Di tulisan sebelumnya tentang kertas, saya menuliskan kertas dalam bentuk; bisa dikatakan macam hikayat, mulai dari sejarah singkat, kegunaan kertasnya, how if tidak pernah ditemukan kertas dalam kehidupan manusia, sampai bagaimana industri kertas membangun ekonomi umat manusia. 

Oh ya, saya juga membahas kertas tetap bertahan walaupun era digital kini sudah mulai dialami oleh umat manusia modern. Kali ini, tulisan saya sekadar tulisan keresahan tentang kertas dan manusia.

Kertas adalah manusia, dan kita adalah kertas. Kiranya kalimat tersebut tidak berlebihan untuk dikatakan. Bagaimana? Bukankah kertas pada masa kini tentunya memiliki andil sangat besar dalam peradaban umat manusia, bahkan dari sebelum manusia itu lahir? 

Contohnya, sebelum lahiran, dalam tradisi kebanyakan orang Indonesia, beberapa melakukan tasyakuran. Mulai 1 sampai 12 bulan, ada beberapa bulan yang kerap dianggap penting untuk dirayakan. Dan, tentu tak aneh jika menggunakan undangan manual berupa kertas. 

Iya, betul sekali. Kita belum lahir pun kertas sudah menulis keberadaan kita ke khalayak ramai.

Berlanjut hingga lahiran. Nama yang tertulis, dokumen kelahiran dan bahkan catatan biaya kelahiran tertera semua di kertas. Tandanya, sedari manusia belum lahir, kita sudah dikenalkan dengan kertas. 

Iya, saya paham boleh jadi ini hanya manusia di perkotaan. Tapi manusia di perkotaan adalah penduduk yang paling padat dalam suatu negara, bukan? Dan, masyarakat desa pun juga pasti menggunakan kertas walau hanya lahiran di bidan. 

Kembali ke kertas. Dengan demikian, kertas turut andil dalam serpihan hidup kita. Mulai dari lahir, tuh!

Apa lagi? Kitab suci contohnya. Oke, ada agama yang telah turun sebelum kertas ditemukan. 

Tapi, apakah kalian sadar? Konteks masa kini, semua kitab suci sudah menggunakan kertas. Itu kertas yang sama, yang sehari-hari kita gunakan untuk menulis pelajaran dalam sekolah; kertas yang kita gunakan untuk menempel pengumuman di dinding sekolah, untuk majalah, dan lainnya. 

Ya, bedanya hanya kertas itu menjadi sakral dan suci karena isinya adalah pesan dari Tuhan. Oke, saya tidak akan membahas esensi dari hal tersebut, namun hanya ingin sekadar info saja. Ingat, ini tulisan kertas.

Pernah tidak berpikir kalau selama ini bukan kertas yang zalim ke kita? Iya, kita, umat manusia. Maksudnya, hari ini sedang masif tentang peduli lingkungan hidup. Penggunaan kertas harus dibatasi dan penebangan hutan harus dikurangi. 

Penggunaan kertas sebagai alat bantu akademik juga kini makin dikurangi. Seperti, pengiriman tugas melalui surel dan penggunaan power point sebagai alat bantu presentasi dibanding kertas. 

Itu salah sekian beberapa contohnya. Tapi, lucunya manusia di bumi ini, menulis save earth tapi menuliskannya di kertas lagi! Aduh, alangkah lucu.

Terus, tidak usah jauh-jauh, pernah beli gorengan? Iya, gorengan literally gorengan pinggir jalan yang seringkali kita beli untuk dimakan sembari ngobrol dengan teman-teman. Bungkus gorengan itu adalah kertas, kan? Dan, kertasnya itu bukan kertas khusus makanan kawula muda! Itu kertas sisa ulangan, bahkan skripsi. 

Tuh, coba lihat, kita menyemarakkan gerakan cinta lingkungan, masif melakukan petisi kepada perusahaan penghasil kertas, tapi kita sendiri saja masih belum benar menggunakan kertas. Duh, payah sekali.

Ayo, sadar! Ini sudah tahun berapa, abad berapa, dan milenium berapa? Toh, tidakkah malu kita melakukan hal baik? Nyatanya kita malah melakukan hal buruk. Ingat, walaupun kecil, hal buruk tetap buruk! 

Kertas itu ada macam banyaknya, begitu pun dengan tupoksi (tugas, pokok, dan fungsi) yang sudah diberikan ke masing-masing kertas yang sudah ada. Nah, apa iya kita masih tega untuk menggunakan kertas semena-mena? Kasihan Tsai Lun, sudah capek menciptakan kertas untuk membangun peradaban umat manusia, justru manusianya sendiri yang merusak. Kan, kocak?

Saya paham, tulisan saya kali ini boleh jadi tidak akan mengubah banyak hal. Ya, manusia akan tetap ada hitam dan putihnya. Tapi, ini kesadaran penuh saya. Tanda saya peduli bahwa kertas demikian penting dalam berbagai aspek, dan kita tidak boleh menyakitinya. 

Jangan sampai kita tidak pakai otak dan malah bersantai saja. Nanti sudah rusak ekosistem, kita malah menyalahkan satu pihak. Bodoh, tak becus, dan sangat menyebalkan. Manusia macam ini yang kadang perlu diberikan ruqyah supaya sadar. 

Duh, maaf ya jika emosional. Bukan apa-apa, saya hanya mencoba mengambil sudut pandang lain saja. Dan, memang agak hiperbolis jadinya. Ya, memang begini. Maaf.

Selebihnya, mari dan ayo kita lakukan mulai dari kecil. Dengan menyebut nama Tuhan, yang Maha Baik dan Maha Penyayang, saya yakin, manusia masih bisa berubah. 

Terkesan naif memang. Tapi bukan hal buruk untuk berpikir positif seperti demikian, bukan? Oke, saat ini sampai di sini dulu. Jika ada kesalahan, mohon koreksinya.