Environmentalist
2 minggu lalu · 213 view · 18 min baca menit baca · Lingkungan 34436_31199.jpg

Kepunahan Keenam: Krisis Iklim, Keanekaragaman Hayati, dan Kelangsungan Hidup Umat Manusia

Kami telah menyelamatkan dia dan pengikutnya dri bencana yang besar.  Dan Kami jadikan anak cucunya orang-orang yang melanjutkan keturunan. Dan kami abadikan untuk Nuh (pujian) di kalangan orang-orang yang datang kemudian.  Kesejahteraan (Kami limpahkan) atas Nuh di seluruh alam.” — Terjemahan Al Quran, As-Saaffaat (37): 75-79.

 

 “Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri,” ungkap Wawan, seorang alumni Universitas Jember, mencoba meyakinkan Jatim Nowbahwa dia dan enam temannya sempat melihat El Jawi, nama lokal Harimau Jawa di sekitar hutan lereng Gunung Raung, lima kilometer dari Air Terjun Lider, Dusun Lider, Desa Sumberarum.  “Saya meragukan kepunahan Harimau Jawa,” imbuhnya.  “Baru-baru saja, kok, pertengahan Juli 2018 kemarin.  Sore hari.  Jarak kami dengan mereka sekitar 50 meter.  Jumlahnya sekitar 30 ekor,” tambahnya lagi (Hamdani 2019).

Siapa lagi bisa mengaku pernah melihat Harimau Jawa?  Hewan karismatik ini telah dianggap punah pada tahun 1980.  Penampakan terakhirnya adalah di Gunung Semeru, tempat tinggal terakhirnya.  Dulu, Harimau Jawa banyak berkeliaran di dataran rendah Jawa.  Harimau Bali, yang agak lebih kecil, juga telah dianggap punah (Strauss 2017).  Di Kepulauan Sunda, hanya tinggal Harimau Sumatera yang masih ada, itupun dengan status kelangkaan yang mengkuatirkan: hanya tinggal 441-679 ekor yang masih tinggal, dengan subpopulasi kurang dari 50 ekor, dan menunjukkan trend yang semakin berkurang.  Harimau Sumatera telah dimasukkan ke dalam daftar binatang yang kelangkaannya kritis (critically endangered) oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN).

Baru-baru ini, satu lagi kisah sedih datang.  Pada 27 Mei 2019, badak Sumatera jantan Malaysia terakhir di dunia telah meninggal karena beberapa masalah kesehatan, meninggalkan satu-satunya badak betina dari spesies itu.  Badak Sumatera adalah spesies badak terkecil di dunia, lebih pendek dari satu-setengah meter ketika dewasa.  Mereka adalah satu-satunya badak Asia bercula dua, dan berbulu.  Badak Sumatera ditemukan di Indonesia, Semenanjung Malaysia dan di Sabah.  Mungkin ada pula di wilayah selatan Thailand (Woodyat 2019).  Di depan mata kita, badak Sumatera punah.  Tidak akan ada lagi badak Sumatera di Malaysia akan dilahirkan ke dunia.


Gambar 1. Harimau Jawa.  Foto Wikimedia Commons, diambil dari Strauss 2017 (https://www.thoughtco.com/javan-tiger-1093096)

 

Cerita Tentang Burung Dodo

Setelah Dinosaurus, kepunahan yang mungkin paling “karismatik” adalah hilangnya burung Dodo, species burung yang tidak bisa terbang, yang punah sekitar 350 tahun yang lalu setelah berevolusi selama delapan juta tahun di tempat hidupnya di Pulau Mauritius.  Sedemikian karismatiknya Dodo, dia ditampilkan dalam buku anak-anak yang terkenal Alice’s Adventures in Wonderlandkarangan Lewis Carroll (1865).

Banyak yang mengira kepunahannya adalah karena pelaut Belanda yang mampir di sana menyukai dagingnya yang enak dan empuk, sementara sifat Dodo yang jinak membuatnya mudah ditangkap.  Tetapi, penelitian menunjukkan bahwa dari sebegitu banyak bukti fosil makanan para Belanda itu, tidak ada satupun memperlihatkan bahwa mereka suka makan daging Dodo.  Burung-burung itu juga tinggal di pedalaman hutan yang, saat itu, amat sangat lebat dan hampir tidak mungkin ditembus bahkan oleh  pemburu paling andal sekalipun (Barras 2016).  Jadi, apa yang menyebabkan kepunahannya?


Gambar 2.  Gambar imajinasi artis atas burung Dodo di Mauritius yang punah sejak 350 tahun yang lalu. (Gambar dari Mary Evans Picture Library / Alamy Stock Photo).

 

Pelaut Belanda mampir ke Mauritius untuk pertama kalinya mungkin pada 1598, yang dianggap sebagai permulaan proses kepunahan Dodo.  Tapi tampaknya bukan mereka yang secara langsung bertanggungjawab.  Kemungkinan lebih besar adalah karena tikus kapal dan hewan-hewan lain yang terbawa oleh para pelaut itu, yang menyebar di Pulau Mauritius memangsa telur serta berebut makanan dengan Dodo (Barras 2016).  

Studi mengenai Dodo ini sulit dilakukan saat itu karena sulitnya mendapatkan spesimen fosilnya, sebelum adanya penelitian yang dilakukan oleh Hugh Edwin Strickland dan Alexander Gordon Melville.  Pada 1848, mereka menulis Dodo and Its Kindred, sebuah catatan paling lengkap yang bisa dibuat berdasarkan keterbatasan jumlah fosil yang bisa mereka jadikan dasar kajian (Strickland dan Melville 1848).  

Pada 1865, pekerja konstruksi yang sedang memasang rel kereta menemukan beberapa potong tulang.  Setelah dibandingkan dengan informasi di bukunya Strickland dan Melville, baru menyadari bahwa mereka baru saja menemukan fosil Dodo.  Pada 1866, Richard Owen membuat sebuah catatan mengenai temuan tulang Dodo ini, dan sesudahnya, penelitian mengenainya mulai berubah agak lebih mudah (Barras 2016).

Kepunahan Yang Semakin Cepat

Bila sejarah (dan prasejarah) memperlihatkan proses kepunahan sebagai sebuah proses yang lambat, dan dalam jangka waktu geologis yang mungkin tidak akan terasa oleh manusia, di zaman sekarang ini kepunahan terjadi tepat di depan mata.  Satu persatu spesies telah hilang dari muka bumi hanya dalam kurun waktu satu generasi saja.  Preseden ini tidak pernah ada dalam sejarah (dan prasejarah) Bumi. Studi terbaru memperlihatkan bahwa paling tidak 571 spesies tanaman telah hilang sejak 1750.  

Dengan pertimbangan bahwa pengetahuan kita tentang tumbuhan masih amat sangat terbatas, angka yang sesungguhnya diperkirakan jauh lebih tinggi dari ini.  Kecepatan kepunahan spesies saat ini 500 kali lebih cepat daripada sebelum revolusi industri. Angka inipun mungkin jauh lebih rendah dari angka sesungguhnya (Humphreys 2019).  

“Tanaman adalah sumber kehidupan kita”, menurut Dr. Eimear Nic Lughada dari Kew Royal Botanic Gardens.  “Dia menyediakan oksigen untuk kita bernafas dan makanan yang kita makan, serta menjadi tulang punggung ekosistem dunia.  Kepunahan tanaman adalah berita buruk untuk semua spesies,” lanjutnya lagi, seperti diceritakan kepada Damian Carrington (Carrington 2019). 

Jumlah spesies tanaman yang telah hilang lebih banyak dari jumlah burung, mamalia, dan amfibi yang punah digabungkan.  Angka yang paling baru ternyata empat kali jumlah tanaman yang punah yang tercatat dalam Daftar Merah International Union for Conservation of Nature (IUCN). “Lebih dari yang pernah kita tahu, dan lebih dari yang seharusnya”, ujar Dr. Maria Vorontsova, juga di Kew.  

“Menguatirkan bukan hanya karena angka 571 itu, tetapi justru karena … itu [mungkin] adalah perkiraan yang terlalu rendah”.  Vorontova melanjutkan bahwa angka yang sesungguhnya bisa jadi beberapa puluh, ratus, bahkan ribu kali lebih tinggi dari yang dilaporkan dalam studi itu (Humphreys 2019).  

Selain itu, masih ada ribuan spesies dalam keadaan “hidup segan mati tak mau”, di mana spesies yang masih ada ini tidak akan bisa lagi berketurunan karena, misalnya, hanya tinggal satu kelamin yang tinggal, atau hewan-hewan besar yang mereka butuhkan untuk menyebar benih sudah punah terlebih dulu. Besar kemungkinan beberapa di antara yang punah ini bahkan belum pernah ditemukan sama sekali oleh manusia. Betapa tidak, tiap tahun ditemukan 2.000 spesies baru (Carrington 2019).

Laporan paling baru dari Intergovernmental Science-Policy Platform on Biodiversity and Ecosystem Services (IPBES) (2019), lembaga ilmiah dunia yang paling otoritatif dalam bidang keanekaragaman hayati, memperlihatkan trend yang mengkuatirkan ini.  Lebih dari 1 juta spesies terancam punah, dan langkah-langkah yang kita lakukan untuk mencegahnya jauh dari memadai.  Ini tidak pernah terjadi sebelumnya sepanjang sejarah (dan prasejarah) manusia.

IPBES melaporkan bahwa tiga-perempat lingkungan darat dan sekitar dua-pertiga lingkungan laut telah berubah secara besar-besaran akibat ulah manusia.  Trendnya agak berbeda, bahkan tidak terlihat, pada wilayah-wilayah yang dikelola oleh masyarakat lokal atau adat.  Lebih dari sepertiga wilayah darat dan tiga-perempat sumberdaya air bersih saat ini dikelola untuk kebutuhan pertanian dan peternakan.  Jumlah spesies lokal di habitat daratan menurun sekitar 20 persen, sebagian besar sejak 1900.  

Lebih dari 40 persen spesies amfibi, sepertiga spesies pembentuk koral, dan lebih dari sepertiga mamalia lautan terancam.  Potretnya tidak terlalu jelas untuk spesies serangga, tapi indikasinya menunjukkan paling tidak 10 persen darinya terancam.  Sejak abad ke-16, paling tidak 680 spesies vertebrata punah, dan lebih dari 9 persen mamalia yang dimanfaatkan untuk makanan telah punah pada 2016, dengan sekitar 1000 lagi terancam.  

Trend negatif ini akan terus berlanjut hingga 2050 dan sesudahnya dalam semua skenario kebijakan yang dikaji oleh IPBES karena dampak perubahan tataguna lahan, eksploitasi organisme, dan perubahan iklim, kecuali satu skenario yang di dalamnya terdapat perubahan yang transformatif (IPBES 2019). 

Kepunahan Keenam?

Adalah Jean Léopold Nicolas Frédéric Cuvier, dikenal pula dengan Baron Cuvier, atau Georges Cuvier (1769-1832).  Dia adalah pakar zoologi dan ilmu alam Perancis.  Sering diacu pula sebagai pendiri paleontologi (Reybrouck 2012). Selain memulai bidang anatomi perbandingan dan paleontologi melalui studinya memandingkan hewan hidup dengan fosil, Cuvier juga dikenal sebagai ilmuwan pertama yang menyatakan bahwa kepunahan adalah fakta (saat itu banyak ilmuwan yang menganggap bahwa kepunahan hanyalah sebuah konsep spekulatif).  

Melalui tulisannya, Essay on the Theory of the Earth(Cuvier 1813), Cuvier berteori bahwa kepunahan species diakibatkan oleh banjir besar.  Melaluinya, Cuvier menjadi ilmuwan yang paling berpengaruh dalam ilmu bencana dalam geologi.  Studinya mengenai strata di sungai Paris bersama Alexandre Brongniart meneguhkan dasar-dasar prinsip biostratigrafi.  

Selain itu, Cuvier adalah ilmuwan pertama yang menegaskan bahwa tulang belulang mirip gajah yang ditemukan di Amerika adalah tulang mastodon.  Dia juga yang memberi nama Pterodactylus, dan salah satu yang pertama yang menegaskan bahwa, dulu, pada masa prasejarah, bumi dikuasai oleh hewan reptilia, dan bukan mamalia.

Cuvier adalah salah satu penolak teori evolusi.  Pada 1830 (sebelum Darwin), pengusung teori evolusi adalah Jean-Baptiste de Lamarck dan Geoffroy Saint Hilaire.  Saat itu, Cuvier terlibat dalam debat yang sangat terkenal melawan Saint Hilaire mengenai teori evolusi.  Debat ini mewakili dua cabang pemikiran besar pada saatnya, yaitu apakah struktur hewan didasarkan oleh fungsi atau morfologi (evolusi) ( ).  


Karya Cuvier yang paling terkenal, Le Regne Animal (Kerajaan binatang) (Cuvier 1817), membawanya pada penghormatan ilmiah yang sangat tinggi di Perancis pada 1819.  Karenanya, dia mendapatkan gelar “Baron” di depan namanya (Lee 1833).

Dunia telah mengalami lima kali kepunahan besar-besaran.  Kepunahan pertama adalah yang terjadi saat Ordovician berakhir dan Silurian dimulai, sekitar 450-440 juta tahun yang lalu.  Dua kejadian pada saat itu telah menghilangkan 27 persen dari semua famili, 57 persen genus, dan 60 persen hingga 70 persen spesies (Benton 2003).  

Kepunahan pertama ini dianggap sebagai kepunahan terbesar kedua sepanjang masa, bila dilihat dari banyaknya genus yang hilang.  Kepunahan kedua terjadi pada saat-saat terakhir Devonian, sekitar 375-360 juta tahun yang lalu, tak lama sebelum Carboniferous dimulai.  Beberapa kejadian kepunahan dalam satu perioda sepanjang mungkin sekitar 20 juta tahun, telah memusnahkan 19 persen famili, 50 persen genus (Benton 2003), dan paling tidak 70 persen dari semua spesies yang ada (Briggs dan Crowther 2008).

Kepunahan ketiga adalah kepunahan terbesar yang pernah ada di Bumi.  Begitu besarnya sehingga disebut juga sebagai “Kematian Besar” (Great Dying).  Pada masa transisi akhir masa Permian dan dimulainya masa Triassic, sekitar 252 juta tahun lalu (St. Fleur 2017), sebanyak 57 persen dari semua famili, 83 persen genus, dan 90 persen hingga 96 persen spesies (Benton 2003).  53 persen famili, 84 persen genus, sekitar 96 persen spesies di laut, serta 70 persen spesies darat (Ward 2006), termasuk serangga (Labandeira dan Sepkoski 1993) punah. 

Bahkan trilobite, artropoda laut yang paling “tahan banting”, juga punah.  Kepunahan di kalangan tumbuh-tumbuhan tidak terlalu jelas, tapi beberapa taxa baru menjadi jauh lebih dominan segera sesudah kepunahan besar ini (McElwain dan Punyasena 2007).  Dampak ekologis dari Kematian Besar ini terhadap proses evolusi sangatlah besar. Di daratan, dia telah mengakhiri dominasi reptil serupa mamalia.  

Pemulihan vertebrata membutuhkan waktu 30 juta tahun (Sahney dan Benton 2008). Kekosongan itu kemudian diisini oleh archosaurus (reptil purba termasuk dinosaurus dan pterosaurus) untuk berkuasa. Di lautan, persentase binatang sesil (yang tidak dapat berpindah) turun dari 67 persen menjadi 50 persen.  Masa Permian memang masa yang sangat sulit, utamanya untuk kehidupan laut, bahkan sebelum Kematian Besar ini.


Gambar 3.  Lima kepunahan besar di bumi.


Kepunahan keempat agak lebih dekat ke situasi hari ini.  Pada peralihan Triassic – Jurassic, 201,3 juta tahun yang lalu, atmosfer bumi dipenuhi dengan karbon dioksida.  Lewat penelitiannya di Castello Aragonese, Italia, di mana sebuah lubang bawah tanah menyemburkan gas karbon dioksida hampir murni Hall-Spencer meneliti dampak kepekatan karbon dalam air laut pada makhluk laut.  

Karbon dioksida larut dalam air laut, membuatnya menjadi lebih asam dengan pH — sebuah indikator logaritmis yang menjadi pengukur tingkat keasaman — yang semakin rendah.  Di cerobong karbon dioksida tersebut, sebuah model bisa dilihat, di mana air laut yang jauh dari cerobong, dengan keasaman yang normal, makhluk laut terlihat berenang-rendang dengan nyaman.  Di tempat di mana pHnya 7,8, tidak ada lagi terlihat makhluk-makhluk itu.  pH 7,8 ini tampaknya adalah sebuah batas atau tipping point.  

Sebagian dari karbon dioksida yang diemisikan ke atmosfer akan diserap ke dalam laut, membuatnya menjadi lebih asam sedikit demi sedikit.  Sekitar satu setengah miliar ton karbon dioksida diserap dan di simpan oleh air laut tiap tahunnya.  Bila tidak ada tindakan apapun untuk menurunkan emisi karbon dioksida ini, maka pH air laut akan mencapai 7,8 pada sekitar tahun 2100 (seperti diceritakan kepada Kolbert, diceritakan kembali oleh Kolbert, 2014). Hall-Spencer (2014) menulis dan menerbitkan penelitiannya di Castello Aragonese pada 2008.

Pada kepunahan keempat ini, sekitar 23 persen dari semua famili, 48 persen genus (20 persen famili dan 55 persen genus di lautan) dan 70 persen hingga 75 persen dari semua spesies punah (Benton 2003).  Hampir semua archosaurus kecuali dinosaurus, hampir semua therapsids, dan hampir semua amfibi besar hilang dari muka bumi, meninggalkan dinosaurus berkuasa tanpa pesaing di daratan.  Archosaurus selain dinosaurus terus mendominasi lingkungan perairan, sementara diapsids non-archosaurus terus mendominasi lingkungan laut.  Keturunan Temnospondyl, amfibi besar seperti Koolasuchus, juga bertahan hingga Cretaceous di Australia.

Kepunahan kelima, yang paling baru, terjadi pada akhir Cretaceous (Maastrichtian) dan awal Paleogene (Danian), sekitar 66 juta tahun yang lalu (Macleod et. al. 1997). Sekitar 17 persen dari semua famili, 50 persen genus, dan 75 persen spesies menghilang (Raup dan Sepkoski Jr 1982). 

Di lautan, semua ammonites, plesiosaurus, dan mosasaurus menghilang, sementara binatang sessile (yang tidak dapat berpindah) berkurang menjadi hanya sekitar sepertiga.  Semua dinosaurus yang tak bisa terbang punah pada saat ini (Fastovsky dan Sheehan 2005).  Kejadiannya sangat luar biasa.  Mamalia dan burung, sebagai keturunan dinosaurus theropoda (dinosaurus bersayap) muncul sebagai binatang besar yang kemudian mendominasi.

“Kita telah memasuki epos Anthropocene,” ujar Paul Crutzen pada pertemuan Scientific Committee dari International Geosphere Biosphere Program (IGBP) di Cuernavaca, Mexico, pada Februari 2000, yang kemudian dituangkannya dalam sebuah artikel di jurnal ilmiah Nature pada 2002 dengan judul Geology of Mankind: The Anthropocene.  Artinya, sebuah epos baru telah dimulai di mana aktivitas manusia telah secara dominan mempengaruhi iklim dan lingkungan (Crutzen 2002; Steffen et al. 2007).

Rata-rata, sekitar seperempat dari kelompok flora dan fauna yang dikaji oleh IBSEP — sekitar satu juta spesies — berada dalam situasi terancam kepunahan, beberapa di antara hanya dalam jangka waktu beberapa dekade saja, kecuali ada tindakan nyata untuk mengurangi penyebab ancaman ini.  

Tanpa tindakan tersebut, kepunahan spesies global akan semakin cepat — saat inipun, menurut IPBES, sudah sepuluh hingga seratus kali lipat dibandingkan dengan jangka waktu sejak 10 juta tahun yang lalu (IPBES 2019).  Menurut penelitian terbaru atas kepunahan tanam-tanaman, bahkan percepatan kepunahan saat ini sudah lima ratus kali lipat (Humphreys 2019, Carrington 2019).

Semua ini membawa pertanyaan: Apakah kita sedang memasuki sebuah proses kepunahan keenam?  Apakah kepunahan keenam ini adalah kepunahan terakhir yang akan terjadi di Bumi, sebuah kejadian yang dalam kata lain akan disebut sebagai “kiamat”?

Dampak Perubahan Iklim pada Keanekaragaman Hayati: Kombinasi yang Fatal Untuk Manusia

Melalui The Sixth Extinction, pada tahun 2015 Elizabeth Kolbert (2014) memenangi penghargaan Pulitzer, penghargaan tertinggi untuk susastra.  Dia mendokumentasikan beberapa pengamatan yang dilakukan di banyak ekosistem dunia yang sedang berubah karena perubahan-perubahan klimatik, misalnya perubahan kandungan karbon dioksida di laut yang mengubah distribusi hewan-hewan laut, perubahan suhu yang mengubah distribusi pepohonan di hutan.  Selain jatuhnya meteor yang mengakhiri Cretaceous, semua kepunahan besar lainnya terjadi karena semakin panas atau semakin dinginnya suhu bumi (Kolbert 2014).


Laporan Kajian Keempat IPCC (IPCC 2007), berdasarkan penelitian melalui modelling dan percobaan, memperlihatkan perubahan besar yang akan terjadi pada persebaran ekosistem di Bumi akibat perubahan-perubahan yang terjadi mengikuti iklim yang berubah. Pada kasus di mana wilayah dengan iklim yang lebih disukai ternyata sudah tidak tersedia lagi (misalnya karena urbanisasi atau perubahan-perubahan lain), maka ekosistem tersebut akan hilang selamanya.  

Perubahan persebaran ekosistem ini akan lebih banyak terjadi di wilayah tropika, di mana suhu yang meningkat dan perubahan curah hujan diperburuk oleh perubahan tataguna lahan.  Kondisi yang lebih kering akan menyebabkan ekosistem padang rumput (savana) untuk bergeser ke wilayah ekuator yang saat ini ditempati oleh hutan lebat.

Selain memaksa banyak ekosistem untuk berpindah, perubahan iklim juga akan mengubah komposisi di dalamnya. Kekayaan spesies di beberapa lokasi akan jauh menurun.  Hal ini sangat mengkuatirkan, karena kekayaan spesies menjamin sebuah ekosistem agar terus menjalankan fungsinya.  Beberapa proses yang bergantung pada kekayaan spesies di antaranya adalah penyimpanan karbon. Dalam beberapa kasus, krisis iklim juga akan memfasilitasi penyebaran spesies invasif, yang dapat berdampak besar pada komposisi ekosistem. 

Perubahan komposisi spesies dapat menyebabkan perubahan fisik dan trofik dari ekosistem, yang akan berdampak pada fungsi dan komposisi ecosystem itu.  Contohnya, padang rumput di daerah beriklim subtropis akan dikeroyok oleh pohon-pohon besar, sementara di ekosistem tropis pohon-pohon besar justru hilang karena kekeringan yang panjang.  

Karang laut sangat rentan terhadap perubahan iklim.  Kenaikan suhu dan tingkat keasaman akan menyebabkan pemucatan (bleaching) dan penyakit-penyakit lain.  Banyak jenis karang akan terancam punah, dan akan sangat mengganggu kehidupan yang didukung oleh karang-karang laut tersebut.

Melalui modelling dan percobaan, kombinasi antara perubahan iklim dengan perubahan komposisi dan struktur ekosistem akan mengubah fungsi ekosistem.  Beberapa model memperlihatkan bahwa net primary production(NPP, memperlihatkan kandungan karbon) meningkat sejalan dengan berubahnya suhu dan curah hujan selama Abad ke-20, walaupun berbeda-beda antara satu wilayah dengan lainnya.

Ekosistem memberikan nilai dan layanan kepada umat manusia.  Memanasnya bumi akan meningkatkan suhu air laut, yang akhirnya akan sangat mempengaruhi perikanan.  Kerusakan dan kematian karang akan memperburuk dampak ini.  Perubahan iklim akan mengubah siklus air dan mengurangi kapasitas ekosistem untuk menyerap dan menyimpan karbon, yang pada akhirnya akan menyebabkan efek umpan balik yang memperburuk.

Hasil pengamatan dan modeling memperlihatkan bahwa perubahan iklim telah mempengaruhi penyebaran tumbuhan dan hewan, yang menyebabkan ancaman, bahkan kepunahan, beberapa spesies. Beberapa spesies tidak dapat beradaptasi dengan mudah dengan perubahan-perubahan yang terjadi. Akibatnya, hutan dan ekosistem laut tidak akan lagi bisa berfungsi sebagaimana mestinya.  IPCC Kajian Keempat IPCC menyatakan bahwa 20-30 persen dari spesies yang dikaji akan menghadapi resiko kepunahan bila suhu bumi meningkat sekitar 1,5-2,5 °C.  Penelitian terbaru memperlihatkan bahwa 35-70 persen spesies burung, binatang amfibi, serta karang air hangat kemungkinan akan terancam kepunahan akibat perubahan iklim.

“Kita memakan keanekaragaman hayati.  Hilangnya keanekaragaman hayati adalah hilangnya sumber pangan kita”, Vandana Shiva, seorang pejuang sosial dan lingkungan dari India, sempat memberikan pernyataan dalam salah satu kunjungannya ke Jakarta.  Keanekaragaman hayati memang kekayaan yang selalu tidak terlihat nilainya. 

Tanggapan seperti “kenapa mesti kuatir dengan satu-dua kepunahan, sih?” memang sering didengar, seperti juga “kenapa kita harus banyak-banyak mengeluarkan daya, upaya, dan dana untuk konservasi alam dan keanekaragaman hayati?”  Padahal, empat miliar orang di dunia bergantung kepada obat-obatan alami untuk menjaga kesehatan mereka, dan sekitar 70 persen dari obat kanker adalah obat alami atau sintetik yang terinspirasi oleh alam.  

Alam, melalui proses ekologis dan evolusi menjaga kualitas udara, air bersih, lahan di mana seluruh umat manusia tergantung, menjaga keteraturan iklim, menyebabkan polinasi untuk kelangsungan hidup spesies tumbuh-tumbuhan, pengendalian penyakit, dan pengurangan resiko dan dampak bencana alam. 

Contohnya, lebih dari 75 persen tanaman pangan dunia, termasuk buah-buahan dan sayuran, serta tanaman dengan harga jual tinggi seperti kopi, kokoa, dan almonds, tergantung pada polinasi yang dibantu oleh hewan.  Ekosistem darat dan laut adalah penyerap alami karbon dioksida satu-satunya yang ada, dengan kapasitas penyerapan karbon sekitar 5,6 gigaton (miliar ton, Gt) karbon per tahun (sekitar 60 persen dari total emisi akibat aktivitas manusia sedunia) (IBSAP 2019).

“Jutaan spesies, termasuk manusia, bergantung kepada tanam-tanaman untuk keberlangsungan hidup mereka.  Mengetahui tanaman apa yang sedang dalam proses menghilang di daerah mana akan memberikan informasi yang baik untuk program-program konservasi kita”, Nic Lughadha melanjutkan (Carrington 2019).  Sahabat saya, Jalal, pernah menyebutkan saat berada di satu panel diskusi dengan saya: “kita tidak bisa melawan alam.  Kita hidup atas kebaikan alam.  Kita tergantung pada alam”.

 

Acuan Pustaka 

Barras, C., 2016. “How Humanity First Killed The Dodo, Then Lost It As Well” BBC (9 April 2016).

Benton, M.J., 2003.  When Life Nearly Died: The Greatest Mass Extinction of All Time.  Thames and Hudson, London, Inggris.

Bowler, P.J., 2009.  Evolution: The History of an Idea (25th Anniversary ed.).  University of California Press, Berkeley, California, Amerika Serikat.

Briggs, D., dan P.R. Crowther, 2008.  Palaeobiology II.  John Wiley and Sons, London, Inggris.

Carrington, D., 2019. “‘Frightening’ Number of Plant Extinctions Found in Global Survey”, The Guardian(10 Juni 2019)

Carroll, L., 1865.  Alice’s Adventures in Wonderland.  MacMillan, London, Inggris.

Crutzen, P.J., 2002. “Geology of Mankind: The Anthropocene,” Nature (415), p. 23.

Cuvier, B.G., 1813.  Essay on the Theory of the Earth.  Blackwood, Edinburgh, Inggris.

Fastovsky, D.E., dan P.M. Sheehan, 2005.  “The Extinction of the Dinosaurs in North America”, GSA Today (15/3), pp. 4-10.

Hamdani, I., 2019.  “Kawanan Harimau Jawa Dikabarkan Terlihat di Gunung Raung, Percaya?” Jatim Now (5 Januari 2019) (jatimnow.com).

Hall-Spencer, J.M., 2008. “Volcanic Carbon Dioxide Vents Sgow Ecosystem Effects of Ocean Acidification”,Nature (454), pp. 96-99.

Humphreys, A.M., R. Govaerts, S.Z. Ficinski, E.N. Lughadha, dan M.S. Vorontsova, 2019.  “Global Dataset Shows Geography and Life Form Predict Modern Plant Extinction and Rediscovery”, Nature Ecology and Evolution (10 Juni 2019).

IPBES (Intergovernmental Science-Policy Platform on Biodiversity and Ecosystem Services), 2019. Global Assessment Report on Biodiversity and Ecosystem Services 2019. Intergovernmental Science-Policy Platform on Biodiversity and Ecosystem Services, Bonn, Jerman. 

Kolbert, E., 2014.  The Sixth Extinction: An Unnatural History.  Henry Holt and Company, New York.

Labandeira, C.C., dan J.J. Sepkoski, 1993.  “Insect Diversity in the Fossil Record”, Science (261/5119), p. 310.

Lee, R., 1833.  Memoirs of Baron Cuvier.  Longman, Reese, Orme, Brown, Green, and Longman, London, Inggris.

Macleod, N., P.F., Rawson, P.L. Forey, F.T. Banner, M.K. Boudagher-Fadel, P.R. Bown, J.A. Burnett, P. Chambers, S. Culver, S.E. Evans, C. Jeffery, M.A. Kaminski, A.R. Lord, A.C. Milner, A.R. Milner, N. Morris, E. Owen, B.R. Rosen, A.B. Smith, P.D. Taylor, E. Urquhart,dan J.R. Young, 1997.  “The Cretaceous-Tertiary Biotic Transition”, Journal of the Geological Society (154/2), pp. 265-292.

McElwain, J.C., dan S.W. Punyasena, 2007.  “Mass Extinction Events and the Plant Fossil Record”, Trends in Ecology and Evolution (22/10), pp. 548-557.

Raup, D., dan J. Sepkoski, Jr., 1982, “Mass Extinction in the Marine Fossil Record”, Science  (215/4539), pp. 1501-1503.

Reybrouck, D., 2012.  From Primitives to Primates: A History of Ethnographic and Primatological Analogies in the Study of Prehistory.  Sidestone Press, Leiden, Belanda.

Sahney, S., dan M.J. Benton, (2008).  “Recovery from the Most Profound Mass Extinction of All Time”, Proceedings of the Royal Society of Biological Sciences (275/1636), pp. 759-765.

Strauss, B., 2017. “Javan Tiger,” Thoughtco (17 Maret 2017).

St. Fleur, N., 2017. “After Earth’s Worst Mass Extinction, Life Rebounded Rapidly, Fossil Suggests”, New York Times(16 Februari 2017).

Steffen, W., P.J. Crutzen, dan J.R. McNeill, 2007.  “The Anthropocene: Are Humans Now Overwhelming the Great Forces of Nature?” Ambio(Vol. 36, No. 8, Desember 2007) pp. 614-621).

Strickland, H.E., dan A.G. Melville, 1848.  The Dodo and Its Kindred; or, The History, Affinities, and Osteology of the Dodo, Solitaire, and Other Extinct Birds of the Islands Mauritius, Rodriguez and Bourbon. London, Reeve, Benham, and Reeve, London, Inggris.

Ward, P.D., 2006. “Impact From the Deep”, Scientific American.

Woodyatt, A., 2019. “Malaysia's Last Male Sumatran Rhino Dies”, CNN(27 Mei, 2019).

Artikel Terkait