Saya sering membeli makanan melalui warung maupun dari penjual gerobak. Tidak sedikit dari makanan yang saya beli dibungkus oleh kertas. Makanan yang khas berbungkus kertas seperti nasi bungkus, gorengan, kacang, dan kue kering. Para penjual memiliki banyak stok kertas bekas untuk bungkus makanan mereka.

Beberapa kali saya membeli makanan di tempat yang sama. Saya menemukan fakta yang menarik. Setiap kali membeli makanan, bungkus kertasnya berbeda. Bukan berbeda jenis kertasnya, kertasnya sama, Cuma kertasnya macam-macam. Ada kertas yang tertulis rumus-rumus matematika, ada soal ujian nasional, ada pula hasil laporan, bahkan ada pula tertulis ayat-ayat al-Qur’an.

Saya tidak pernah tahu dari mana para penjual makanan mendapatkan kertas-kertas itu. Memang saya pun tidak bisa menyalahkan si penjual makanan karena menggunakan kertas seperti itu sebagai bungkus makanan. Mungkin itu dia dapatkan dari beberapa orang yang menjual kertas-kertasnya. Atau bisa jadi dia dapatkan dari kertas buku-buku anak-anaknya.

Kertas yang telah tercetak dalam berbagai kebutuhannya sudah pasti memberikan manfaat bagi banyak orang. Kertas betumpuk di rak-rak kantor, sekolah, dan perguruan tinggi. Coba bayangkan ada berapa banyak kertas yang tersebar di dunia ini. Menghitung jumlah penjual makanan, pasti banyak kertas-kertas yang menjadi bungkus makanan.

Proses produksi kertas sangat panjang. Kertas lahir dari batang pohon. Meskipun saat ini banyak yang melakukan proses daur ulang, tetap saja awalnya dari alam. Setelah di proses melalui pabrik, kertas menjadi kebutuhan penting bagai catatan-catatan kehidupan manusia. Kertas itu saksi tak bersuara, tapi mampu merekam makna-makna.

Dari proses demikian, kertas menjadi teman bagi para pekerja, pedagang, dan para pelajar. Di kantor, kertas tertulis laporan, anggaran, kredit kinerja karyawan, dan data-data lapangan. Bagi pedagang, kertas menjadi sarana jual beli, bukti faktual proses pembayaran, bahkan hutang. Bagi pelajar, kertas menjadi buku-buku pelajaran, buku catatan, dan lembar-lembar pengetahuan.

Bagi sejarawan, kertas adalah saksi-saksi sejarah. Di atas kertas atau manuskrip tertuang bukti sejarah sebuah peradaban. Demikian pentingnya kertas (manuskrip), seoarang sejarawan mati-matian berjuang mendapatkannya, membacanya, dan mengungkapkannya.

Bagi agamawan, kertas adalah bagian tak terpisahkan dari peran agama di dunia. Sejarah menerangkan bagaimana kitab suci tertuliskan di atas mushaf (kertas). Melalui mushaf (kertas) itu semua orang dapat memahami agamanya.

Bagi akademisi, kertas adalah kebutuhan primer demi berlangsungnya riset. Di atas kertas itu pada ilmuwan menggoreskan temuan-temuan yang merubah dunia. Melalui kertas itulah kampanye berupa perubahan ilmu pengetahuan terus menerus bergerak secara dinamis.

Hal-hal di atas menandakan bahwa betapa kertas sangat terhormat. Kertas selalu berada di atas meja kerja. Kertas berada di atas meja kerja presiden, tamu-tamu negara, di atas meja mimbar keadilan, dan di atas meja mimbar keagamaan. Kertas berarti dan akan terus berarti bagi dunia ini.

Bahkan, meskipun ditengah digitalisasi, kertas tetaplah kertas. Perubahan arus teknologi ke arah dunia digital peran kertas tidak akan pernah surut. Tanpa kertas dunia digital tidak akan pernah ada. Sebelum dunia digital lahir, pasti membutuhkan coretan-coretan di atas kertas untuk merumuskan dan membuatnya.

Gara-gara berpikiran soal kertas bungkus makanan tadi, saya kemudian berpikir, bahwa ternyata kertaslah yang melahirkan peradaban manusia. Dari semua dimensi kehidupan, sosial, ekonomi, politik, budaya, teknologi, semua berdasarkan kertas dan kertas.

Peradaban ini dimulai dari catatan-catatan. Dari catatan-catatan itu dunia ini berkembang hingga seperti sekarang. Dan, catatan-catatan itu hanya ada di atas kertas. Sadari atau tidak, peradaban kita ini adalah peradaban kertas.

Coba sebutkan jika tidak percaya, hal apa dalam kehidupan ini yang tidak berkaitan dengan kertas. Tidak ada sama sekali, semua pasti bermula dari kertas. Dunia ini saling mengenal, baik sejarahnya sendiri-sendiri, maupun bukan, tak mungkin tanpa kertas yang sangat bersejarah itu.

Kertas sepertinya barang sederhana, tapi manfaatnya tiada bandingnya. Era digital baru-baru ini berkembang, itupun tanpa kertas sudah pasti bukan apa-apa. Hari ini banyak orang bilang beralih dari kertas kepada dunia digital. Lalu kertas dimanfaatkan oleh penjual makanan sebagai bungkus nasi dan gorengan.

Saya renungkan betul, bahwa ternyata rekam hidup saya sendiri tidak pernah jauh dari kertas-kertas itu. Saya memulai membaca dari kertas. Saya mulai mengenal dunia dari kertas. Saya mengenali menulis juga dari kertas. Rasanya seperti tidak terima jika kertas-kertas itu berakhir sebagai bungkus makanan.

Apa sudah tidak berharga kertas bagi dunia ini? Apakah alasan digitalisasi kertas kau jual dan kau gadaikan? Kertas sang pembentuk peradaban yang begitu berarti bagi dunia, berakhir sebagai bungkus nasi, sedih-sakit rasanya melihat fakta ini.

Hingga larut malam saya merenungkan tentang ini, kertas lebih berarti dari apapun. Saya akan ajarkan kepada anak-anaku untuk menghargai kertas. Kertas yang telah mengajari hidup kita. Kertas yang telah setia menemani larut diam sedih dan gembira kita semua.

Rumus-rumus matematika, fisika, juga kebangsaan, bahkan ayat-ayat agama janganlah dijual kalian gadaikan menjadi uang. Melalui sobekan kertas itu, yang saat ini menjadi pembungkus nasi, dari situlah kita belajar tentang hal-hal yang mendasar.

Saya akan tegaskan kepada anak-anakku, jangan pernah buang kertas yang telah mengajarimu berhitung dan membaca. Simpan kertas-kertas itu sebagai penghargaan terhadap pengetahuan. Pula ingat kertas juga dari alam, mengargai kertas juga akan menghargai alam.

Saya merasa bersedih betapa mudah kertas disia-siakan. Melalui tulisan ini saya kampanyekan pentingnya kertas bagi peradaban. Jangan jual dan gadaikan kertas yang berarti bagi hidup kita. Saya mengajak kepada para penjual makanan untuk tidak lagi menjadikan kertas yang berarti itu sebagai pembungkus makanan.

Menyelamatkan kertas, menyelamatkan dunia.