Banyak di antara kita pasti tahu dengan  rumus fisika yang sangat terkenal  E=MC2 ? Paling tidak, minimal pernah membaca atau mendengar saat bahasan energi pada mata ajar fisika di sekolah menengah. Rumus relativitas  yang diciptakan oleh Albert Einstein tersebut menjadi sangat penting dan legendaris. Bahasan disini bukannya akan mengupas apa penjelasan rumus tersebut dan bagaimana Einstein bisa mendapatkannya.

Kita akan coba jawab mengapa rumus relativitas tersebut bisa menjadi begitu melegenda melampaui waktu. Siapa yang paling berjasa memperkenalkan dan menyebarluaskan kehebatan rumus tersebut ke kalangan dunia ilmiah dan masyarakat umum? Jawabnya, kertas. Ya, boleh percaya boleh tidak, kertas.

Einstein menerbitkan rumus temuannya  pada artikel 3 halaman di jurnal ilmiah tidak jelas pada tahun 1905. Jurnal tentulah sekumpulan kertas-kertas yang berisi tulisan-tulisan ilmiah. Andai rumus dan paparan Eistein tetap tertinggal di papan tulis tanpa ditulis ulang dan dibukukan pada kertas. Sejarah dunia akan berbeda. 

Lebih jauh ke belakang, kertas mempunyai andil besar dalam sejarah dunia. Sejak abad sebelum Masehi hingga abad modern dewasa ini. Apa yang akan terjadi dengan peradaban dunia andai manusia tidak menemukan kertas? Mengapa manusia bisa menemukan kertas? Atau memang kertas harus hadir dalam peradaban manusia, baik secara  secara kodratiah dan lini masa?

Mempercepat Evolusi

Waktu peradaban mulai berdetik, begitu di zaman purba manusia mulai bisa membuat dan memakai peralatan kayu dan batu sederhana untuk berburu dan bertahan hidup. Kendati catatan arkeologis menyebut lahirnya peradaban ditandai dari hasil olah pikir dan upaya manusia dalam bercocok tanam, budidaya pangan dan beternak terutama di dataran subur dan lembah-lembah tepi sungai di Tiongkok, Asia Selatan dan  Timur Tengah sekitar ribuan tahun lalu. 

Semua pergeseran dan perubahan peradaban berlangsung dalam tatanan waktu yang seperti berurut dan perlahan, hingga kemudian muncullah kawasan dimana masyarakat menetap, terbentuk desa kota dan jalur transportasi, baik melalui darat, sungai dan laut.  Itulah evolusi, yang dijelaskan dengan baik sebagai sistem tiga zaman: Zaman Batu, Zaman Perunggu  dan Zaman Besi (https://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_dunia).

Penemuan kertas bukan evolusi, tapi revolusi baru sejak manusia mengenal aksara, lambang dan sistem tulis sejak zaman purba. Sebelum adanya kertas, media tulis menulis mulai dari lempung tanah liat, batu, kayu, bambu, kulit atau tulang binatang, sutra, bahkan daun lontar yang dirangkai seperti dijumpai pada naskah naskah Nusantara beberapa abad lampau. Baru pada tahun 105M, seorang pegawai biasa di kerajaan Tiongkok kuno, Cai Lun, mempersembahkan contoh penemuan barunya  pada Kaisar yaitu kertas.

Kertas ciptaan Cai Lun telah mengubah dunia. Bagaimana sumbangsih seorang PNS biasa di zaman itu, menjadi catatan revolusi baru, dengan kertas membangkitkan peradaban dan mempercepat penyebaran pengetahuan. Penemuan dan cara membuat kertas kemudian dirahasiakan oleh Tiongkok selama ratusan tahun. Karena Tiongkok paham siapa pemilik pengetahuan akan menguasai dunia. Sejarah mencatat bahwa sejak itu Tiongkok memimpin kemajuan peradaban manusia, setelah penemuan kertas ini, mulai dari  diciptakannya  kompas dan mesiu serta masih banyak lagi.

Baru pada abad ke-8, rahasia ini bocor ke tangan bangsa Arab dan kemudian menyebar ke Eropa saat Perang Salib. Kertas bertanggung jawab atas semua aliran sejarah ini. Langkah revolusioner cara distribusi ilmu pengetahuan. Revolusi dalam bobot dan kepentingan yang sama baru muncul kemudian saat Revolusi Industri (apalagi dengan penemuan mesin cetak) dan sekarang Revolusi Digital.

Anak Sulung

Bagaimana jika roda lini masa terbalik,  andaikata ternyata teknologi digital lahir lebih dulu dibanding penemuan kertas? Memang sudah kehendak langit, dalam kenyataan kertas harus lahir lebih dulu sebagai putra sulung peradaban, agar peradaban, budaya dan pengetahuan bisa berkembang cepat memberi manfaat sebanyak-banyaknya bagi umat manusia.

Peradaban di awal tahun Masehi adalah ibarat keluarga muda yang tengah menanti datangnya anak pertama, anak sulung yang diharap-harap sebagai anugerah dan rasa syukur atas berkat illahiah bagaimana bisa berkembang menjadi keluarga yang baik. Penemuan kertas, lahirlah anak sulung yang cepat tumbuh dewasa mempercepat munculnya penemuan-penemuan lain, mempercepat evolusi peradaban manusia sampai ke tingkat yang mencerahkan pada masa itu. 

Kisah tentang anak sulung, peran penting dan ketokohannya juga banyak disinggung dalam bacaan alkitabiah baik secara Kristiani dan agama lain. Kitab Kejadian 2:55,60  menyebut anak sulung mempunyai derajat tertinggi sesudah bapak-nya, dan jika si bapak alpa, anak sulung mempunyai otoritas atas adik-adiknya.  Lalu bagaimana kisah nabi Musa menerima firman Tuhan untuk mencatat semua anak sulung Israel yang berumur satu bulan ke atas dan menghitung jumlah mereka (Bilangan 3:40-41). Secara metaforik anak sulung digambarkan mempunyai hak istimewa, peran khusus dan spesial. Itu sebabnya, kertas juga pantas disebut anak sulung peradaban.

Peran Kertas

Seberapa besar peran kertas dalam kehidupan Anda?  Coba hitung, ada berapa ratus kali kalian menyentuh kertas dalam sehari sejak bangun tidur hingga kembali tidur? Itu peran sehari-hari. Ditilik dari bobot sejarah, teks proklamasi Indonesia diketik di atas kertas, dibacakan Sukarno dengan kertas. Kalau tak ada kertas tentu tak pernahlah kita dengar kisah surat-surat  Kartini "Habis Gelaplah Terbitlah Terang". Novel-novel bersejarah, surat cinta romantis, sertifikat, surat nikah, lahir, berbagai jenis kartu, bahan cetakan, menulis, melukis, hidangan makan, slip ATM  hingga urusan remeh temeh keperluan toilet. Semua kertas.

Saya saja masih senang membaca buku-buku tebal dengan memegang secara fisik nyata, bukan dengan membaca secara daring. Sensasinya berbeda. Saya berarti termasuk segolongan konsumen setia yang bisa betah berlama-lama membolak-balik bacaan, melihat-lihat gambar baik di majalah atau buku. Secara psikologi merasakan kedekatan secara emosional dengan buku dan kertas tersebut. Beberapa ahli psikologi juga menyebut kertas dan tulisan menjadi media alat didik untuk anak dan melatih mengendalikan rasa dan emosi.

Anda ingat waktu SD ada pelajaran menulis halus kasar? Semua dilakukan di kertas, di buku tulis. Bagaimana melatih kesabaran, menggoreskan tarikan pensil membentuk huruf dan kata memakai perasaan dengan halus dan sabar. Secara bawah sadar, bagaimana terjalin komunikasi antara media kertas dan penulis. Apa mungkin tulisan halus kasar dilakukan di layar hp android atau tablet? Belum lagi pancaran radiasi dari layar ponsel, tablet atau komputer membuat mata cepat lelah.

Diakui dengan ramainya teknologi gital, beberapa peran kertas mulai tergantikan tapi belum secara signifikan. Perpustakaan besar selain mulai menyediakan katalog online juga masih tersedia buku-buku biasa. Selembar bahan tipis, yang dihasilkan dengan kompresi serat yang berasal dari pulp, baik yang  alami, dan mengandung selulosa dan hemiselulosa. Peran kertas sangat berharga, penting dan bisa jadi, pantas masuk kebutuhan pokok.

Kembali ke pertanyaan tadi: bagaimana jika roda lini masa terbalik,  andaikata ternyata teknologi digital lahir lebih dulu dibanding penemuan kertas? Kelak, akan ada kertas digital, tekstur dan rasa serupa kertas namun dengan dimensi teknologi hologram 3D. Masih sulit menjelaskannya. Ah..andai Einstein masih hidup sekarang, mungkin dia bisa membantu.


sumber :

https://id.wikipedia.org/wiki/Kertas