Teori Darwin yang lahir di masa silam hingga kini masih menimbulkan kontroversi. Teori Darwin mengatakan bahwa manusia secara genetik memiliki hubungan dengan kera. Banyak pihak yang tidak setuju atas teori tersebut.

Pantas saja, manusia modern (berperadaban tinggi) tidak akan sudi disamakan dengan seekor kera buruk rupa yang tidak bisa berbicara banyak bahasa.

Manusia dan kera adalah dua makhluk yang berbeda. Perbedaannya terletak pada banyak hal, mulai dari bentuk fisik, cara hidup, hingga kapasitas otak. Namun, jika dibandingkan dengan binatang lain, manusia dan kera adalah contoh saudara kembar yang sebenarnya punya kemiripan tapi enggan saling mengakui satu sama lain.

Penentang teori evolusi mengatakan bahwa manusia modern adalah keturunan Adam. Adam diciptakan oleh Tuhan dan diturunkan dari surga. Bukan berevolusi dari kera yang kemudian melahirkan kita.

Pendapat di atas bisa dimaklumi. Pasalnya, paras tampan manusia modern tentu berbeda dengan wajah penuh bulunya seekor kera. Pikiran penuh ide dan inovasi manusia modern tidak sebanding dengan otak kera yang hanya bisa dipakai mencari pisang. Manusia jauh lebih sempurna daripada kera.

Namun, jika kita menahan sedikit ego dan mencoba untuk mengerti kera, saya yakin kera pun merasa dirugikan dengan teori Darwin.

Kencangkan ikat pinggang, siapkan kopi, dan mari kita bahas lebih lanjut.

Manusia memang tidak mengerti bahasa yang dipakai oleh kera. Namun, jika kera memiliki kemampuan membaca dan berargumen seperti manusia modern, dan mereka berkesempatan membaca buku The Origin of Species karya Charles Darwin.

Mungkin, tidak ada ekspresi yang bisa mereka tampakkan di wajah secara spontan selain mengerutkan dahi dan bertanya, “kenapa kami disamakan dengan manusia?”.

Manusia sejak awal mulanya sudah membentuk peradaban, sehingga pada akhirnya mereka mampu memuncaki rantai makanan. Jika kera hanya makan biji dan buah-buahan, manusia memakan buah, sayur, daging, biji-bijian, rambut kemaluan, belut, kemaluan kambing, dan lain sebagainya.

Akibatnya, manusia mempunyai naluri untuk mengumpulkan makanan sebanyak mungkin. Hal itu berdampak pada lahirnya revolusi pertanian.

Revolusi pertanian terjadi ketika manusia mulai mendomestikasi dirinya sendiri. Mereka tidak lagi mencari makanan dengan cara berburu ke hutan, manusia sudah mulai menanam sendiri makanannya sehingga mereka tidak bisa lagi hidup sebagai manusia nomaden.

Kedudukan tertinggi manusia sebagai pemuncak rantai makanan, membuat manusia memiliki satu sifat yaitu rakus. Sifat rakus merupakan modal besar bagi manusia untuk menjadi makhluk yang berkuasa, merusak, dan paling dibenci oleh spesies lain. Bahkan mungkin sering menjadi bahan ghibah jika para binatang sedang berkumpul untuk rapat tahunan anggota aliansi binatang proletar. Hehe.

Manusia menebang jutaan pohon untuk ditanami padi dan gandum, menutup tanah dengan beton sehingga air tidak mampu meresap, membuang plastik sisa makanan ke laut yang berakibat pada kerusakan dan pencemaran.

Ikan paus di laut mati karena makan ribuan ton limbah plastik, air berubah warna menjadi coklat karena tercemar limbah pabrik, dan terumbu karang yang hancur lebur terkena sapuan kapal yang karang. Pemandangan tersebut nampak saat ini akibat ulah makhluk yang (mengaku) berperadaban tinggi.

Peradaban tingginya manusia tidak lepas dari adanya perebutan wilayah yang melahirkan peperangan dan menumpahkan darah sesamanya. Manusia tidak segan-segan membunuh manusia lain demi sebuah kekuasaan, kekayaaan, dan kemapanan. Darah mengalir di atas tanah akibat pedang yang dibuat dengan tujuan untuk mengantarkan manusia lain menuju kematian.

Lantas, spesies macam apa yang berkenan disamakan dengan makhluk perusak seperti manusia? Kucing, anjing, rayap, bahkan kera pun tidak akan rela.

Kucing hanya mampu mencemari tanah dengan kotorannya, anjing hanya mengganggu telinga karena gonggongannya, rayap hanya membuat kayu keropos karena kebiasannya, dan kera hanya memakan pisang, berteriak huhu haha dan bahkan tidak menganggu siapapun.

Sedangkan manusia? Berapa juta liter air yang tercemar? Berapa miliar pohon yang dibakar? Dan berapa juta binatang mati dibunuh untuk disajikan di restoran-restoran perkotaan?

Manusia marah terhadap teori evolusi dan menolak disamakan dengan kera. Karena kera adalah hewan yang buruk rupa, tidak punya otak, tidak bisa menciptakan ilmu pengetahuan, dan hanya bisa mengupas pisang.

Sedangkan, kera idealnya lebih dirugikan, karena mereka disamakan dengan makhluk yang mengaku berperadaban tinggi, mengaku pencipta ilmu pengetahuan, dan mengaku mencintai kedamaian. Tapi kenyatannya hanya bisa merusak, melahirkan peperangan, menumpahkan darah, dan tidak mencintai alamnya sendiri.

Bicaranya saja yang ndakik-ndakik soal moral, tapi justru masih banyak manusia yang tidak bermoral.

Kera tidak lebih buruk dari manusia, kera tidak rakus dan tidak merusak alam. Saat kera mencuri pisang coklat di dapur, dan Anda berkata “hey, buatlah pisang coklat sediri”. Kera hanya akan bilang “anda pikir saya manusia?”.