Saya mulai heran dengan cara pandang sebagian akademisi yang menganggap sastra adalah bacaan kaki lima. Sastra tidak lebih hanyalah bacaan sampingan yang tidak memiliki urgensi apa pun dalam khazanah intelektual. Tidak sedikit dari mereka juga menganggap bahwa kerja sastra adalah kerja yang paling gampang.

Menulis sastra umumnya dipahami hanya sekadar bertumpu pada daya imajinatif penulis. Cara pandang yang kemudian mendiskreditkan sastra dalam lingkungan akademis. Seolah sastra tidak memiliki keterkaitan apa pun dengan studi ilmiah. Setidaknya begitulah yang saya rasakan di lingkungan kampus saya sendiri.

Di kampus saya, entah sengaja atau tidak, ada semacam standarisasi bacaan bagi mahasiswa, di mana anak-anak yang kedapatan membawa buku-buku bacaan berat dinilai lebih serius mengikuti perkuliahan ketimbang mereka yang menenteng buku-buku sastra. Beberapa dosen akan lebih simpati dengan Anda yang membawa buku rujukan mata kuliah daripada Anda yang dengan percaya diri membaca “Ayat-Ayat Cinta”-nya Habiburrahman.

Tapi saya sedikit maklum dengan hal tersebut karena konteksnya adalah perkuliahan. Lumrahnya orang kuliah ya memang harus ready stock buku-buku rujukan terkait kurikulum yang diajarkan. Saya mulai jengkel ketika para akademisi tersebut secara terang-terangan merendahkan kedudukan sastra—mengklasifikasikannya ke dalam daftar baca yang semestinya bukan prioritas.

Ketersinggungan saya mencapai titik kulminasi ketika salah seorang akademisi menyinggung soal cara kerja sastra yang baginya tidak berdasarkan riset yang matang. 

Ceritanya, November tahun lalu, saya iseng-iseng mengikuti Sekolah Literasi (edisi) 3 yang diadakan oleh kawan-kawan pegiat literasi Malang dari Komunitas Gubuk Tulis. Salah satu sesi dalam forum tersebut salah satunya mengenai penulisan ilmiah dengan mengundang seorang doktor dari salah satu perguruan tinggi di Malang. Saya lupa namanya, tapi yang jelas beliau ini terbilang produktif dalam menulis jurnal-jurnal berbasis ilmiah.

Lima belas menit terakhir sebelum dilanjutkan sesi tanya jawab, Pak Doktor ini membeberkan maksud istilah “produktif”  dalam dunia kepenulisan. Bagaimana seseorang bisa dikatakan sebagai penulis yang produktif?

Pak Doktor menjelaskan: seseorang bisa disebut produktif bukan dilihat dari seberapa banyak tulisan atau buku yang dia hasilkan dalam satu bulan, melainkan dari seberapa matang tulisan tersebut dipersiapkan. Menurut Pak Doktor, bagaimana bisa seseorang menulis tiga sampai lima judul dalam kurun waktu hanya satu bulan? 

Bisa dipastikan kalau tulisan tersebut lahir dari proses yang ngawur dan serampangan. Produktif dalam perspektif Pak Doktor adalah maksimal menulis dua judul buku dalam satu tahun, namun buku tersebut ditulis berdasarkan telaah mendalam atas data-data literatur yang memadai dan riset lapangan yang mendukung.

Secara implisit,  pemaparan Pak Doktor saya tafsirkan tertuju kepada para sastrawan. Logika saja, siapa yang bisa menerbitkan tiga sampai lima buku hanya dalam satu bulan kalau bukan para sastrawan? Pada saat itu bayangan saya secara otomatis berkelebat sosok Puthut EA (Kepala Suku Mojok) dan Edi AH Iyubenu (Bos Besar Diva Press).

Pasalnya, dua penulis yang berdomisili di Jogja tersebut sejauh ini menjadi penulis yang paling ugal-ugalan dalam menelurkan karya. Apalagi pada bulan tersebut, Mas Edi juga sedang meluncurkan tiga buku terbarunya yang konon dirampungkan dalam waktu hanya dalam satu bulan saja. 

Pernyataan Pak Doktor bagi saya tentu bertendensi merendahkan para pekerja sastra. Atau katakanlah, sastra berada satu level di bawah jurnal-jurnal ilmiah

Untungnya, dalam sesi setelah itu yang menjadi pembicara adalah Mas Edi. Mas Edi pun memberi pandangan mengenai kerja sastra yang dipandang dengan mata sebelah. Komentar Mas Edi mengenai situasi tersebut: siapa bilang menulis karya sastra itu asal nulis dan sembarangan? 

Menulis sastra justru membutuhkan ketajaman rasa dan kejernihan berpikir, yang mana aspek tersebut amat jarang diperhatikan oleh para akademisi. 

Dua aspek tersebut mengharuskan seorang sastrawan untuk membumikan bahasa langit, menurunkan bahasa yang tinggi dan rumit agar mudah dipahami oleh pembaca dari beragam latar belakang. Berbeda dengan tulisan ilmiah yang cenderung mempersulit bahasa yang semestinya mudah dipahami sehingga terkesan bertele-tele.

Saya dan barangkali Mas Edi sebenarnya tidak pernah ingin bersengketa pandang mengenai lebih hebat mana antara akademisi dengan sastrawan? Sebab kami mengamini betul bahwa sastra dan kajian ilmiah bukanlah dua hal yang lain sama sekali. Keduanya adalah dua unsur yang harusnya bisa bersinergi dalam menciptakan suatu bacaan yang berkualitas dan sarat muatan. Sebut saja tokoh sejarawan sekaligus sastrawan kita: Kuntowijoyo. 

Betapa melalui karya-karyanya dia telah menegaskan: kekuatan tulisan terletak pada basis data yang matang, sementara sastra adalah ruhnya. Namun melihat tingkah para akademisi yang menyudutkan sastra, saya perlu melakukan resistensi untuk mengenalkan sastra bukan sebagai bacaan kelas dua.

Saya juga tidak sependapat jika sastra disebut tidak berdasarkan proses riset yang panjang dan mendalam. Siapa bilang? Ada sekian contoh yang menunjukkan bahwa suatu karya sastra lahir dari telaah yang mendalam atas sisi lain kehidupan manusia. 

Mas Edi harus mengkaji kitab-kitab induk tasawuf sebelum menuliskan “Langit dan Bintang-Gemintangnya: Perahuku Berlayar di Samudera Syekh Abdul Qadir al-Jailani”. Faisal Oddang harus menelusuri data-data terkait ekstremisme DI/TII di Sulawesi sebelum menulis “Tiba Sebelum Berangkat”.

Sebelum diskursus Etnografi masuk untuk meneliti karakter kelompok masyarakat tertentu, karya besar berjudul “I La Galigo” sudah hadir memberi deskripsi tentang karakter masyarakat maritim Sulawesi. Atau beberapa penulis lain yang bahkan harus jadi bagian dari suatu komunitas masyarakat sebeleum menuliskan mini research-nya tersebut menjadi sebuah bacaan yang mudah diterima.

Atau begini saja, jika Anda merupakan seorang akademisi dan kebetulan amat sentimentil dengan para pegiat sastra, saya tegaskan, satu-satunya orang Indonesia yang berhasil masuk nominasi peraih nobel adalah Pramoedya Ananta Toer. Ya, nominator penerima anugerah nobel tersebut justru dari kalangan sastrawan, bukan akademisi. Dan itu satu-satunya, sampai hari ini.

Satu lagi, leluhur bangsa kita mayoritas juga para sastrawan, loh. Sebut saja nama-nama sekaliber Mpu Tantular, Mpu Prapanca, RNG. Ranggawarsita, Ki Ageng Suryamentaram, dan lain-lain. Itu masih yang dari Jawa, belum yang  dari belahan lain Indonesia.