3 minggu lalu · 269 view · 4 min baca · Sejarah 97730_80450.jpg
Twitter

Kertas Adalah Ibu

Dari Kartini hingga Pramoedya

Setiap manusia yang berkepala dan berjantung sudah barang pasti pernah menggunakan kertas dalam segala macam fungsi dan tujuan selama hidupnya. Pengunaan fungsi dan tujuan kertas pun berbeda-beda menyesuaikan zamannya. 

Namun, ada beberapa penggunaan kertas yang dari dahulu sampai sekarang konsisten fungsi dan tujuannya; kertas sebagai media tulis. Penggunaan ini madep mantep sampai sekarang.

Penggunaan kertas sebagai media tulis mulai digunakan pada tahun 105 SM, yaitu pada awal mula ditemukannya. Maksud dari ditemukan kertas adalah melalui proses pembuatan dengan melakukan pencampuran berbagai macam bahan dasar secara eksperimen oleh seorang Cina. 

Ts’ai Lun, ialah orang pertama yang berhasil menemukan kertas dari usahanya sendiri. Ts’ai Lun bekerja sebagai pejabat pemerintahan pada masa Dinasti Han.

Sampai detik ini, sampai pada pembaca, penemuan Ts’ai Lun masih digunakan semua orang di jagat raya ini. Seiring berjalannya waktu, berkembangnya teknologi, berkemajuannya peradaban, kertas sebagai media tulis masih bereksistensi pada semua bidang. Hampir tiap pekerjaan di dunia ini membutuhkan kertas sebagai penunjang kesuksesan tugas atau kerjaan. 

Konselor membutuhkan kertas untuk mencatat infromasi dan bahasa tubuh kliennya. Wartawan membutuhkan kertas untuk mencatat informasi di lapangan. Dokter membutuhkan kertas untuk mencatat nama, umur, tempat tinggal pasien. Penyiar radio membutuhkan kertas untuk mencatat hal-hal yang akan dibicarakan pada saat siaran. Dan masih banyak pekerja dari berbagai bidang yang tak mungkin bisa lepas dari kertas.

Kalau menengok ke belakang pada sejarah kertas, akan lebih sedap jika ditambahi “bumbu” pergulatan kertas pada orang-orang bersejarah di negeri kita. Bagaimana jika kita mundur sampai zaman pergerakan wanita Jawa mula-mula dengan Kartini sebagai “icon” dan zaman angkatan 45 dengan Pramoedya Ananta Toer sebagai “icon"-nya?

Kartini dan Kertas


Kartini, perempuan bangsawan Jawa, ayahnya seorang bupati Jepara itu juga tak terlepas dari tumpukan-tumpukan kertas dalam hidupnya. Kartini yang dikenal sebagai “ibu pembela perempuan”, “pencetus kemajuan wanita Indonesia” sejauh ini secara umum dikenal hanya seorang perempuan yang menjalani pingitan lalu menikah dan tak lama setelah menikah ia meninggal. Sebenarnya, Ibu kita Kartini itu dikenal dunia karena tulisannya.

Tulisannya yang menjelaskan betapa kejamnya feodalisme, anak perempuan yang berumur 12,5 tahun (dalam suratnya) dipaksa memasuki “kurungan” tembok tebal dengan empat pilar. Tak hanya itu, beliau juga menuliskan pikiran-pikirannya bagaimana seharusnya perempuan-perempuan Jawa mengalami kemajuan. 

Kertas begitu berperan dalam perjuangan Ibu kita Kartini ini. Kertas bagian dari elemen lain perjuangan Kartini, selain pena, pikiran, dan keberanian. Bayangkan saja, kalau tidak ada kertas, Kartini hendak menulis di atas apa yang dapat disuratkan ke sahabat penanya di Belanda?

Estella Zeehendelaar, Lesty kawan sekolah rendahnya, Nyonya Abendanon, Dr. Adriani, Nyonya Nelly van Kol, Nyonya M.C.E Ovink-Soer, Nyonya H.G. de Booij-Boisevain, Prof. Dr. G.K Anton, dan lainnya yang tak tertulis. Kepada merekalah kertas Kartini mendarat sebagai bukti kegunaan kertas sebagai media tulis yang mengabadi sampai detik ini.

Pramoedya Ananta Toer dan Kertas


Pram -- begitu sapaan akrab kawan-kawan kepadanya. Pramoedya Ananta Toer, nama yang diberikan oleh seorang kepala sekolah milik pergerakan Boedi Oetomo di Blora bernama Mastoer Imam Badjoeri. 

Pram seorang sastrawan yang sudah tak asing lagi di negeri ini maupun negeri orang lain. Namanya melanglang buana jauh sampai keabadian. Itu semua karena usahanya: menulis.

Pram menghabiskan seluruh hidupnya untuk menulis. Bahkan “obsesi”-nya menuju keabadian adalah sebab dari menulis. Jika seluruh hidupnya untuk menulis, setengah hidupnya yang lain ia habiskan dari penjara ke penjara. 


Iya, memang ia dipenjara, bukan sebagai kriminil, tetapi sebagai penulis. Memang, Jenderal besar negeri kita, Presiden yang 32 tahun menakhodai kapal besar Indonesia dengan segala kebocorannya pada tiap sisi dan sudut begitu takutnya pada penulis dan tulisannya.

Ada cerita tak terlupakan dari Pram ini. Pada saat ditahan di Pulau Buru, ia sudah dikenal sebagai penulis. Ia diperbolehkan menulis di sana tentu dengan syarat dan ketentuan berlaku, juga dengan segala keterbatasan yang ada. Salah satu keterbatasannya adalah kertas. 

Saking membutuhkannya, seorang tawanan bernama Oei Hiem Hwei mencarikan kertas bungkus semen lalu dipotong-potong seukuran kertas pada umumnya. Setelah itu, dipakailah oleh Pram untuk mengetik dan sampai sekarang kertas tersebut masih disimpan Oei Hiem Hwei diperpustakaan pribadinya di Medokan Ayu Surabaya. 

Doa terbaik untuk Pak Oei yang sampai sekarang masih menjaga dan merawat keabadian.

Kertas dan Perkembangan Teknologi

Tanda zaman sudah maju, teknologi sudah berkembang adalah melakukan hal yang susah menjadi mudah. Seperti, berkirim kabar pada keluarga, saudara, kerabat, dan kekasih. 

Pada zaman belum ditemukannya handphone, orang-orang berkirim kabar melalui surat. Estimasi waktunya bisa berhari-hari bisa minggu dan bulan tergantung ke mana surat tersebut hendak dialamatkan. 

Sekarang, di era teknologi yang katanya four point zero, aplikasi-aplikasi media sosial mengambil alih posisi kertas sebagai media untuk dituliskannya pesan. Hanya dengan menekan satu tombol dan menunggu sepersekian detik, pesan yang hendak kita kirimkan sudah sampai pada penerima tanpa membeli perangko dan mengirimnya ke kantor pos.

Whatsapp, Line, Instagram, Twitter, bisa dikatakan sebagai perpanjangan dari kertas. Kertas juga adalah awal mula Whatsapp dan teman-temannya tersebut. Dalam struktur kekeluargaan, kertas adalah ibu. Kertas adalah rahim lahirnya anak-anak Whatsapp, Line, Instagram, Twitter.

Sebagaimana seorang ibu, kita harus menghormati, menyayangi, dan berbakti pada Ibu Kertas. Menghormati dengan cara tidak menghambur-hamburkan. Menyayangi dengan cara merawat kumpulan-kumpulan kertas. Berbakti dengan cara menulis. 

Kita harus tetap menulis. Menulis di atas kertas di tengah-tengah kemajuan zaman. Jangan hilangkan kebiasaan berpikir, kreatif, dan berani tersebut.

Kalau di bawah telapak kaki ibu ada surga, maka di balik punggung kertas juga ada jalan menuju surga, yaitu keabadian.

Artikel Terkait