Keraton, agaknya, bukan lagi sebatas tempat bersejarah yang menyimpan berbagai romantisme masa lalu. Namun kini, keraton sudah menemukan ‘bentuk baru’ yaitu sebagai tempat kuliner. Dalam hal ini, keraton sudah menjelma menjadi tujuan wisata kuliner—meski tanpa menghilangkan bentuk aslinya sebagai entitas kebudayaan dan kesejarahan.

Salah satu keraton yang mencoba peruntungan menjadi tujuan wisata kuliner adalah Keraton Kacirebonan. Di dalam komplek keraton ini didirikan sebentuk restoran, Pawon Bogana, yang menawarkan kuliner ‘khas’ keraton/kerajaan yaitu nasi bogana.

Nasi bogana tampilannya mirip dengan nasi kuning, namun dilengkapi dengan bubuk/parutan kelapa. Penamaan nasi bogana berasal dari kosa-kata Sunda: saboga-bogana (seada-adanya atau seadanya). Maksudnya, nasi bogana dibuat dengan bahan dan bumbu yang sudah tersedia di dapur.

Nasi bogana yang dianggap sebagai kuliner khas kerajaan/keraton sejatinya tidak melulu dinikmati oleh kelurga keraton. Tetapi masyarakat di luar keraton pun bisa menikmati nasi bogana. Di daerah saya misalnya, Tengahtani, nasi bogana bukanlah barang baru. Bogana bagi masyarakat Tengahtani (atau Cirebon pada umumnya) merupakan sebuah produk budaya yang biasa digunakan sebagai ‘menu’ dalam pelaksanaan tradisi utamanya selametan.

Jadi dalam berbagai selametan, nasi bogana biasanya menjadi masakan yang dihidangkan. Pendeknya, nasi bogana bukanlah masakan eksklusif keraton, tetapi nasi bogana juga merupakan masakan yang menjadi hidangan ketika ada perayaan atau pelaksanaan tradisi; selametan, di Cirebon.

Namun kini untuk menikmati nasi bogana, kita tidak perlu menunggu keluarga atau tetangga kita membuat hajatan atau melakukan selametan. Cukup datang ke Keraton Kacirebonan, kita bisa memesan nasi bogana, lalu menyantapnya.

Sementara, bagi sebagian dari kita yang hanya ingin menikmati nasi bogana sebagai hidangan dalam pelaksanaan tradisi. Tentu kita harus pula menunggu keluarga atau tetangga kita membuat hajatan atau melaksanakan selametan, dengan catatan, menu hidangannya adalah nasi bogana.

Jika tidak sabar. Sudahlah, jangan khawatir. Toh ‘entitas kebudayaan dan kesejarahan’ masih menyediakan nasi bogana sebagai kuliner andalannya. Luar biasa!