Teacher
1 tahun lalu · 548 view · 5 menit baca · Lingkungan 20253_42770.jpg
https://pxhere.com/id/photo/

Kertas Bekas Dibuang Sayang

Awalnya saya hanya ingin mengajak semua orang agar tidak membuang kertas-kertas bekas yang dimilikinya. Karena semua kertas-kertas bekas yang biasa disebut ‘Sampah Kertas’ bisa didaur ulang. Baik itu koran, kardus, buku, kertas putih, juga kertas-kertas kemasan.  Harganyapun lumayan dibandingkan dengan jenis sampah lainnya. Satu kilogram kardus atau koran seharga dua ribu rupiah.

Sebagai seorang guru yang bertugas mengelola Bank Sampah Sekolah, saya dipertemukan dengan satu fakta. Setiap bulannya jumlah sampah kertas yang dikumpulkan oleh siswa-siswa saya menduduki jumlah terbanyak dibandingkan sampah plastik. Pernah dalam waktu satu bulan terkumpul sampah kardus sebanyak 51 kilogram, buku dan majalah sebanyak 68 kilogram, dan kertas duplek sebanyak tigapuluh kilogram. Jumlah yang menurut saya cukup banyak.

Dewasa ini kertas tidak lagi hanya berfungsi sebagai media tulis. Ia juga berfungsi sebagai kemasan seperti kardus, kertas kado, dan kertas duplek; Sudah berfungsi sebagai alat makan seperti piring kertas dan gelas kertas; Sudah berfungsi sebagai produk seni seperti origami dan papercraft. Penggunaan yang semakin beragam ini telah memungkinkan siapa saja menjadi penghasil sampah kertas atau kertas bekas.

Kertas-kertas bekas ini ternyata merupakan bahan baku sekunder pembuat pulp atau bubur kertas. Selanjutnya diolah menjadi berbagai produk turunan kertas seperti kertas kemasan dan koran. Lebih dari setengah pabrik kertas yang ada di Indonesia telah menggunakan kertas bekas sebagai bahan bakunya. Sayangnya, kebutuhan akan kertas bekas ini tidak bisa dipenuhi oleh negeri kita sendiri.

Indonesia tercatat pernah mengimpor kertas bekas dari Eropa, Amerika juga Cina. Dari 60 juta ton kebutuhan kertas bekas hanya 2,5 juta ton yang berasal dari pasokan dalam negeri. Hal ini disampaikan oleh Pranata - Kasubdit Industri Selulosa dan Karet Kementerian Peridustrian pada tahun 2013 lalu. Bagaimana dengan sakarang? Masihkan impor kertas bekas dilakukan?

Sekitar dua bulan yang lalu saya berbincang dengan salah satu pengepul yang khusus mengambil kertas bekas yang terkumpul di sekolah. Ia mengeluhkan karena kertas bekas lokal yang ia kumpulkan kalah bersaing dengan ‘Kertas Impor’. Kertas impor yang ia makduskan adalah kertas bekas impor.

Ketua Umum Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI) – Arya Guna Dalam – mengatakan bahwa industri kertas masih memiliki beberapa hambatan. Salah satunya adalah sulitnya mendapatkan pasokan bahan baku berupa kertas bekas.

Tentu saja kertas bekas yang dimaksud adalah kertas bekas impor. Karena hambatan yang satu ini terkait dengan Peraturan Menteri Perdagangan No 31 Tahun 2016 tentang Ketentuan Impor Limbah Non Bahan Berbahaya Beracun. Hal ini disampaikan Arya Guna Dalam dalam pelantikan pengurus APKI periode 2016-2021 di Kemenprin, Senin (30/1/2017).

Selanjutnya, Misbahul Huda – Ketua Umum APKI periode sebelum Arya Guna Dalam – menyatakan bahwa impor kertas bekas sulit dihindari. Kertas bekas impor ternyata memiliki kualitas yang lebih baik dan harga yang lebih murah dibandingkan kertas bekas lokal. Hal ini juga disampaikan Misbahul Huda di Kemeprin, Kamis (8/9/2016).

Dari pernyataan ketiga orang ini bolehlah kiranya saya menyimpulkan bahwa Indonesia masih impor kertas bekas sampai saat ini. Dengan mengacu kepada waktu dan tahun penyampaiannya. Karena sementara ini saya belum bisa menyertakan data tentang jumlah impor kertas bekas setidaknya untuk tahun 2016 sampai tahun 2017.

Tingginya impor kertas bekas memang dipicu oleh banyak alasan. Secara jumlah pasokan kertas bekas lokal memang dirasa kurang, hanya mampu memenuhi tiga puluh persen kebutuhan yang ada. Jumlah yang masih sedikit ini pun harus bersaing secara kualitas dan harga dengan kertas bekas impor. Selain itu pengumpulan kertas bekas di Indonesia sendiri dinilai belum efisien.

Kualitas kertas bekas lokal dirasa rendah karena berasal dari serat yang tidak lagi virgin. Sudah diolah berulang kali. Selain itu penyebabnya adalah kebiasaan masyarakat kita yang masih memperlakukan kertas bekas yang menurut saya kurang tepat. Kertas bekas sebaiknya jangan digunakan sebagai pembungkus makanan.

Hal itu menjadikan kertas bekas kurang bagus jika diolah atau didaur ulang kembali. Berdasarkan pengalaman saya pribadi, kertas bekas yang dikumpulkan oleh siswa-siswa saya masih sering dicampur dengan sampah yang lain. Sehingga beberapa kertas bekas menjadi basah, kotor, berbau, dan berminyak. Ini pun juga bisa mengurangi kualitas kertas bekas.

Baiklah mari kita tinggalkan dulu masalah kualitas kertas bekas lokal yang dinilai masih rendah. Mari kita berfokus kepada jumlah pasokan kertas bekas lokal yang masih sedikit. Karena saya pribadi merasa miris mengetahui bahwa untuk kertas bekas pun Indonesia masih harus impor.

Pasokan kertas bekas lokal yang masih sedikit ini bisa jadi juga dikarenakan jumlah ketersediaannya yang masih kurang. Bukan hanya kerena kualitasnya yang rendah.  Mungkin beberapa diantara kita masih suka membuang kertas bekas yang kita hasilkan. Sehingga kertas-kertas bekas itu hilang jejaknya karena bercampur dengan sampah-sampah lain.

Bukan tanpa alasan saya berani mengatakan hal ini. Sejak bergelut dengan sampah-sampah yang bisa didaur ulang terutama kertas, saya jadi suka memperhatikan banyak hal terkait sampah. Entah itu tong sampah, tempat pembuangan akhir (TPA), selokan, maupun tempat-tempat umum.

Di tempat-tempat tersebut saya masih menemukan banyak kertas bekas yang terabaikan begitu saja. Terutama kertas bekas berupa kemasan makanan yang biasanya terbuat dari kertas duplek.

Boleh saja kita berdalih bahwa kita hanya menghasilkan sedikit kertas bekas. Paling-paling hanya kemasan kertas dari pasta gigi, susu bubuk, atau sabun mandi yang dibeli sebulan sekali. Kalaupun dikumpulkan harus berapa lama agar terkumpul banyak. Lalu mau dikemanakan? Tidak banyak waktu yang dimiliki untuk mengurus kertas bekas yang tidak seberapa itu.

Saya mengatakan, apapun kondisinya kurang tepat untuk dijadikan alasan. Mengumpulkan kertas yang sudah kita pakai tidak rumit selama kita mau melakukannya. Cukup sediakan satu tempat.

Jika sudah terkumpul banyak panggil saja pengepul yang kita kenal dengan nama ‘Tukang Rongsokan’ untuk mengambilnya. Dengan senang hati mereka akan melakukannya. Apalagi kalau diberikan secara cuma-cuma. Kepada mereka kita sekaligus bisa belajar jenis kertas apa saja yang masih bisa dijual kembali.   

Kembali kepada tujuan awal saya, bahwa saya hanya ingin mengajak semua orang agar tidak membuang kertas bekas yang dihasilkannya. Pertama, kertas bekas ternyata bisa didaur ulang kembali. Kedua, untuk memenuhi pasokan kertas bekas Indonesia ternyata masih harus impor. Kedua fakta ini rasanya cukup mampu untuk menjadi alasan kita agar tidak lagi membuang kertas bekas.

Kita selaku pengguna kertas dan penghasil kertas bekas mari melakukan apa yang kita bisa. Urusan kertas bekas lokal yang katanya kualitasnya masih kalah dibandingkan kertas bekas impor biarlah itu menjadi urusan para pelaku industri kertas. Saya sendiri berprinsip selama pengepul tidak menolak jenis kertas bekas yang saya kumpulkan, maka saya tidak akan membuangnya. Jadi, mulai saat ini jangan membuang kertas bekas!  

Artikel Terkait