Kendatipun sekarang kita hidup di era digital tapi rutinitas keseharian kita masih tak bisa lepas dari benda ringan bernama kertas. Secanggih apapun teknologi, yang segala sesuatunya bisa diwakili oleh mesin maupun robot tapi kebutuhan terhadap kertas tetap tak dapat diwakilkan. 

Contoh sederhananya ada pada diri saya sendiri. Sebagai seorang ibu rumah tangga tulen yang dalam keseharian bergelut dengan seabrek pekerjaan rumah, sebenarnya semua yang saya kerjakan tak ada sangkut pautnya dengan dunia perkertasan.

Namun setiap bertandang ke pasar untuk berbelanja kebutuhan pokok sehari-hari dan lainnya, saya selalu celingak-celinguk mencari kertas kosong untuk merincia apa-apa saja yang hendak saya beli. 

Di pasar saya juga tak bisa menolak ketika ibu-ibu pemilik kedai dengan sigapnya mengemas pesanan saya menggunakan lembaran-lembaran kertas bekas yang sudah disiapkan bertumpuk di lapak mereka. Mulai dari aneka macam bumbu dapur, taoge, ikan pindang, ikan teri, kue basah, nasi pecel, cangkir kopi, jepit rambut, kaos dalam anak, bra hingga celana dalam pria dan wanita, rata-rata kesemuanya dibungkus menggunakan kertas. 

Mungkin inilah yang dinamakan rantai perjalanan kertas. Dari yang semula diburu dan dibeli dengan harga mahal, bahkan beberapa orang harus rela menabung selama berbulan-bulan lamanya demi dapat membeli buku setebal lemari, baik itu buku yang beraliran fiksi ataupun non fiksi, juga majalah, surat kabar, tabloid, kertas HVS, duplex, kertas koran, NCR, dsb demi tugas di lingkup pendidikan, pekerjaan ataupun kepentingan lainnya, namun pada akhirnya buku dan kertas-kertas yang dibeli dengan susah payah tersebut dengan demikian gampangnya berubah status menjadi barang rongsokan. 

Kisah perjalanan kertas-kertas itu harus berakhir secara tragis dan menggenaskan. Ketika sudah habis masa dibutuhkan kertas-kertas yang sebagian merupakan ceceran dari buku-buku tersebut akan diambil alih pemanfaatannya oleh para pedagang makanan atau yang lainnya. Dan nasib kertas tidak hanya berhenti pada fase ini. 

Setelah dipakai sebagai pembungkus kertas-kertas tersebut akan terlempar begitu saja ke dalam tong sampah oleh ratusan orang, dari puluhan rumah dari ribuan sekolah, instansi perkantoran, masyarakat yang lalu lalang, dan sebagainya. 

Jika terkumpul keseluruhan jadilah sampah-sampah kertas yang menggunung Everest di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Dan tidak perlu terheran-heran jika beratnya mencapai berton-ton saking banyaknya.

Kadangkala kertas-kertas pembungkus belanjaan itu sesampainya di rumah saya telanjangi satu demi satu. Ada soal-soal ulangan anak SD, catatan kegundahan hati seorang remaja, coretan angka-angka (soal Matematika), robekan buku bacaan anak-anak, komik, koran serta serpihan-serpihan sebuah majalah, foto copy tabel-tabel yang tidak saya mengerti dan lain-lain. 

Sebagai perempuan yang sedikit memiliki ketelatenan, biasanya pembungkus-pembungkus kertas yang berisi tulisan bermanfaat serupa artikel atau resep-resep masakan, pengobatan alami, tips-tips membersihkan karpet, atau peralatan dapur, catatan hikmah kehidupan, dsb maka akan saya gunting serapi mungkin. Kemudian saya tempel di buku agenda yang merangkap sebagai buku administrasi ibu rumah tangga. 

Apabila kertas dalam kondisi basah terkena cipratan air atau noda minyak bekas pembungkus kue, gorengan, dan sejenisnya dengan tanpa segan saya akan menjemurnya terlebih dahulu hingga benar-benar kering. Setelahnya saya selipkan tisu pengharum untuk menghilangkan aroma kurang sedap yang melekat di kertas

Jika sewaktu-waktu dibutuhkan, potongan artikel tersebut akan sangat bermanfaat sekali. Namun, tidak semua orang punya fikiran yang serupa tentunya. Karena tak semua orang suka dengan dunia baca membaca. Dan tak semua orang mau peduli dengan sesuatu yang dianggap remeh dan cuma sampah belaka. 

Adakalanya kertas-kertas sisa dijadikan sebagai bahan bakar utama pengganti minyak tanah di tungku dapur. Hanya saja di zaman modern yang segalanya serba praktis dan cepat seperti sekarang ,alat pemasak tungku sudah jarang sekali digunakan. Hampir seluruh masyarakat dari pelosok pedesaan hingga perkotaan sudah menggunakan alat masak yang lebih efektif dan efisien yakni kompor gas dengan tabung elpijinya. 

Jadilah kertas-kertas sebagai barang yang tak bernilai sama sekali, bahkan dikasih gratispun tidak akan ada yang sudi menerimanya. Nyumpek-nyumpeki omah! (bikin sesak rumah). Itulah alasan dari sebagian besar orang. Yang akhirnya kertas-kertas tersebut larinya tetap saja ke keranjang sampah.

Habis manis sepah dibuang adalah peribahasa yang cocok disandangkan pada kertas-kertas tak berdosa ini. Kertas-kertas menangis meratapi nasibnya yang hanya dimanja dan disanjung-sanjung pada saat permulaan saja. Tak jarang pula mereka (kertas-kertas) mendapatkan kecupan manis yang mengharu biru dari sang pemiliknya. Namun setelah bosan dan tak diperlukan, mereka didepak hingga merana terkapar-kapar di akhir hayatnya. 

Pedihnya, tak ada seorangpun manusia yang mau peduli dengan rintihan para kertas yang bernasib malang ini. Sungguh kejam, manusia! Jerit sekumpulan kertas sedemikian pilunya. Setelah keberadaannya dirasa tak berguna lagi, kertas dianggap sebagai barang penganggu alias sampah. 

Apabila dibakar dalam takaran berton-ton akan menimbulkan polusi udara yang membawa dampak tidak baik untuk kesehatan. Dikubur di dalam perut bumi juga bukan solusi. Kertas-kertas yang disatukan dengan tanah tanpa melalui proses daur ulang menyumbang besar efek pemanasan global. Bumi yang kita pijak lambat laun akan mengalami kerusakan dan terasa semakin memanas. Sungguh fenomena yang sama sekali tak diharapkan, bukan?

Suatu waktu ada pesan masuk di aplikasi whatsapp saya. Dari abang sulung yang bekerja di perusahaan kertas yang merupakan anak cabang dari PT. Jawa Pos Indonesia yang berpusat di wilayah Gresik Jawa Timur. 

Cari dan kumpulin kertas-kertas bekas yang sudah tidak terpakai, sebanyak mungkin, nanti abang beli. 

Sampah-sampah kertas? Buat apa memangnya abang mau bangun rumah pakai kertas? Sembari saya sisipin emoticon ngakak berjejer-jejer. Benak saya menari-nari. Pasti Abang saya sedang mengada-ada. Karena memang tabiatnya suka melucu.

Abang membalas dengan emoticon ketawa juga. 

Bukan lah. Tapi bisa pula iya. Abang punya usaha sampingan sekarang. Membeli kertas-kertas bekas dalam jumlah banyak. Minimal 10 kilograman lah.

Ohya? Terus abang apakan kertas-kertas itu? (tanya saya penasaran —masih dalam obrolan WA)

Abang jual ke pabrik tempat abang kerja. Nanti kertas-kertas bekas tersebut diolah kembali oleh mesin-mesin pabrik. Alias didaur ulang.

Ooww, Apa semua jenis kertas bisa, Bang??

iya kumpulin aja. Lebih banyak lebih bagus. Nanti sekilonya abang hargain sekian. Lumayan lho buat bantu-bantu suamimu atau untuk jajannya anak-anak. Nanti dua minggu sekali abang datang untuk angkut kertas-kertasnya.

Boleh juga,Bang. Akan aku coba, nanti aku info kembali kalo kertasnya udah terkumpul banyak. Ok!

Sejak itu saya gentol ngumpulin kertas-kertas bekas. Segala macam kertaslah pokoknya. Sampai-sampai tak ada satu lembar kertaspun yang luput dan terbuang cuma-cuma. Tidak hanya itu, saya kabarkan pula ke para tetangga, kerabat, serta teman-teman yang berada di sekitaran rumah maupun tetangga luar kampung agar tidak membuang kertas-kertas bekas yang mereka punya. 

Karena kertas-kertas bekas tersebut bisa diuangkan, dijadikan penghasilan sampingan, dan menjadi sumber mengalirnya pundi-pundi rupiah. Pada umumnya orang-orang akan lebih tertarik ketika disebutkan uang. Dikumpulin yang rapi, nanti saya beli. Saya sengaja mengcopypaste kata-kata abang kandung saya di obrolan whatsapp tempo hari. 

Perkilonya saya patok harga di bawah harga yang disebutkan abang. Selisih antara 1000-1500. Jika abang membeli dari saya sekilonya 5000, saya mengambil dari yang lain harga 3000-3500 perkilonya. 

Selain menguntungkan dan membawa angin segar dari segi ekonomi, pemberdayaan kertas-kertas bekas benar-benar membawa dampak yang signifikan pada pengurangan sampah kertas. Abang saya tak hanya mengambil kertas-kertas bekas dari satu tempat saja melainkan juga dari kenalan-kenalannya yang berada di berbagai kota. Di samping sampah kertas menjadi berkurang drastis, kertas pun tidak lagi menjadi benda yang tercampakkan. 

Kertas-kertas bekas yang didaur ulang akan menjadi lembaran-lembaran baru untuk menampung tulisan cetak, tulisan tangan dan berbagai kegunaan lain sesuai jenis kertasnya. Prosesnya akan berulang secara terus menerus dan berputar sebagaimana kegiatan manusia berjalan. 

Dengan adanya proses daur ulang kertas, ancaman pemanasan globalpun sejatinya bisa diminimalisir sedini mungkin. Dan untuk melakukan itu, belumlah terlambat. Karena siapa yang punya peran besar menyelamatkan lingkungan, selain kita. Ya, kita.