aku ingin masuk angin
supaya rinduku ke ibu
dapat terobati dengan
kerokan koin

Jatijejer, 2019


Ingatan Tentang Angin

Pada rona senjakala baka
aku terbang di cakrawala kata
Padanya aku bertanya
anginku berlarian
di mana rimbanya?

Cakrawala kata menyuruhku
ke samudra rindu
mencari anginku
yang kerap bermain-main di situ
dengan ombak-ombak kelu
dan karang-karang kelabu

yang kelak akan menjadi saksi
atas segala kenangan ilusi
antara aku dan angin sang buah hati

Aku terbang ke pelangi mimpi
sebab angin selalu berucap ingin abadi
dalam sunyi dan sepi

Kupandang pelangi sepuas hati
tiada yang abadi
tiada sunyi juga sepi
Hanya kujumpai keriuhan ambisi
dan hamparan keramaian imajinasi mimpi
yang tak tahu diri

Aku lihat masa lalu yang melulu bisu
kutemukan anginku membatu kaku
meratapi kenangan-kenangan dulu
merintihkan rintik-rintik sendu

Aku ingin angin masuk ke rahimku yang fana
Aku berlari mengejarnya
secepat cahaya pusa
merangkulnya dalam kehangatan Surga
mendekapnya dalam samudra keabadian Nirwana
dan terus menjaganya dalam bahana-bahana ria

Kini fajar di pelupuk matanya yang biru
telah menjelma burung-burung
yang bersarang di hatiku

Kening yang dulu
selalu kucumbu
sisakan kenang
yang menderu-deru

Seminari Tinggi Providentia Dei Surabaya, Februari 2020


Nelayan

dan Kau pun
menangkapku
dengan jarring-jaring
CintaMu

dan Kau pun
memanggilku
dengan lambaian pancing
SabdaMu

dan Kau pun
menyegarkanku
dengan gelombang-gelombang sunyi
yang Kau namakan itu
Abadi

Seminari Tinggi Providentia Dei Surabaya, Februari 2020


Pintu

Ketuklah maka pintu
akan dibukakan bagimu
kuketuk pintu berulang kali
sebab rindu membutuhkan
kehangatan hati

Seminari Tinggi Providentia Dei Surabaya, Maret 2020


Imajinasi Pensil

Jika aku adalah pensil
maukah kau menjadi selembar kertas
yang siap aku tulis
kisah tentang cinta,
kisah tentang kita?

Jika aku adalah pensil
maukah kau menjadi selembar kanvas
yang siap aku lukis
tentang senja dan pemandangan di laut lepas
saat kita duduk bersama
yang sibuk membuat perahu kertas?

Jika aku adalah pensil
maukah kau menjadi Surga
untuk aku lukis sketsa tentang kita
yang sedang asyik memakan buah simalakama
tanpa tahu berapa banyak jumlahnya?

Jika aku adalah pensil
maukah kau menjadi kamus
yang selalu siap aku tulis semua kosakata
tentang aku, kamu, dan cinta?

Jika aku adalah pensil
maukah kau menjadi penghapus
yang selalu menemani
di kala senja dan sepi
saatku melakukan kesalahan di sana sini?

Jika aku adalah aku
dan kamu adalah kamu
maukah kau mencintaiku

dengan segenap hatimu
dengan segenap jiwamu
dan dengan segenap akal budimu?

Jatijejer, Januari 2019


Imajinasi Kelaparan

Lihatlah anak itu
Bergoyang-goyang
tapi bukan seorang penari latar
apalagi penari tradisional
di panggung hiburan

Perut anak itu.
Terdengar meraung-raung sendirian
seperti seekor singa
yang mencari mangsa di hutan

Lawanlah dia
teguh dengan makanan

Mojokerto, September 2018


Pencuri

Orang itu pergi ke kerumunan itu,
Dengan sadar
dan tak tahu malu.

Seorang diri
dengan pakaian lusuh kumuh,
Tak beralaskan sandal
apalagi sepatu.

Seorang lain datang dari kerumunan
Dengan penuh harap
dan kasih sayang mengatakan.

Pergi!
Pergilah kamu dari sini
Jangan sekali-kali
kau mencuri di sini!

Orang itu pergi,
sedang Tuhan membuntuti,
dan meninggalkan mereka,
yang sedang asyik berdoa dan bermeditasi,
untuk dirinya sendiri.

Rembang, Juli 2019


Dendang Fajar 

Aku terenyak dari tidurku
Puluhan suara datang dari luar jendela kamar
Upacara penyambutan
datangnya sang surya dari peraduan

Memang,
Inilah pesta pembukaan dunia
dari gelapnya malam yang telah sirna

Burung-burung tak henti bernyanyi
Tupai melompat kesana-kemari
Rumput teki menari-nari
dengan lihai bersama merpati.
Ikan di kolam naik turun air seraya berkata

“Aku ingin berdiri, aku ingin mentari.”

Semua turut berdendang di tengah fajar
Untuk menyambut sang mentari bersinar
Aku melonjak bagaikan kijang
sambil berlari juga berteriak minta hari

“Hai matahari ! Kemarilah! Inilah hari ini !”

Jatijejer, Mojokerto, Senin, 9 April 2018


Tersayang

Bapak – Ibu
Seribu misteri selalu menanti
Suka, duka, tawa, tangis, dan sukacita,
menanti bak setianya burung merpati

Beribu gunung begitu agung
Seagung alam ciptaan Tuhan
Seagung cintaku pada bapak ibu yang tak tertahankan

Pak – Bu
Jutaan pengalaman telah terkenang
Banyak kisah akan datang
Aku mohon doa dan restumu,
Selalu, selamanya pada bapak ibu tersayang

Bapak – Ibu
Pernahkah merpati berkata sayang
Pernahkah gunung mengucap rindu tak tertahankan
Pernahkah misteri bertutur bangga menawan
Selamanya,
TIDAK !!!

Aku disini
Selalu mengatakan semua itu dalam hati
Pada bapak – ibu
Dalam doa
Pada Tuhan setiap waktu
Di kala sibuk ataupun luang dalam rindu

Pak – Bu
Aku bangga sekali pada kalian
Aku sayang pada kalian
Aku sangat rindu tak tertahankan
Doakan anakmu ini yang tersayang

Bapak – ibuku tersayang

Jatijejer, Mojokerto, Minggu, 18 Maret 2018