Mahasiswa
6 hari lalu · 120 view · 3 menit baca · Filsafat 14202_86677.jpg

Keputusan yang Menipu

Pernahkan Anda merasa bahwa banyak hal yang Anda sesali saat ini adalah hal yang begitu Anda idam-idamkan di masa lalu? Atau pernahkah Anda merasa yakin bahwa pilihan Anda saat ini adalah keputusan Anda yang paling tepat untuk masa yang akan datang?

Jika ya, Anda mengalami apa yang Dan Gilbert sebut—meminjam istilah Francis Fukuyama—sebagai The End of History Illusion (ilusi akhir dari sejarah).

The End of History Illusion adalah sebuah kondisi di mana kepercayaan diri Anda terhadap keputusan-keputusan di masa lalu telah terbukti keliru di masa kini, dan keyakinan Anda terhadap masa depan pada saatnya juga akan terbukti keliru.

Dan Gilbert menggambarkan potret di mana para orang tua berani membayar mahal agar tato yang memenuhi tubuhnya bisa dihilangkan, sesuatu yang bertahun-tahun yang lalu ia bayar dengan mahal pula.

Bagaimana orang setengah baya beramai-ramai menceraikan pasangannya, seseorang yang dulu terburu-buru ia nikahi, dan anak muda yang berpikir bagaimana cara untuk menghamburkan uang, sesuatu yang orang setengah baya matian-matian untuk mendapatkannya.

Mengapa hal itu bisa terjadi? Para psikolog menjelaskan bahwa kebanyakan orang memiliki kekeliruan mendasar tentang kekuatan waktu, atau apa yang sudah disebut di atas sebagai ilusi akhir dari sejarah.

Semua rentang usia menganggap remeh tentang hakikat “hari ini” dan tidak terlalu mengantisipasi perubahan-perubahan dirinya di masa depan.

Dulu, masyarakat meyakini bahwa demokrasi adalah titik akhir dari rentang sejarah manusia. Namun nyatanya, demokrasi terus berkembang. Model-model dan ide-ide tentangnya terus mengalami dinamika tak berkesudahan.


Penelitian dari psikolog seperti Dan Gilbert menemukan fakta bahwa ketika ditanya dan diminta untuk memprediksi seandainya jika diadakan sebuah konser dari grup musik yang disenangi hari ini hingga 10 tahun ke depan, rata-rata responden berani membayar 150 dollar.

Sebaliknya, ketika ditanya berapa bayaran yang pas untuk membayar penampilan grup musik yang disukai 10 tahun yang lalu hari ini, para responden hanya berani membayar 80 dolar saja.

Secara rasional, seharusnya angka yang dibayarkan sama. Namun mereka memilih untuk berani membayar mahal demi memanjakan sesuatu yang kita anggap kesenangannya akan stabil. Anggapan yang kelak akan terbukti keliru.

Dan Gilbert menambahkan, kemungkinan hal tersebut bisa terjadi karena kekuatan manusia dalam mengingat (kaitannya dengan masa lalu) versus kelemahannya dalam berimajinasi (kaitannya dengan masa depan). Sebagian besar dari kita akan dengan mudah mengingat diri kita 10 tahun yang lalu namun akan kesulitan membayangkan diri kita di masa depan.

Ilusi lain dari kekeliruan kita dalam pengambilan keputusan di masa lampau adalah adanya kondisi di mana keputusan yang kita buat terkadang bukan dari dalam diri kita sendiri. Acap kali justru karena kurangnya informasi dari keputusan yang akan kita ambillah yang memegaruhinya.

Dan Aurely—penulis Predictably Irrational: The Hidden Forces That Shape Our Decisions—menyebutnya sebagai "keputusan irasional". Penegasan dari teori Daneil Kahneman, seorang ekonom peraih nobel, bahwa manusia terlahir dari ketidakrasionalan sistematis yang membayanginya (cognitive biases).

Ia beranggapan bahwa manusia tidak benar-benar masuk ke dalam keputusan yang ia buat. Secara ajaib, keputusan yang kita ambil adalah pendekatan dari intuisi dan berdasarkan pengalaman semata, bukan dari analisis sebagai bentuk kehati-hatian.

Meja manakah yang lebih panjang? Dalam memutuskannya, kita tidak dapat mengatakan, "sebagaimana yang telah saya lihat, meja sebelah kiri tampak lebih panjang. Demikianlah adanya."

Menganggap meja sebelah kiri lebih panjang dari meja sebelah kanan adalah salah satu contoh "keputusan irasional". Dari ilusi visual di atas yang mungkin pernah kita lihat, akan mudah membuktikan letak kekeliruannya.

Setelah diletakkan garis pada kedua permukaan meja kemudian digabungkan, ternyata kedua meja tersebut memiliki panjang yang sama. Namun mata dan intuisi kita telah menipu kita berulang-ulang.


Masalahnya adalah, sejauh mana kita mau meneliti kembali keputusan-keputusan kita? Apakah kita mau meluangkan waktu sejenak untuk menengok dampak apa yang akan kita dapatkan dari keputusan itu?

Tentu saja tidak ada manusia yang sempurna. Namun, dari semua kemungkinan-kemungkinan yang tampak di depan mata, dalam dunia ketakpastian, tampaknya kita perlu senantiasa beradaptasi terhadap segala bentuk perubahan. Mengoptimalkan hidup saat ini dengan pilihan-pilihan yang serasional mungkin untuk diputuskan.

Kita tidak ingin di masa depan, ketika disodorkan pertanyaan tentang teman baik, tempat favorit, dan hobi kita 10 atau 20 tahun yang lalu, dahi kita akan mengernyit dan bergumam: “semuanya telah berubah.”

Ternyata, sedemikian luput kita tentang sebuah titik magis yang kita sebut “sekarang” yang akan menorehkan tinta catatan sejarah hidup kita. Momen di mana akhirnya kita menjadi diri kita. Begitu pula “sekarang” adalah proyeksi dari anggapan-anggapan masa lalu yang sedikit atau banyak bergeser dari tempatnya.

“Sekarang” meniscayakan perubahan terhadap nilai yang dianut serta kepribadian di masa yang akan datang. Kita adalah sebentuk mahakarya yang belum selesai. Detik, menit, dan jam adalah rentetan dari diri kita yang sementara, sama fananya dengan berbagai fase diri kita sebelumnya.

Tidak ada yang tidak berubah kecuali perubahan itu sendiri.

Artikel Terkait