Mahasiswi
1 bulan lalu · 211 view · 5 min baca menit baca · Lingkungan 71864_30015.jpg
Eiko Ojala (www.thisiscolossal.com)

Kertas dalam Lingkaran Kehidupan Manusia

Kertas pertama kali diperkenalkan oleh Ts'ai Lun pada abad ke-2 tahun 105 Masehi (ada juga yang menyebut tahun 101 Masehi). Sejak saat itu, penggunaan kertas semakin meluas dan menjadi bagian tak terpisahkan dalam kehidupan manusia. 

Pada awal kemunculannya, hampir seluruh bentuk intelegensi manusia terekam dalam kertas, ditulis dengan runtun, yang kemudian menjadi sumber informasi dan warisan budaya yang tak ternilai. Seiring dengan perkembangan zaman, kertas semakin populer sebagai media baca-tulis.

Kemajuan teknologi percetakan juga turut mengimbangi peningkatan kebutuhan manusia akan kertas. Buku-buku dicetak untuk memenuhi dahaga manusia akan ilmu pengetahuan, berbagai media koran atau majalah dicetak untuk memberikan informasi tentang berita terkini. 

Tidak hanya itu, di atas kertas juga dapat dicetak foto-foto yang mengabadikan momen berharga. Bertukar kabar antar teman, keluarga, dan orang terkasih juga dilakukan dengan media kertas dalam bentuk surat-menyurat.

Saya masih ingat betul perasaan antusias saat menulis buku harian pertama saya di bangku sekolah dasar. Sampai saat ini, saya selalu meluangkan waktu setiap malam selama 15-30 menit untuk menulis buku harian. 

Cerita saya berisi tentang apa yang terjadi pada hari itu dan apa yang akan saya lakukan besok lengkap dengan berbagai hiasan dan gambar yang saya tambahkan ke dalam catatan. Lembar demi lembar kertas tersebut mengandung memori berharga yang tidak lekang oleh waktu. 


Apabila cerita-cerita tersebut dibaca ulang saat ini, sudah dapat dipastikan akan mengundang memori lama berdatangan mengunjungi otak saya, disertai serbuan hormon endrofin yang memacu saya merasakan kebahagiaan dan kehangatan saat mengenang masa lalu.

Kertas menjadi pilihan terbaik yang tak tersaingi untuk mengekspresikan segala ide, inspirasi, dan informasi yang manusia miliki sebelum era digital datang. Setelah era digital berhasil membius manusia dengan segala kemudahannya, istilah Paperless Community yang digaungkan oleh F. W. Lancester pada tahun 1978 menjadi semakin populer. 

Paperless Community adalah kondisi masyarakat di mana komunikasi yang biasa dilakukan dengan kertas seperti dokumen tertulis, surat dan lain sebagainya digantikan oleh komunikasi dan penyimpanan digital.

Memanfaatkan era digital diklaim merupakan langkah yang tepat dan lebih baik, dibandingkan kertas yang dituding sebagai kambing hitam penyumbang kerusakan lingkungan. Namun benarkah demikian? 

Jangan mudah percaya dengan narasi tanpa bukti, keduanya sama-sama memiliki kelebihan dan kekurangan. Lebih lanjut, pembaca yang tertarik saya rekomendasikan untuk membaca tulisan ini. Lantas, apakah hal tersebut mengancam eksistensi kertas dalam kehidupan manusia? 

Tentu ya, namun tidak sampai mengikis habis keberadaan kertas di tengah-tengah manusia justru malah sebaliknya. Faktanya, dalam masyarakat yang semakin modern, permintaan kertas diramalkan akan terus mengalami peningkatan. 

Fungsi kertas tidak lagi hanya sebagai media baca-tulis dan bertukar informasi, melainkan telah merambah di berbagai segi kehidupan manusia. Mulai dari fungsi sebagai pembugkus makanan, alat pembersih, bukti transaksi perdagangan,  hingga sebagai bukti kepemilikan kekayaan manusia dan lain sebagainya. Hal ini membuktikan bahwa kertas telah menjadi bagian penting di kehidupan manusia dan tidak mudah untuk di subtitusi.

Peningkatan permintaan kertas, menuntut adanya peningkatan produksi kertas. Hal ini secara langsung berpengaruh terhadap peningkatan kebutuhan bahan baku kertas yaitu kayu, yang tentu saja berasal dari pohon. 


Tantangan lingkungan yang dihadapi oleh industri kertas berasal dari berbagai sisi dan bukan merupakan hal yang mudah untuk dihadapi. Dimulai dari potensi  timbulnya deforestasi apabila tidak dilakukan penanaman ulang. 

Kalaupun penanaman ulang dilakukan, pohon baru tidak bisa tumbuh dengan cepat dan menggantikan peran pohon yang telah ditebang. Akibatnya, akan terjadi kerusakan habitat yang menyebabkan beberapa jenis hewan tidak dapat bertahan. Hal ini akan mengganggu keseimbangan ekosistem dan rantai makanan.

Berkurangnya pohon sudah pasti akan mengganggu tingkat daur ulang COmenjadi O2. Selain itu, hutan hujan tropis diketahui memiliki lebih dari 210 gigaton karbon yang tersimpan di dalam pohonnya. 

Ketika pohon tersebut ditebang, kita tidak hanya mengurangi suplai oksigen, melainkan juga melepaskan semua karbon yang terkandung di dalam pohon ke atmosfer. Sehingga kadar COdi atmosfer meningkat dan dapat meningmbulkan efek rumah kaca. Kemudian dapat Anda bayangkan masalah-masalah lain yang timbul karena efek rumah kaca ini.

Lalu, dapatkah kita melalukan sesuatu? Mengingat begitu besarnya peran kertas dalam kehidupan manusia dan pentingnya menjaga kelestarian alam, maka sepatutnya kita memang harus bertindak. 

Salah satu tindakan yang dapat kita lakukan adalah daur ulang. Kita harus melakukan upaya konsisten terhadap daur ulang, karena saat ini kita telah sampai pada titik dimana masyarakat perlu berkontribusi untuk membuat ligkungan yang lebih hijau dengan merubah cara pengeloahan limbah pribadi. 

Selalu ingat 3R (Reduce, Reuse and Recycle) dan juga memotivasi orang lain untuk melakukannya. Gunakan kertas daur ulang agar tercipta permintaan pasar yang potensial dan mendorong industri kertas melakukan proses pembuatan kertas yang ramah lingkungan.

Beberapa negara bahkan telah menyediakan tempat sampah khusus untuk kertas. Namun, apakah benar mendaur ulang kertas memberikan dampak positif terhadap lingkungan? Jawabannya adalah ya! Dengan melalukan daur ulang 1 ton kertas, kira-kira sebanyak 17 pohon dapat terselamatkan. 

Lebih sedikit polusi yang dihasilkan dalam proses pembuatan karena serat kertas telah diproses sebelumnya. Menggunakan kertas daur ulang sebagai bahan baku, tetu akan turut membantu melestarikan hutan dengan mengurangi penggunaan kayu. 


Selain itu, energi yang dibutuhkan juga lebih rendah sehingga dapat tercapai pengehematan energi. Di mana mendaur ulang 1 ton kertas akan menghemat 682.5 galon bahan bakar dan 7000 galon air serta 4000 kwh listrik.

Solusi lain yang tidak kalah penting dalam mengahadapi tantangan lingkungan adalah bekerjasama dengan penduduk sekitar pada wilayah dimana industri kertas dilaksanakan. Seperti yang telah dilakukan oleh Asia Pulp & Paper (APP) Sinar Mas. 

Pihak perusahaan memberikan timbal balik kepada masyarakat dalam bentuk edukasi dan pendanaan mengenai tehnik pertanian berkelanjutan. Sehingga diharapkan masyarakat tidak lagi menggunakan teknik tradisional tebang dan bakar untuk membuka lahan pertanian. 

Dilengkapi pula dengan program pencegahan kebakaran hutan yang tidak hanya dilakukan oleh karyawan perusahaan, melainkan juga melibatkan komunitas lokal. Sejak program tersebut diimplementasikan pada tahun 2015, terbukti dapat mengurangi tingkat kebakaran hitan secara signifikan.

Selain itu, APP Sinar Mas juga memanfaatkan limbah dari proses pembuatan kertas yaitu Black liquor sebagai energi untuk proses pembuatan kertas selanjutnya. Black liquor menghasilkan bahan bakar organik yang dapat digunakan untuk memenuhi sekitar 66% dari total kebutuhan energi dalam memproduksi kertas. Hal ini tentu saja sangat menguntungkan, tidak hanya bagi perusahaan namun juga bagi lingkungan.

Inovasi lain yang tidak kalah penting dan bermafaat dari APP Sinar Mas adalah produk kemasan makanan yang sustainable dan recyclable bernama Foopak. Produk kemasan ini tidak menggunakan plastik, melainkan berbahan kertas khusus yang bio-degradable dan hanya membutuhkan waktu 12 minggu untuk dapat terurai. Foopak diharapkan dapat menggantikan kemasan plastik bagi makanan yang tentunya lebih aman bagi lingkungan.

 Intinya, jangan hanya ingin dimanjakan oleh kertas dan menikmati berbagai fungsinya. Melainkan kita juga harus siap dan sigap mengahadapi berbagai tantangan lingkungan yang menyertainya. Karena kertas, lingkungan, dan manusia akan selalu saling terkait satu sama lain.

Artikel Terkait