Penulis
3 tahun lalu · 263 view · 4 min baca · Budaya 99628.jpg
Foto: nottinghampost.com

Kereta Tersebut Bernama Kebencian

Kebencian merupakan alat yang sangat ampuh untuk membangun dan mempertahankan integrasi sosial. Apalagi kalau kebencian tersebut diamini oleh banyak orang, dan diakomodasi oleh pihak-pihak yang memiliki otoritas. Kebencian melahirkan musuh bersama, dan keberadaan musuh bersama akan mendorong lahirnya integrasi sosial. Singkat kata, kebencian menyatukan masyarakat dalam kesadaran kolektif.

Lantas, apakah integrasi sosial yang sepenuhnya dibangun dari kebencian dapat bertahan lama? Apakah kebencian merupakan ekspresi yang paling efektif untuk membentuk dan mempertahankan kesadaran kolektif?

Kereta Kebencian

Hal yang menarik dari kebencian adalah, ia mirip dengan kereta listrik, alat transportasi publik yang kita gunakan sehari-hari. Kebencian memiliki stasiun tujuan dan jadwal keberangkatannya sendiri: Jamaah Syiah pada bulan Januari, kelompok LGBT pada bulan Februari, komunisme dan liberalisme pada bulan April, anak yang dicubit oleh gurunya pada bulan Juni, aktivis HAM pada bulan Juli, serta stasiun-stasiun selanjutnya. 

Namun, berbeda dengan kereta konvensional, kebencian tidak memiliki rute perjalanan yang spesifik. Hal ini sangat mengerikan, karena kita tidak dapat menduga siapa, atau apa yang akan menjadi target kebencian selanjutnya. Tak jarang target-target kebencian yang sudah lewat masa kadaluwarsanya didaur ulang, ditampilkan kembali menjadi stasiun yang baru karena sang pengelola kereta sudah kehabisan ide dan tidak dapat menemukan target lain.

Persamaan yang lain adalah kebencian memiliki penumpang setia yang berasal dari berbagai kalangan; akademisi, pengusaha, ibu rumah tangga, bahkan pejabat publik. Namun berbeda dari kereta konvensional, alih-alih berhenti di stasiun, kereta kebencian menghancurkan setiap stasiun yang dilewatinya, membunuh dan melindas makhluk-makhluk malang yang bernaung di stasiun tersebut.

Lantas, bagaimana cara penumpang-penumpang setia tersebut naik ke dalam kereta kebencian? Tentu saja mereka sudah berada di kereta kebencian sejak stasiun pertama, konon katanya stasiun tersebut bernama Stasiun Moral, ada yang mengatakan stasiun tersebut bernama Stasiun Ketimuran, ada pula yang mengatakan bahwa stasiun tersebut bernama Stasiun Bisikan Tuhan.

Terakhir, kebencian tidak memiliki perhentian terakhir layaknya kereta konvensional. Kebencian adalah kereta  yang dikutuk untuk terus melaju tanpa henti, karena ketika kereta bernama kebencian itu berhenti, maka integrasi yang dibangun bersama kebencian tersebut akan runtuh dan hancur berkeping-keping.

Integrasi Semu

Kebencian dapat digunakan sebagai alat untuk membangun dan mempertahankan integrasi sosial. Namun, integrasi yang dibangun dari momentum kebencian tidaklah lebih dari integrasi semu. Kebencian memang merupakan bagian dari dimensi kultural integrasi sosial, namun integrasi sosial mempunyai dua dimensi lain yaitu dimensi fungsional dan dimensi struktural.

Jika dimensi kultural berhubungan dengan shared values yang dianut oleh sebuah masyarakat, dimensi fungsional berhubungan dengan kinerja dan efektivitas peran individu atau kelompok sosial dalam sebuah masyarakat. Kebencian dapat digunakan untuk membangun integrasi dan menjadikan pihak lain sebagai musuh bersama.

Namun integrasi tersebut akan sulit dipertahankan jika pihak yang dibenci mampu menjalankan perannya dengan baik dan tetap berperan aktif dalam masyarakat. 

Dimensi lain dari integrasi sosial adalah dimensi struktural. Jika dimensi kultural berhubungan dengan nilai, dan dimensi fungsional berhubungan dengan peran, dimensi struktural berhubungan dengan peraturan-peraturan di level makro, seperti undang-undang. Integrasi berbasis kebencian akan tunduk di bawah struktur. Selama undang-undang menjamin toleransi dan keberagaman, integrasi berbasis kebencian tidak akan bertahan lama.

Pertanyaan selanjutnya adalah, apakah mungkin dimensi integrasi sosial yang satu mempengaruhi dimensi yang lain? Apakah mungkin kebencian membuat orang menilai bahwa pihak yang dibenci tidak dapat menjalankan perannya dengan baik?

Apakah mungkin kebencian merubah struktur dan menghasilkan kebijakan yang justru melegitimasi integrasi sosial berbasis kebencian? Jawabannya: mungkin. Namun, kita juga harus sadar bahwa kebencian bukanlah satu-satunya shared values yang dapat digunakan untuk membangun integrasi sosial. Terdapat nilai-nilai lain seperti cinta, toleransi, penghargaan terhadap prestasi, dan sebagainya.

Hal lain yang tidak kalah pentingnya, dimensi kultural membuka kesempatan bagi masyarakat untuk berdialog, karena sejatinya, nilai adalah sesuatu yang dinegosiasikan dan bersifat dinamis. Hal inilah yang menyebabkan kereta kebencian tidak pernah berhenti di stasiun dan terus melaju sepanjang zaman.

Sebab, ketika kereta tersebut berhenti, ruang dialog akan terbuka, pihak-pihak yang selama ini hanya bisa saling menatap dari jendela kereta akan bertemu, duduk bersama dan mengutarakan pikirannya, melakukan negosiasi, dan tidak menutup kemungkinan, menerima satu sama lain, merubah kebencian menjadi penerimaan.

Penutup

Sebagai penumpang kereta yang baik, tentunya kita harus patuh terhadap aturan-aturan yang berlaku. Membeli tiket sebelum naik kereta, mendahulukan penumpang yang akan keluar, hingga memberikan tempat duduk prioritas kepada orang yang berhak.

Hal yang sama juga berlaku saat berhadapan dengan kereta bernama kebencian. Penumpang kereta kebencian bisa jadi tidak memiliki keinginan untuk membenci, namun faktor-faktor seperti lingkungan sosial, pendidikan, dan minimnya arus informasi membuat mereka naik dan menjadi penumpang tetap kereta kebencian.

Dialog dengan penumpang kereta juga harus dilakukan dengan beradab, tanpa prasangka-prasangka seperti "penumpang kereta kebencian itu semuanya bodoh", atau "percuma saja mereka tidak akan pernah mau turun dari kereta ini". Jika kedua hal di atas dilanggar, apa yang kemudian membedakan makhluk-makhluk yang bernaung di stasiun dengan penumpang kereta kebencian?

Akhir kata, kebencian tanpa membuka ruang untuk dialog sama saja dengan menikmati suara tulang yang retak sembari duduk di dalam gerbong ber-AC saat kereta melindas jasad korban. Jadi, kenapa kita tidak membuat stasiun, berhenti, dan mengundang mereka untuk naik dan berbincang?

Artikel Terkait