Auditor
2 bulan lalu · 96 view · 5 menit baca · Cerpen 63280_66768.jpg
Sumber: publicdomainvektors.org

Karena Mas Joe

“Jika kau tak menghentikannya, lebih baik kita cerai!”

“Bahkan untuk membeli kerupuk saja kau tidak mampu!”

Klontang! Kaleng kosong yang tak bersalah itu jadi sasaran empuk.

Prang! Piring berisi nasi putih yang mulai mengeras itu tersenggol. Isinya tercecer di mana-mana.

Aku hanya bisa mengintip dari lubang kecil di pintu depan. Wanita itu menangis, namun suaminya tetap bergeming di depan laptop tuanya. Seolah suara kaleng dan piring yang jatuh, juga teriakan sang istri, adalah suara angin yang tak akan mengganggu konsentrasinya.

Lelaki berkacamata yang dikelilingi tumpukan buku-buku tebal itu hanya sempat menaikkan wajah ketika terdengar suara isak istrinya, namun tak sampai tiga detik perhatiannya kembali pada layar laptop di hadapannya.

Setelah wanita berambut sebahu yang biasa dipanggil Mbak Anna itu masuk ke kamar, aku baru berani melangkahkan kaki ke dalam rumah dan mendekati lelaki kurus yang biasa dipanggil dengan sebutan Mas Joe. Pasangan suami istri ini memang masih muda, kalau tidak salah masing-masing masih berumur 30 tahunan.

Saat melihatku datang, Mas Joe tersenyum.

“Hari ini kau mau kuceritakan novel yang mana? Novel Carrie ? Novel ini yang telah membawa hidup Stephen dan keluarganya menjadi lebih baik,”

Aku duduk di dekat Mas Joe tanpa ragu. Setiap hari aku memang datang ke sini, menemaninya bekerja dan terkadang menghabiskan makanannya, jika ada. Tapi tanpa sepengetahuan Mbak Anna.

Ya, Mbak Anna tidak menyukaiku. Jadi saat Mbak Anna tidak di rumah atau sedang tidur di kamarnya, aku baru masuk ke rumah sederhana ini dan menemani Mas Joe bekerja. Entah apa yang dimaksudnya bekerja, sebab yang kulihat Mas Joe hanya mengetik dan membaca tumpukan buku itu. Mungkin itu juga dinamakan bekerja.

“Kau tahu, novelku ini hampir selesai! Aku akan mengirimnya ke penerbit, lalu aku akan mendapatkan uang yang banyak. Aku yakin semua orang akan membelinya. Bahkan novel ini juga akan dijual ke luar negeri. Aku bisa kaya. Istriku tidak lagi murka karena tidak ada uang belanja. Dan kau, kau akan kuberi makanan enak setiap hari.”

Aku hendak bersuara tapi kuurungkan. Mas Joe terlihat mulai mengetik kembali setelah mengeluarkan kata-kata yang setiap hari diucapkannya itu.

Pandanganku menyapu sebuah meja bulat yang di atasnya sangat berantakan. Masih ada sisa tumpahan kopi yang mengering di sana. Di bawah meja, ada pecahan piring dan butiran nasi yang berserakan.

Rumah kecil yang hanya memiliki satu kamar ini kondisinya memang memprihatinkan. Semuanya karena Mas Joe, begitu yang selalu kudengar dari Mbak Anna dan orang-orang sekitar.

***

Pagi ini aku kembali mendatangi rumah Mas Joe. Kuintip dari balik lubang pintu seperti biasanya. Sepi. Di balik tumpukan buku tebal, tempat di mana Mas Joe biasa duduk, sosok lelaki jangkung itu tidak terlihat. Kudorong pintu dengan sekuat tenaga menggunakan kakiku. Ternyata tidak terkunci.

Tiba-tiba Mbak Anna datang sambil menyeret paksa tangan Mas Joe yang memegang beberapa buku. Dengan cepat aku kabur dan bersembunyi di balik pohon.

“Sampai kapan kau akan seperti ini, Mas? Semua orang sudah menganggapmu gila. Dan aku hampir gila menghadapimu!” Mbak Anna merebut buku-buku dalam pelukan suaminya. “Buku-buku ini yang telah membuatmu gila dan berkhayal ketinggian. Akan kubakar sekarang juga.”

“Kembalikan buku-buku itu, An! Buku-buku itu kubeli dengan hasil keringatku. Harganya tidak murah,”

“Iya, semua tabungan kauhabiskan membeli buku tak berguna ini. Sampai-sampai istrimu tidak kauberi makan!” tukas Mbak Anna marah.

“Kembalikan! Jangan jadi istri durhaka!”

“Siapa yang durhaka? Suami yang tidak lagi menafkahi istrinya demi membeli buku-buku aneh dan mengerikan, apa tidak disebut durhaka?”

Mas Joe terdiam mendengar perkataan Mbak Anna. Aku semakin gugup di balik pohon. Aku takut mereka berdua akan melakukan hal-hal yang dapat merugikan diri mereka sendiri. Sebab dua manusia ini sedang sama-sama dikuasai emosi.

“Aku malu, Mas. Para tetangga setiap hari mengejekku gara-gara kautunjukkan dan kaupaksa mereka membaca buku-buku ini. Kau dikatakan gila dan mereka memintaku segera mengantarkanmu ke rumah sakit jiwa,”

“Belum lagi tunggakan tagihan listrik, air, sewa rumah, hutang di warung, semuanya belum ada yang kaubayar. Kau tak lagi memberiku uang sejak kau dipecat jadi wartawan.”

“An, semua ini tak akan lama. Aku sudah menyelesaikan beberapa novel dan semuanya akan menghasilkan uang. Kau bisa membayar seluruh hutang dan tunggakan. Bahkan kita bisa menjadi kaya. Aku ini Stephen King-nya Indonesia, An!”

Wajah Mbak Anna makin memerah menahan emosi. “Cukup! Sudah ratusan kali Mas kau berkata seperti itu. Stephen King  hanya satu. Kau tak akan bisa menjadi seperti dia. Kita tidak bisa hidup dari cerita-cerita yang kautulis itu. Kita bisa hidup jika kau bekerja dan menghasilkan uang.”

Mbak Anna berlari masuk ke dalam rumah dengan membawa buku-buku Mas Joe. Mas Joe mengejarnya, kemudian suasana hening. Kini aku dapat bernapas lega.

***

“Kau benar-benar gila, Mas Joe. Jauhkan buku mengerikan itu dariku! Aku tak suka buku horor yang akan menghantuiku setiap malam. Jauhkan!”

“Buku ini karyaku sendiri, Ndra. Tidak mahal kok, ceritanya tidak seseram yang kaubayangkan. Kita ‘kan teman, masa kau tak ingin membeli karya temanmu sendiri?”

Tanpa sengaja aku melihat Mas Joe. Wajahnya terlihat begitu kecewa setelah ditinggalkan temannya tadi. Dia menatapku sejenak, tersenyum, kemudian pergi.

Aku tak ingin mengganggu Mas Joe dulu sekarang. Kutahu dia sedang memiliki masalah yang teramat berat. Mas Joe yang baik, kenapa banyak orang membencinya dan menganggap dia gila?

Apa ini semua karena cita-citanya yang ingin menjadi seperti Stephen King? Andai aku bisa bertemu Stephen King itu, ingin kukatakan padanya tentang Mas Joe.

“Hati-hati loh dengan Mas Joe. Kemarin-kemarin kita dipaksa untuk baca buku horor yang selalu dibawanya itu. Eh, sekarang dia mengaku jika novel hasil karyanya telah terbit dan memaksa kita untuk membelinya. Iih, mana novel itu horor. Judulnya saja Tumbal. Ngeri, bukan?”

“Betul. Aku juga dipaksa beli novel itu. Tapi aku tak mau.Untuk apa? Kita bukan seperti dia yang rela beli buku apalagi yang mahal-mahal itu. Sampai-sampai Mbak Anna-istrinya terus berhutang di warung karena tidak diberi uang belanja.”

“Menurut Ibu-ibu di sini, apa Mas Joe itu beneran tidak waras?”

“Bisa jadi, Bu. Tiap hari kerjaannya di depan laptop, membaca tumpukan buku-buku seram karya penulis luar, yang ada nama King-nya, siapa ya aku lupa. Terus dia juga berceloteh akan menjadi seperti King itu dan menjadi orang kaya,”

“Oh, Stephen King. Itu loh yang novelnya banyak difilmkan. Salah satunya Film It  yang pernah kita tonton di rumah Mbak Adel.”

“Film yang mana?”

“Itu yang ada badut seram,”

Wanita-wanita itu menganggukkan kepala mendengarkan penjelasan seorang temannya.

“Jadi Mas Joe ini jadi gila karena ingin kaya dengan menulis novel, begitu?”

“Sepertinya begitu. Memang aneh ya!”

Mereka menertawakan Mas Joe. Aku yang mendengar percakapan empat wanita yang sudah menjadi ibu-ibu ini malah kesal. Mereka tak pantas mengatakan Mas Joe seperti itu. Apa ada yang salah seseorang memiliki cita-cita dan impian seperti Mas Joe?

***

“Mas, lagi-lagi kauajak dia masuk. Aku ‘kan sudah pernah bilang jangan biarkan dia masuk ke rumah kita,”

Ah, aku sampai tidak sadar suara langkah Mbak Anna memasuki rumah. Aku harus bagaimana ini? Mbak Anna terlanjur melihatku. Aku harus melarikan diri.

“Makananmu selalu kauberikan ke dia. Padahal kita cari makan saja susah.” Mbak Anna terus mengomel sembari mengambil sapu dan hendak memukulku.

“Jangan, An!”

Mbak Anna mengejarku. Mas Joe mengejar Mbak Anna.

Tiba-tiba sebuah motor melintas dengan cepat. Mas Joe mendorong tubuhku ke pinggir jalan.

“Mas Joe!”

Teriakan Mbak Anna menyadarkanku bahwa Mas Joe telah kehilangan nyawanya hanya untuk menyelamatkanku, seekor kucing jalanan. (*)