Baru-baru ini Indonesia kembali dikejutkan dengan beredarnya sebuah video yang memperlihatkan raja dan ratu gadungan duduk di takhtanya sembari berorasi tentang kerajaannya. 

Kerajaan itu bernama Keraton Agung Sejagat (KAS) yang berlokasi di, Desa Pogung Jurutengah, Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Munculnya kerajaan fiktif ini membuat masyarakat Indonesia, terkhusus para netizen atau yang biasa disebut warganet, heboh luar biasa. 

Bagaimana tidak heboh, di sebuah negara yang menganut sistem pemerintahan presidensial, yaitu Indonesia, muncul sebuah kerajaan yang dipimpin oleh seorang raja. Kedua sistem ini memiliki perbedaan yang sangat kontras.  

Dari video dan foto yang beredar luas, terlihat ada kegiatan ritual Wilujengan dengan khas Keraton yang tampak terlihat mewah. Terlihat dalam foto tersebut seorang pria dan wanita berpakaian seperti layaknya raja dan ratu duduk di atas kuda. 

Terlihat juga para pengikut kerajaan memakai seragam kerajaan lengkap dengan atribut layaknya pasukan siap tempur yang sudah melalui banyak rintangan untuk menaikkan pangkat mereka.

Singkat cerita, dengan iming-iming palsu Keraton Agung Sejagat merekrut anggotanya supaya menjadi bagian dari kerajaan hayalan. Bahkan anggota yang bersedia masuk harus menyetor uang sebesar Rp3 juta sampai Rp30 jutaan. Jumlah uang yang cukup fantastis, bukan?

Akan tetapi, sepandai-pandai tupai melompat pasti akan jatuh juga. Sedalam apa pun bangkai disembunyikan pasti akan tercium juga.

Sebenarnya peribahasa itu menurut saya kurang cocok untuk Keraton Agung Sejagat ini. Karena mereka melakukan aktivitasnya bukan secara sembunyi-sembunyi, melainkan secara terang-terangan dan disaksikan banyak warga dan bahkan sampai didokumentasikan melalui video dan foto yang beredar. 

Lugu memang, antara berani dan bodoh kalau menurut saya. Akhirnya pendiri Keraton Agung Sejagat itu pun ditangkap polisi. Keduanya adalah pasangan suami-istri Toto Santoso dan Fanni Aminadia.

Dengan jeratan pasal 378 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1946 Peraturan Hukum Pidana tentang penipuan, keduanya diringkus ke kantor polisi. Kemudian pasal 14 UU yang sama tentang penyiaran berita bohong dan ancamannya 10 tahun penjara.

Pengikut Keraton Agung Sejagat terbilang beragam dan cukup banyak. Mulai dari kaum milenial sampai dengan orang tua. Jika diperhatikan dari wajah para pengikut Keraton Agung Sejagat ini, terlihat bahwa mayoritas pengikutnya adalah para orang tua yang mungkin usia 40 tahun ke atas.

Prediksinya ada 450 orang yang menjadi korban dari kerajaan bodong tersebut. Banyaknya korban akibat dari aktivitas Keraton Agung Sejagat telah memberikan kita suatu gambaran umum dari kondisi masyarakat Indonesia.

Mayoritas korban Keraton Agung Sejagat mengaku mendapat iming-iming dari Totok Santoso yang mengeklaim sebagai raja Keraton Agung Sejagat yang membawa perdamaian ke seluruh penjuru Bumi.

Gayung bersambut, iming-iming itu ditelan mentah-mentah oleh para korban dan memutuskan untuk ikut bergabung dengan Keraton Agung Sejagat. Keraton Agung Sejagat telah memperlihatkan kepada kita betapa bobroknya literasi Indonesia saat ini. 

Literasi yang biasa diartikan kemampuan membaca, menulis, dan menganalisis menjadi pilar utama dalam kemajuan suatu kaum atau bangsa. Apabila literasi suatu negara rendah, maka rendahlah kualitas sumber daya manusianya. 

Akan tetapi, apabila literasi suatu negara bagus, maka sudah dapat dipastikan kualitas sumber daya manusia negara tersebut berada di atas rata-rata. Keadaan inilah yang dialami oleh Indonesia. 

Rendahnya literasi masyarakat Indonesia telah menyeret kita ke dalam banyaknya permasalahan. Kemiskinan, pengangguran, dan pembodohan telah menjadi makanan sehari-hari yang dapat kita saksikan terjadi di negeri ini. 

Berdasarkan data Programme for International Student Assessment (PISA) Indonesia berada di peringkat 64 dari 72 negara yang rutin membaca. Sungguh miris, bukan?

Padahal makin banyak membaca, maka akan makin banyak mendapat informasi, dan tentu tidak akan mudah dibodoh-bodohi seperti kasus Keraton Agung Sejagat. 

Kembali menurut The World Most Literate Nation Study, kemampuan literasi Indonesia berada di peringkat 60 dari 61 negara. Buruk? Bukan hanya buruk, tetapi lebih tepatnya hancur.

Negara sebesar Indonesia yang memiliki penduduk kurang lebih 267 juta jiwa dan sumber daya alam yang sangat melimpah, tetapi tidak lebih baik literasinya dari Singapura yang besar wilahnya masih kalah dengan Sumatra Utara. 

Kondisi inilah yang membuat Indonesia selalu berkutat dengan permasalahan klasik dari zaman pemerintahan Presiden Sukarno sampai sekarang ini. Lantas masalahnya di mana? Semua berada di sistem pendidikan kita. 

Karena itulah terpilihnya Menteri Pendidikan Nadiem Makarim diharapkan mampu merombak sistem pendidikan kita yang menurut saya sudah kuno dan ketinggalan zaman. 

Inovasi dan implementasi akan menjadi kunci atas permasalahan literasi yang dialami Indonesia. Permasalahan Keraton Agung Sejagat telah membuka pandangan kita. Memperlihatkan kepada kita betapa bobroknya literasi kita sampai saat ini. 

Di tengah perkembangan zaman yang begitu cepat dan banyaknya perubahan yang terjadi, sebut saja revololusi industri, kondisi ini menjadi tamparan keras untuk negara sebesar Indonesia. 

Persaingan global makin ketat. Kesempatan Indonesia menjadi negara besar sebenarnya sangat terbuka lebar. Dengan era bonus demografi yang sebentar lagi akan menghampiri Indonesia, ini menjadi kesempatan emas untuk mengejar ketertinggalan dari negara maju lainnya. 

Kita harus meningkatkan kulitas kita dalam bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan bidang-bidang lainnya. Semua itu bisa kita raih dengan memperbaiki kualitas literasi.

Sumber daya manusia Indonesia harus mampu mengelola sumber daya alamnya sendiri demi kemajuan peradaban kita. Negara yang sumber daya manusianya tidak mampu bersaing sudah barang tentu akan menjadi negara yang tertinggal. 

Apakah Indonesia akan menjadi negara yang tertinggal di masa yang akan datang? Jawabannya ada sama pemerintah, saya, dan juga Anda.