Wiraswasta
1 bulan lalu · 54 view · 3 min baca menit baca · Lingkungan 87904_22200.jpg
Foto: Kompas

Kertas, Antara Pasar dan Paradigma Lingkungan

Seorang konsumen kebanyakan cenderung berpikir pendek dalam membeli suatu produk. Mereka cenderung tidak berpikir jauh tentang efek negatifnya setiap produk yang dibeli, baik terhadap dirinya maupun pada lingkungannya. 

Barangkali sedikit orang yang selektif dalam memilih suatu produk dengan pertimbangan jangka panjang. Secara umum, mereka akan membeli begitu saja jika produk tersebut dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dan harganya terjangkau.

Kita sering melihat iklan yang mempromosikan produk-produk dalam negeri dengan kalimat “belilah produk-produk dalam negeri”. Hal ini merupakan upaya menyusupkan sentimen nasional terhadap pasar. 

Namun pasar tetaplah pasar yang memiliki hukumnya sendiri yang berlaku. Seberapa besar pengaruh budaya itu tidak akan mengubah jalan pasar dalam memilih produk yang mana yang layak dibeli atau tidak oleh konsumen.

Demikian juga halnya dengan kasus kertas. Jika industri kertas dalam mempromosikan produk-produknya didasarkan atas paradigma lingkungan, bukan melalui hukum pasar yang berlaku, maka produk-produk kertas akan menemui jalan buntu untuk menembus pasar jika dibandingkan dengan produk-produk lain. 

Artinya, jika mencampuradukkan pasar dan budaya, maka tentu akan sulit bagi industri kertas menemukan jalan menuju pasar.


Jika kita mengamati, pada dasarnya pasarlah yang banyak menentukan budaya kita, bukan sebaliknya. Jadi, budaya mengonsumsi produk-produk yang dianggap ramah lingkungan tidak bisa dilakukan hanya dengan mengubah pandangan tentangnya.

Jika produk tersebut memang layak di pasar, orang-orang dengan sendirinya akan memiliki kebiasaan untuk membeli produk tersebut, sehingga lama-lama menjadi membudaya. Dengan kata lain, bukan pemahaman tentang lingkungan yang menentukan orang membeli produk tertentu, tetapi kelayakan dikonsumsi dari suatu produklah yang akan menentukan paradigma seseorang.

Kita bisa melihat kenyataan tersebut dalam banyak kasus. Misalnya rokok. Betapa pun orang didoktrin untuk tidak merokok karena alasan kesehatan, konsumsi terhadap rokok tetap tidak dapat dibendung. Bahkan sekalipun bungkusnya dikasih peringatan dan bahkan sekarang telah dilengkapi dengan gambar orang sakit yang mengerikan akibat efek buruk merokok, orang-orang cenderung tidak terpengaruh dengan hal itu.

Kenyataan pasar berkata lain. Rokok menjadi begitu laris. Sama halnya juga dengan produk-produk plastik tetap saja laris manis, bahkan bagi orang-orang yang mengerti bahwa plastik tidak ramah lingkungan.

Hal itu menunjukkan bahwa kelayakan secara ekonomis yang menentukan nasib suatu produk. Artinya, bukan paradigma tentang negatif atau positifnya suatu produk, karena umumnya konsumen tidak berpikir panjang tentang itu. 

Bagi mereka, yang penting dapat memuaskan kebutuhan hidupnya dan harganya terjangkau, maka mereka akan membelinya. Mereka tidak akan berpikir jauh efek negatifnya, baik pada dirinya maupun pada lungkungan secara umum. Pemahaman tentang baik-buruknya terhadap lingkungan hanya dapat membantu, tapi bukan yang utama atau tidak menentukan larisnya suatu produk di pasar.

Edukasi tentang suatu produk dalam kaitannya dengan lingkungan memang perlu. Akan tetapi, akan susah kalau suatu perusahaan berangkat dari sudut pandang itu agar konsumen cerdas, agar dapat memilih produk mana yang baik bagi lingkungan. 


Mereka kebanyakan memang tidak akan peduli. Mereka bahkan tidak peduli pada dunia mendatang, misalnya bagaimana keadaannya ketika anak cucunya, generasinya yang akan mendiaminya. Cara berpikir konsumen itu sangat reaktif, tidak reflektif, dan begitulah sikap konsumen.

Pertimbangan konsumen adalah petimbangan ekonomis, bukan pertimbangan budaya atau suatu paradigma tentang lingkungan. 

Edukasi bisa terus dilakukan. Tetapi yang utama perlu dilakukan bagi industri kertas adalah menuntut dirinya yang cerdas. Artinya, memikirkan agar masyarakat membeli produk-produknya, tapi di satu sisi produk tersebut ramah terhadap lingkungan.

Dengan kata lain, di samping produk tersebut layak di pasar, tapi produk itu sendiri telah ramah lingkungan. Jadi dengan sendirinya, begitu konsumen membeli produk tersebut, dia telah membeli produk yang ramah lingkungan sekalipun dalam pikirannya tidak demikian.

Oleh sebab itu, industri kertaslah yang perlu memikirkan kelayakan produknya, baik di pasar maupun pada lingkungan. Kalau tidak, nasibnya akan sama dengan produk-produk dalam negeri yang kalah dengan produk-produk luar negeri, karena mereka menuntut masyarakat yang punya pertimbangan bahkan sentimen nasional, sementara mereka sendiri tidak mengembangkan kualitas produknya.

Artikel Terkait