulu dikenal dengan nama NV Papier Fabriek Padalarang merupakan pabrik kertas pertama Indonesia yang didirikan pada 22 Mei 1922 di Bandung. Pabrik ini merupakan cabang dari NV Papier Fabriek Nijmegen di negeri Belanda. 

Dalam fokusnya, PTKP memproduksi kertas sekuritas, yakni jenis kertas yang memiliki karakteristik khusus dan biasanya digunakan untuk surat-surat penting seperti Kartu Keluarga dan tidak mudah dipalsukan. Selanjutnya, pada tahun 1939 juga, dibangun pabrik kertas Leces di Probolinggo, Jawa Timur.

Dalam implementasinya, kertas berkaitan erat dengan dunia pendidikan, terlebih dalam kegiatan menulis dan membaca; buku, majalah, koran, dan lain-lain. Namun, jika kita memperhatikan lebih dalam lagi, kertas memiliki fungsi dan peranan yang cukup mendetail dalam kehidupan sehari-hari. 

Tetapi hal tersebut luput dari konsentrasi kita. Seperti halnya kertas sebagai pembungkus nasi, kantong belanja, alat pembayaran, hingga pembungkus rokok. Bahkan sejarah kemerdekaan Indonesia juga diawali dengan proklamasi yang diketik di atas kertas. Hebat, bukan?

Dewasa ini, kita sering diperdengarkan dengan istilah Revolusi Industri 4.0. Mulai dari pelajar, mahasiswa, aktivis, rektor, hingga pejabat tinggi negara seperti presiden pun turut menggaungkannya. Revolusi Industri 4.0 seakan menjadi angin segar dalam kehidupan sosial Indonesia saat ini. 

Sebenarnya apa itu Revolusi Industri 4.0? Apa kaitannya dengan eksistensi kertas?

Industri 4.0 adalah nama yang diberikan untuk tren otomatisasi dan pertukaran data saat ini. Ini termasuk sistem cyber-fisik, Internet hal, komputasi awan, dan komputasi kognitif. 

Industri 4.0 biasanya disebut sebagai revolusi industri keempat. Ragam AI di antaranya Artificial Intelligence (AI), Internet of Things (IOT), Unmanned Vehicles (UAV), Mobile Technology (5G), Shared Platform, Block Chain, Robotics dan Bio-Technology. 

Industri 4.0 menghasilkan banyak kreativitas dan kebaruan, yaitu kekayaan intelektual yang perlu dilindungi dan ditegakkan.

Demikian ujar Profesor Lee Chuan Guan yang saya kutip dari situs resmi FIB Universitas Indonesia.

Otomatisasi dalam Revolusi Industri 4.0 didukung dengan adanya digitalisasi. Hal ini memungkinkan segala aktivitas vital yang dilakukan manusia secara daring. 

Kita tak perlu bersusah payah untuk mengeluarkan tenaga yang berlebih sebab semuanya telah terintegrasi secara online. Hal ini adalah kabar baik sekaligus kabar buruk apabila transformasi tersebut tidak dilakukan dengan baik dan benar. 

Hal ini juga dapat mengubah pola pikir dan sudut pandang seseorang dalam menjalankan kehidupannya. Pelan tapi pasti kita telah merasakannya. Salah satunya dalam industri kertas. Sebut saja beralihnya pilihan masyarakat dari koran pagi menjadi e-news, buku dengan e-book, hingga uang tunai dengan e-money. Tetapi apakah kertas benar-benar kehilangan eksistensinya? 

Kemenperin dalam situsnya pada tahun 2017 mengemukakan melalui Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Haris Munandar bahwa pada tahun 2013, Indonesia memiliki 82 industri pulp dan kertas yang terdiri atas 4 industri pulp, 73 industri kertas, serta 5 industri pulp kertas yang terintegrasi dengan kapasitas terpasang sebesar 18,96 juta ton. Data tersebut menunjukkan masih tingginya produksi kertas saat ini.

Sehingga, dapat dikatakan bahwa di tengah derasnya kecanggihan teknologi, kertas tetap memiliki porsinya dalam kehidupan masyarakat. Kertas tetap akan berevolusi dan mengisi sampul buku secara penuh.