Hening, sepi, dan mencekam. Hawa kengerian hadir saat menjejakkan kaki (lagi) di tanah ini. Banyak ranting pohon gugur dan tumbuh rumput liar di mana-mana. Kotor dan tak terurus. Agak asing rupanya, berbeda dari tanah-tanah biasa.

Ini kali pertama setelah dahulu pernah berkunjung ke sini. Setidaknya satu tahun satu kali, aku diajak "mengheningkan cipta" di suatu tempat yang dianggap keramat.

Sudah empat hari tak turun hujan, tanah di sini lumayan kering dan gersang. Aroma debu tertiup angin bisa membuat hidung siapa pun gatal, termasuk diriku. Selebihnya, tiupan debu pasti menempel di kulit kaki dan sandal jepit hitam. Kulit kaki sudah bertransformasi menjadi coklat agak abu-abu, sandal jepit menjadi hitam lusuh.

Pengap, sengaja kusingkap masker karena tidak ada siapa-siapa. Semoga aman dari Covid-19. Alhasil, detik baru hitungan jari, kulit sudah bagaikan tersengat api. Panas matahari sangat kejam, huft, sudah seperti omongan tetangga saja.  

Cuaca sekarang ganas. Dahulu saat aku masih kanak-kanak, panas matahari tidak terlalu berefek di kulit. Mau main di mana pun, oke-oke saja. Tapi, sekarang berbeda. Baru satu detik di luar ruangan, kulit seperti terkena cipratan air cabai. Panas, panas, panas. Hehe, mirip lagunya grup band Gigi yang judulnya Nakal.

Panas, panas, panas

Panas badan ini

Pusing, pusing, pusing

Pusing kepala ini

Selain panas ekstrem yang bikin kurang fokus, di sini juga ada seekor anjing hitam berkalung coklat menggonggong terus. Mungkin peliharaan warga yang terlepas. Atau, mungkin anjing yang sering ikut berburu babi. "Duh, tambah seram!" Batinku. Fokus pandangan bergeser, dirampas oleh si anjing itu. Bukan apa-apa, takut si anjing jatuh cinta pada pandangan pertama denganku dan ingin langsung gigit. Kan, seram banget. Dasar, anjing!

Langkah kaki bergerak melewati banyak model bangunan, baik bangunan lawas dan kekinian. Ada yang berwarna hijau tua, ada yang dipagar, ada yang ditumbuhi bunga-bunga. Pun banyak juga yang hanya dibiarkan begitu saja tanpa diurus.

"Bagus-bagus. Kontras dengan keheningan." Kataku halus pada diri sendiri ketika melewati bangunan yang berpagar besi putih.

Terselip tanya dalam diri,

"Kapan aku, ya?"

Atau, mencoba menelanjangi jiwa dengan peringatan bahwa suatu hari aku akan di sini juga.

Ya, ini adalah ziarah kubur. Kata ibuku, mengunjungi makam termasuk tradisi sebelum menikah. Kami menyebutnya dengan tradisi "pamitan" kepada para sesepuh yang sudah meninggal dunia.

Selain ziarah ketika akan Idulfitri, sebelum menikah ternyata wajib ke sini juga. Dengan membawa "oleh-oleh" seperti saat menjelang hari raya: bunga, air, dan minyak duyung. Jangan lupa pula, doa-doa untuk mereka supaya dimudahkan kuburnya.

Orang-orang sekitar menyebut tempat ini dengan sebutan Keramat. Aku menduga-duga, disebut Keramat sebab pemakaman merupakan salah satu tempat yang dikeramatkan. Anggapan tersebut pun mampu mengilusi otakku, aku bergidik ngeri ketika tapak demi tapak menjejakkan kaki.

Kubur kakek-nenek berada di paling ujung. Karena urutan waktu saat berpulang, jadi ditempatkan di ujung pemakaman. Semakin lama waktu berlalu, Keramat ini semakin ramai.  

Sampailah di depan rumah mereka untuk selamanya.

"Assalamualaikum," ucapku dalam hati. Kemudian diiringi doa-doa. Setelah itu, kuungkapkan maksud kedatangan ke sini. Sebab, ini bukan kunjungan menjelang hari raya seperti yang sudah-sudah.

Aku pamitan kepada kakek-nenek, semoga para leluhur tersebut memberikan restu. Oh iya, aku "pamitan" ke dua tempat keramat. Tempat dimakamkannya orang tua dari pihak ibu dan bapak. Jarak kedua tempat kira-kira lima belas menit dengan mengendarai sepeda motor kecepatan sedang.

Kuperhatikan sejenak, di nisan kakek (dari pihak ibu) tertulis Wafat: 12 Desember 1994. Tiga tahun sebelum aku dilahirkan ke dunia ini, kakek sudah meninggalkan dunia terlebih dahulu. Aku belum sempat melihat wajahnya, tapi anehnya ada kerinduan tersendiri.

Sial, lupa sedang mode on. Hanya tanggal tersebut yang tertinggal di ingatanku. Mungkin karena hanya dengan kakek ini yang belum sempat beradu mata.

Keramat, ini benar-benar keramat. Sepi yang sebenarnya "ramai" itu lebih menakutkan daripada gonggongan anjing berkalung coklat itu. Entah sudah berapa banyak manusia terbaring di dalam tanah Keramat ini.

Hikmah Ziarah Kubur

Tiap-tiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Kontrak kehidupan manusia berbeda-beda, hanya menunggu batas waktunya habis. Ada yang sudah tua renta, tapi masih berada di dunia. Ada pula yang masih kecil, tapi kembali pada-Nya. Usia bukan ukuran manusia kembali ke surga. Semua sudah menjadi suratan masing-masing.

Memandangi gundukan tanah berisi jasad manusia menyisakan pilu. Yang dahulu sering bertegur sapa dan bercanda tawa, tiba-tiba namanya sudah terukir di batu nisan.

Nama demi nama terbaca dan suatu saat pasti namaku yang akan dibaca orang. Merenungi ini membuat diriku bertanya-tanya, "Sudah siapkah?"

Entahlah, kupikir tidak ada yang benar-benar siap untuk mati.