Waktu sudah tak lagi terhitung. Ribuan tahun dalam putaran kehidupan. Dijalani Sang Ratu dengan tanpa lelah. Hanya dengan membawa setitik harapan yang tersisa. Bagai sehelai rambut dibelah menjadi tujuh.

Ke mana lagi Sang Ratu harus mencari sang putra. Yang menghilang bersama kecewa di hatinya. Di utara tak ada. Di timur tak ada. Di selatan tak ada. Di barat juga tak ada.

Tak jemu-jemu seperti memecah ombak. Sang Ratu pun sampai menyeberangi lautan ke Yunan. Namun, tetap saja yang dicari tak ada di sana.

Sang Ratu kemudian merintih sendiri di kegelapan. Berderailah air mata kepedihan. Tangisan darah pun membanjiri lautan malam. Ia benar-benar putih mata karena memandang*.

Tak tega melihat penderitaan Sang Ratu,. Sang Bayu pun membawakan sajak-sajak kerinduan Sang Ratu ke segenap ruang dan waktu. Sampai Sang Ratu berada di ambang waktunya.

Sang Ratu memang sudah tak lagi bisa menangis. Bahkan senyumnya pun telah lama hilang dan menjadi beku. Apalagi saat dunia mengenang kejayaan. Juga kemuliaannya di masa lalu.

Dia memang dikenal sebagai ratu adil. Meski ia merasa tak adil bagi dirinya sendiri. Juga bagi putra mahkotanya yang telah menghilang. Setelah mendapatkan keadilan darinya.

Dia memang ratu adil. Dunia pun mengakuinya. Bahkan, berita Cina juga mencatatnya dalam sejarah. Tetapi, adilkah ia menurut Sang Maha Adil?

Kesedihan Sang Ratu akhirnya memang tak pernah berujung. Sesaat setelah hatinya teriris di puncak keadilannya. Kerinduan tak lagi sanggup menjaga hatinya. Kematian tak membuatnya usai. Kesucian hatinya pun tak sanggup membebaskan keterikatan kasihnya. Yang agung sebagai seorang ibu yang sejati.

Sang Ratu akhirnya kembali memutari siklus kehidupan yang tak pernah usai. Mencari sang putra yang telah menghilang. Setelah memotong kakinya sendiri. Sebagai tanda kepatuhannya kepada hukum Sang Ratu.

Kepergian sang putra mahkota memang meninggalkan sesal yang begitu mendalam bagi Sang Ratu. Surga atau pun neraka menjadi tak lagi berarti baginya. Hingga Sang Ratu akhirnya menembus segenap ruang dan waktu. Mencari sang putra mahkota yang menghilang bersama kecewa di hatinya.

Sang Ratu pun bahkan sampai harus menembus alam hakikat. Alam antara ada dan tiada. Namun, tetap saja yang dicari tak ada di sana.

Sang Ratu kembali mencari dan terus mencari. Karena sejuta bintang yang menghiasi langit malam, tak kan bisa menggantikan satu bintangnya yang telah beralih dari pandangannya. Seperti hidup di dalam kematian. Demikianlah, kerinduan hati Sang Ratu.

Ia memang sosok ratu yang kuat. Ratu yang dicintai seluruh rakyatnya. Teguh pendirian dan rela berkorban demi keadilan yang dianutnya. Namun demikian, ia juga tetap sosok ibu yang lembut dan rapuh, ketika ditinggalkan oleh sang putra pergi ke timur dan lenyap di kegelapan rimba belantara.

Kerajaannya memang laik bersinar terang pada masanya. Bagai cerlang kuasar di alam semesta. Karena memiliki seorang ratu yang cantik, anggun, teguh pendirian, cerdas dan tegas. Sekaligus kelembutan hati yang luar biasa.

Sang Ratu kembali menyusuri ruang dan waktu. Mencari sang putra mahkota yang menghilang seperti angin. Mencari dan terus mencari. Bersama kenangan nyidam buah kecapi yang manis-asam-harum-segar saat mengandung sang putra. Sejenak cukup mampu menghibur hati Sang Ratu yang tak lagi utuh.

Dan tatkala sajak Kerinduan Hati Sang Ratu. Yang mengungkap seluruh kepiluan ratapan hati Sang Ratu diembuskan oleh Sang Bayu. Dunia pun akhirnya bergetar…

"Bila yang kucari memang tak ada di mana pun, mungkinkah aku yang sebenarnya tak ada?"

Pada angin yang selalu setia mendengar sajak-sajak indahnya. Rintih pilu hati Sang Ratu itu pun terungkap. Di dalam salah satu bait sajak terakhirnya. Yang menunjukkan kepasrahan telah menaungi jiwanya.

Sang Ratu kini memang benar-benar tepat berada di ujung waktu. Ia pun akan kembali beranjak menuju putaran kehidupan berikutnya. Mengulangi sejarah. Kembali menjadi ratu dan kembali merasakan kepiluan hati. Dalam menjalani seluruh kehidupannya.

Namun, saat sajak terakhirnya itu diembuskan Sang Bayu ke segenap ruang dan waktu. Siapa yang menyangka ada sesosok manusia sejati. Telah memutus putaran siklus kehidupan. Dengan keikhlasannya yang sempurna.

Dan dengan putusnya putaran waktu. Maka, Sang Ratu pun akhirnya mendapatkan keadilan yang sejati. Tak hanya sebagai seorang ratu. Tetapi, juga sebagai sesosok pribadi, sebagai seorang ibu.

Seluruh semesta pun akhirnya berubah. Dunia baru dan cakrawala baru akhirnya datang. Membawa damai bagi seluruh makhluk. Tak ada lagi keterikatan dan kisah yang berulang. Semua lebur dalam keikhlasan manusia sejati.

Tetapi, siapakah manusia sejati itu? Tak ada satu pun yang mengenal sosoknya. Tak juga bintang-bintang yang bertebaran di langit malam. Hanya jiwa Sang Ratu yang tiba-tiba bergetar bahagia. Sesaat sebelum ia menutup mata.

Ternyata, hanyalah ia satu-satunya yang mengenali ketulusan hati sosok itu. Meski tak bisa melihatnya. Akhirnya Sang Ratu dapat tersenyum untuk yang pertama. Setelah ribuan tahun kehilangan senyumannya.

Adalah berkah dan anugerah dari Sang Maha Adil. Kerinduan hati Sang Ratu, akhirnya lebur dalam keikhlasan yang sempurna.

Di bawah langit malam yang bertabur keheningan, 23 Agustus 2021

 

* Putih mata karena memandang: perihal seseorang yang menanggung rindu dan menantikan kedatangan kekasih hatinya