William Shakespear, seorang penulis drama dan sastrawan terkenal di Inggris dan Issac Newton melahirkan karya justru di tengah situasi sulit Pandemi di Inggris pada `1606. Misalnya, William Shakespeare melahirkan karya King Liar, sebuah drama yang terkenal hingga kini, di tengah pandemi yang melanda Inggris saat itu. Demikian pula halnya dengan Newton yang mengembangkan teori optik. Mereka diuntungkan karena jenis kelamin mereka adalah laki-laki. Mereka tak perlu melakukan peran-peran domestik yang justru sangat diperlukan dalam situasi wabah saat itu.

Pada konteks ini, kita bisa melihat bahwa justru pandemi memberikan keuntungan pada para akademisi, ilmuwan, dan sastrawan laki-laki. Para laki-laki ini dalam bidang ini pun dinilai semakin produktif. Sebaliknya, perempuan yang berkecimpung dalam bidang akademisi justru terbelenggu dalam jeratan beban ganda, antara menghasilkan produktifitas untuk kerja-kerja ilmiah dan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan domestik. Namun, di sisi lain kerja ranah domestik tidak pernah dianggap sebagai kerja produktif. Perempuan akademisi yang selama setahun tak menghasilkan karya akademik apa pun pasti akan terjerat dalam label "mandul karya". Tentu label ini sangatlah menyakitkan. 

Namun, di sisi lain, kerja-kerja domestik bisa dikatakan berjasa besar bagi penanganan pandemi. Domestifikasi perempuan memang semakin bertambah namun tanpa pelayanan itu manusia mungkin tak memiliki sejarah selamat dari pandemi. Pelayanan/caring merupakan akibat yang harus dipikul perempuan karena konstruksi gender tradisional yang melekat padanya. Kerja ini pun semakin bertambah karena pada posisi seperti wabah saat ini, ia tidak hanya sebagai care giver tetapi care taker. Saya tidak mencoba membenarkan konstruksi tradisional ini, tapi saya mencoba memaparkan apa yang terjadi di masyarakat.

Seorang ibu/perempuan yang sudah menikah, sebelum wabah menyerang posisi gender tradisional yang melekat padanya adalah care giver. Karena beban budaya yang dititipkan pada pundaknya, ia mengerjakan hal-hal seperti menyiapkan makanan sehari-hari, membersihkan rumah, dan mungkin juga merawat anak. Tapi, selama wabah menyerang, beban kerjanya menjadi bertambah, dia harus memastikan agar keluarganya tidak terserang Corona. Wabah datang, ia seolah dibebankan menjadi dokter atau perawat keluarga. Caranya, untuk menjaga kesehatan imunitas keluarga, kerjanya bertambah memastikan jamu tersedia setiap hari. Maka beban ini menjadi berlipat, yang semula adalah care giver bertambah menjadi care taker yang berarti ia diberikan beban untuk menjaga agar keluarganya selalu sehat.

Kerja-kerja domestik semacam ini cenderung dilabelkan sebagai unpaid work atau bisa juga kerja dengan upah rendah. Bagi perempuan miskin, yang dia  juga barangkali adalah tulang punggung keluarga, situasi Pandemik semacam ini akan sangat sulit karena beban kerja mereka akan semakin berlipat; pencari nafkah, mengerjakan pekerjaaan domestik ditambah harus merawat kesehatan keluarga.

Oleh karena itu, Istilah work from home tidak akan pernah berlaku bagi perempuan. Selama ini, justru rumah itu sendiri adalah tempat kerja bagi perempuan. Justru barangkali, akan sangat memungkinkan masa-masa ini menjadi beban tambahan pekerjaan perempuan di rumah.

Seorang Ibu, yang dalam budaya masyarakat diberikan tugas sebagai pengasuh keluarga menganggap masa-masa WFH barangkali merasa senang bahkan sebaliknya. Namun, bisakah ia terus merasa senang jika ia harus hidup seperti di neraka bersama pasangan yang abusif?

Di seluruh dunia, yang telah menerapkan lockdown terdapat laporan tingkat kekerasan dalam rumah tangga meningkat demikian dengan perempuan yang mengalami depresi. Di Cina, menurut laporan the gloeandmail.com pada tanggal 29 Maret 2020, bahwa di bagian selatan Propinsi Hubei, Jianli, polisi melaporkan bahwa kejadian kekerasan domestik meningkat 3 kali lipat pada bulan February, dibandingkan tahun lalu. Sementara itu, di Australia, Perdana Menteri Scoot Morrison juga mengakui ada lonjakan pencarian bantuan kasus kekerasan domestik  selama di berlakukan kebijakan mirip  lockdown di sana.

Sementara, di Indonesia, belum ditemukan data tentang peningkatan kasus kekerasan domestik semenjak diberlakukannya anjuran dari pemerintah untuk kerja, belajar, dan beribadah dari rumah.

Tapi tentu kita bisa menanyakan pada diri sendiri, selama di rumah mungkinkah kita tidak mengalami depresi sama sekali? Tentu depresi akan dialami oleh siapapun yang aktivitas publiknya lebih tinggi daripada domestik. Tapi, tidak menutup kumungkinan siapapun yang terbiasa di ranah domestik bisa jadi terbebani ketika harus setiap hari melayani mereka yang terbiasa di ranah publik. Kenapa? Karena beban domestik mereka bisa jadi bertambah.

Bagi laki-laki, yang kerap berada di ranah publik, kemudian dia 'dipaksa' untuk berada di rumah sepanjang waktu, tidak mungkin ia tidak depresi. Jika ini terjadi pada laki-laki yang punya bibit abusif atau dia sudah abusif sejak awal, akan sangat mungkin angka kekerasan domestik meningkat. Dengan demikian, asumsi peningkatan kekerasan domestik di Indonesia tidak bisa diabaikan. Mengatasi pandemi tidak semakin memburuk sama pentingnya dengan melakukan tindakan agar perempuan tidak semakin depresi atas beban ganda yang dialaminya terlebih apabila ia mengalami kekerasan kekerasan domestik tidak semakin buruk di masa sulit ini.