Dalam catatan sejarah panjang umat manusia, penyakit atau wabah adalah salah satu “tinta” yang turut menggores lembar-lembar kehidupan manusia. Salah satu wabah ganas yang pernah menyerang dan diderita oleh hampir seluruh umat manusia adalah pandemi influenza (Flu Spanyol) pada 1918-1919.

Sejak awal mula kehadirannya, Flu Spanyol telah telah memorakporandakan kehidupan manusia waktu itu. Pasalnya, wabah tersebut memiliki masa inkubasi yang cepat. Dalam waktu tiga hari, wabah tersebut dapat memangsa korban jiwa.

Dengan masa inkubasi yang demikian, tidaklah heran jika, dalam kurun waktu kurang dari satu tahun, wabah Flu Spanyol mampu memakan korban lebih banyak dibanding wabah Black Death yang terjadi selama kurang lebih empat tahun pada abad ke-14. Dari catatan yang ada, Flu Spanyol telah menelan korban sekitar 20-50 juta jiwa.

Sementara itu, di tengah-tengah kepanikan akibat Flu Spanyol, terselip sebuah peristiwa kerusuhan rasial anti-Tionghoa di Kudus.

Kebangkitan Keretek dan Awal Mula Sikap Sentimen Terhadap Orang Tionghoa

Sebagai daerah yang dijuluki Kota Keretek, tidaklah mengherankan jika di Kudus banyak terdapat pabrik keretek, baik dalam skala besar maupun kecil. Banyaknya industri keretek di Kudus ini tidak bisa dilepaskan dari sejarah ditemukannya keretek itu sendiri.

Dalam buku Kretek Jawa: Gaya Hidup Lintas Budaya, dikatakan bahwa keretek pertama kali ditemukan pada sekitar tahun 1870-1880 oleh seorang warga Kudus bernama Djamhari atau Djamahri. Penemuan keretek ini dilatarbelakangi oleh sakit asma yang sudah lama dideritanya.

Pada awalnya, Djamhari menggunakan minyak cengkeh sebagai pengobatan. Kemudian, ia berinovasi meracik cengkeh dengan tembakau yang dibungkus daun jagung (klobot) lalu mengisapnya.

Setelah sekian waktu mengonsumsi keretek racikannya, sakit asma yang diderita Djamhari berangsur-angsur sembuh. Berita kesembuhan Djamhari itu kemudian menyebar sehingga masyarakat meminta agar ia memproduksi keretek racikannya dan menjualnya ke masyarakat luas.

Sementara itu, penamaan rokok keretek sendiri diambil dari bunyi ‘keretek’ akibat bara yang membakar ujung rokok selama kegiatan mengisap rokok tersebut.

Sejak ditemukannya keretek, secara berangsur-angsur keretek menjadi tumpuan ekonomi masyarakat Kudus. Selanjutnya, pada awal abad ke-20, keretek berkembang menjadi industri penting di daerah Jawa Tengah.

Salah satu produsen keretek terkenal pada saat itu adalah keretek cap Bal Tiga yang mulai diproduksi sekitar 1900-an oleh Nitisemito. Keberhasilan Nitisemito dalam dunia keretek menjadikannya orang kaya sehingga ia dikenal dengan julukan “Raja Keretek” dari Kudus.

Melihat keretek yang sangat berpontensi memberikan kekayaan, orang Tionghoa pun dalam perkembangannya turut terjun dalam bisnis keretek. Salah satu produsen keretek terbesar yang dikelola oleh orang Tionghoa adalah HM Sampoerna, yang didirikan pada 1913 di Surabaya dengan Dji Sam Soe sebagai produk unggulannya.

Selain orang Tionghoa, orang Eropa dan para pedagang Arab pun turut mewarnai produksi keretek. Dengan menjamurnya produsen keretek, persaingan untuk mendapatkan pasar pun menjadi makin sengit.

Persaingan dalam perebutan pasar ini kemudian berujung menjadi persaingan pengusaha keretek pribumi dan pengusaha keretek Tionghoa yang meruncing pada sikap sentimen terhadap orang Tionghoa. 

Awal Mula dan Penyebaran Wabah Flu Spanyol

Dalam sebuah buku yang berjudul The Spanish Lady “Forgotten”: American Historical Memory and the Influenza Pandemi of 1918-1919, disebutkan bahwa kemunculan pertama Flu Spanyol ini terjadi di Fort Riley, Kansas, Amerika.

Pada Maret 1918, sebuah laporan menyebutkan bahwa terdapat sejumlah serdadu yang terjangkit influenza, yang lambat laun jumlahnya terus bertambah. Pada akhir bulan itu, sekitar 40 orang meninggal setelah menderita pneumonia. Padahal, pada saat itu, kematian yang tinggi akibat pneumonia bukanlah sesuatu yang wajar.

Setelah awal mula kemunculannya, para ahli kesehatan meyakini virus tersebut telah menyebar ke seluruh Amerika bahkan menyebar ke Eropa melalui serdadu-serdadu Amerika yang dikirim dalam perang dunia I.

Sementara itu, laporan lain menyebutkan bahwa Flu Spanyol ini ditemukan pertama kali di Eropa, setelah dilaporkannya kasus influenza pada salah satu resimen tentara Amerika di Prancis pada Mei 1918.

Setelah itu, dengan sangat cepat penyakit tersebut menular ke tentara-tentara Inggris dan Prancis, hingga menyebar ke seluruh daratan Eropa bahkan ke seluruh dunia, termasuk ke Hindia Belanda (Indonesia).

Menurut David Killingray (2003), terdapat dua alasan mengapa pandemi influenza 1918 disebut dengan istilah “Flu Spanyol”.

Pertama, ketidakberanian negara-negara yang terlibat perang Dunia I untuk memublikasikan wabah karena takut menurunkan moral tentara di medan perang.

Kedua, netralitas Spanyol pada Perang Dunia I membuat negara tersebut tidak perlu melakukan pembatasan pers, sehingga publikasi wabah ini pertama kali dilakukan oleh pers Spanyol. Sejak saat itulah pandemi ini dinamakan Flu Spanyol.   

Kerusuhan Rasial di Tengah Pandemi Flu Spanyol 1918

Dalam buku berjudul Pandemi Influenza 1918 di Hindia Belanda, dikatakan bahwa setelah Flu Spanyol menjangkit seluruh negara di Amerika, Eropa dan merebak ke Asia, pada Juli 1918 rumah sakit di Hindia Belanda pun melaporkan adanya beberapa pasien yang menderita influenza.

Dalam waktu yang singkat, virus influenza telah melanda seluruh pulau Jawa. Hal ini dibuktikan dengan adanya laporan dari berbagai kepala daerah tentang banyaknya warga yang menderita sakit flu. Misalnya, di Mojowarno, Afdeeling Jombang, dilaporkan bahwa pada 26 Oktober 1918, telah jatuh korban pertama.

Untuk mengatasi wabah yang sedang merajalela itu, pemerintah kolonial Hindia Belanda menugaskan instansi terkait untuk segera mengambil tindakan. Misalnya, penelitian laboratorium yang dilakukan Dinas Kesehatan Rakyat (Burgelijke Gezondheid Dienst) guna menemukan obat yang mampu memberantas influenza.

Selain itu, penanggulangan terhadap Flu Spanyol pun dilakukan dengan melaksanakan ritual adat. Langkah tersebut dilakukan karena masyarakat lokal meyakini bahwa wabah yang tengah terjadi itu diakibatkan oleh pelanggaran terhadap aturan-aturan adat atau dikaitkan dengan sesuatu yang bersifat metafisik.    

Di tengah kekhawatiran akan bahaya pandemi Flu Spanyol itu, telah terjadi kerusuhan rasial anti-Tionghoa di Kudus. Dari literatur yang ada, peristiwa tersebut memiliki beberapa versi faktor penyebab.

Menurut Setiono dalam buku Tionghoa dalam Pusaran Politik, kerusuhan ini diawali oleh ejekan pemuda Sarekat Islam (SI) terhadap orang Tionghoa yang sedang melakukan acara adat guna menolak pandemi influenza. Tidak terima terhadap ejekan pemuda SI, pemuda Tionghoa lantas melawan sehingga terjadilah perkelahian.

Sementara itu, Lance Castles (1982) menuliskan bahwa iring-iringan orang Tionghoa itu mengejek orang muslim dengan mengarak seorang yang berpakaian haji yang dikelilingi wanita nakal.

Selanjutnya, Sri Margana dkk (2014) menerangkan bahwa kerusuhan rasial tersebut merupakan puncak persaingan dagang antara pengusaha pribumi dengan Tionghoa yang berbarengan dengan sentimen orang SI terhadap Tionghoa, karena memang pada saat itu pengusaha keretek banyak tergabung dalam SI Kudus.

Dari berbagai versi yang menjadi penyulut, puncak kerusuhan terjadi pada Kamis malam, 31 Oktober 1918. Pada malam itu, rumah dan toko milik orang Tionghoa di kota Kudus habis dijarah dan dibakar oleh massa.

Dari catatan Setiono dapat diketahui bahwa peristiwa itu telah mengakibatkan 16 orang dari kedua pihak meninggal dan ratusan orang luka-luka. Selanjutnya, para perusuh pun ditangkap dan dijatuhi hukuman berupa kurungan selama 9 bulan – 15 tahun.

Kekacauan akibat kerusuhan itu kemudian menuntut upaya penyelesaian dari pihak-pihak yang terlibat. Dalam upaya perdamaian, pada 30 November 1919, Presiden SI Tjokroaminoto mengajak pimpinan organisasi Tionghoa untuk membicarakan perdamaian.

Suasana perundingan itu berlangsung dengan  tenang dan bersahabat, sehingga perdamaian pun terjadi dengan mudah dan diakhiri dengan jabat tangan antar-sesama pemimpin organisasi.

Referensi

  • Badil, Rudy dkk. 2011. Kretek Jawa: Gaya Hidup Lintas Budaya. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.
  • Killingray, David. 2003. “A New ‘Imperial Disease’: The Influenza Pandemi of 1918-1919 and it’s impact on the British Empire” dalam Caribbean Quarterly, Vol. 49 No. 4. 
  • Margana, Sri dkk. 2014. Kretek Indonesia: Dari Nasionalisme hinga Warisan Budaya. Yogyakarta: Jurusan Sejarah FIB UGM dan Puskindo.
  • Setiono, Benny G. 2008. Tionghoa dalam Pusaran Politik. Jakarta: Transmedia 
  • Wibowo, Priyanto dkk. 2009. Yang Terlupakan: Sejarah Pandemi Influenza 1918 di Hindia Belanda. Depok: Departemen Sejarah FIB UI, Unicef Jakarta dan Komna FBPI.