Setelah dari Bandara Internasional Minangkabau, naik damri, aku tiba di Taman Imam Bonjol. Ada beberapa helai baju, celana, celana dalam, singlet, sebotol sabun mandi cair, odol, dan sikat gigi dalam tas ransel yang juga berpagut bersama rindu di dada--rindu pada Ibu, adik-adik, dan kampung halaman. Mungkin juga kawan sepermainan dulu?

Segera aku duduk di halte bersama penumpang lain yang baru turun. Segera aku menenggak air mineral yang kukeluarkan dari saku tas ransel. 

Penglihatanku lantas diundang untuk tertarik pada sebuah lapak koran, tak jauh dari halte. Ternyata koran masih dibutuhkan di kota ini, batinku--di tengah riuh media online dan media sosial. Terbukti dengan ada saja orang yang datang membeli.

Melihat tukang lapak koran, aku jadi teringat kebiasaan-kebiasaanku sewaktu kuliah dulu. Hampir setiap hari aku datang ke lapak koran dekat gerbang kampus. Selain karena uang belanja yang memang berlebih, tujuanku tak hendak ingin bete di waktu luang.

Sudah 30 puluh menit aku duduk di halte. Orang-orang yang sehalte denganku sudah pergi. Tinggal diri sendiri, bersama udara panas yang mulai terasa gerah. Penat dan jenuh pun pelan-pelan menghampiri.

Kuhembuskan napas pelan. Memanjar bungkus rokok di saku ranselku. Mengeluarkan isinya sebatang, lantas menyelipkannya di bibir dan membakarnya. Aku memang masih harus lebih sabar lagi menunggu kedatangan mobil travel.

“Uda tahu atau tidak, di Padang sampai hari ini belum ada terminal, tidak pula ada bus yang ke Air Haji. Masih seperti dulu, naik travel,” kata adik perempuanku, Mita, tadi malam ketika kukabarkan tentang kepulanganku.

“Aku masih ingat di mana mencari mobil travelnya,” kataku.

“Jangan yang dekat Masjid Muhammadiyah. Jangan pula yang di Gaung. Ditelepon sopir travelnya. Lalu, katakan di mana Uda menunggu.”

Segera aku tersadar, rupanya ada cara baru dan “canggih” untuk bisa sampai ke kampung.

“Kalau Uda mencari travel yang dekat Masjid Muhammadiyah atau Gaung. Nanti tangan Uda ditarik-tarik calo. Dan lama benar menunggu penumpang penuh.”

Kuikuti saran Mita. Setelah ia kirim nomor hp sopir travel.

Tak beberapa lama setelah aku nikmati sebatang rokok, berhenti sebuah mobil Avanza hitam di seberang jalan. Sopirnya melongok ke sana-sini dari kaca mobil yang terbuka. Sejenak ia tertegun, dan tajam memandang ke arahku. Aku pun mengerti, kuangkat sebelah tanganku.

Mobil berputar-belok di jalan, ke arahku. Lantas, kukatakan,”Air Haji.”

***

Sudah kubayangkan jalan yang banyak liku, hamparan laut yang tak jauh dari pinggir jalan, tebing dan bukit curam, rumah makan yang akan disinggahi mobil dalam lima jam perjalanan menuju kampung. Ketika mobil sudah meninggalkan batas kota, masuk kabupaten, kaca mobil segera kuturunkan--berhamburan udara sejuk yang menyesap ke wajah dan dada.

Aku lantas menengok semua pemandangan sembari larut dalam kenangan pada masa sekolah di kampung dahulu. Ada di pelupuk mata saat-saat aku berangkat ke Padang naik travel dan berangkat ke Jawa naik pesawat--di saat jarangnya orang sekampungku yang mampu kuliah di Jawa. Tiga belas tahun silam.

Sampai. Setelah bayar ongkos, dari depan pintu pagar rumah yang tak terkunci, kuperhatikan halaman rumah yang banyak berubah. Bunga-bunga yang dulu tak ada lagi, berganti dengan bunga-bunga lain di dalam pot yang berjejer dekat teras. Pohon jambu-air sudah ditebang. Ada juga pohon mangga yang sengaja dibuat bonsai. Dan puding di sisi pagar, mungkin bukan puding yang dulu lagi atau masih yang dulu, entah.

Tampak sepi rumah. Kuketok pintu. Tak berapa lama, terdengar bunyi langkah kaki. Segera kutaksir, pasti Mita yang akan membukakan pintu.

Tepat. Segera setelah pintu dibuka, ia tersenyum padaku. Ramah-tamah, dan ajakan masuk yang seperti pekikan.

Aku meletakkan tas ranselku di lantai begitu saja. Duduk di kursi ruang tamu. Lantas aku merokok. Mita datang dari dapur dengan membawakanku segelas teh. Dan duduk di kursi seberang.

Semua rasa kangenku terhadap rumah dan kampung seketika terobati begitu kutapik-tapik tangan kursi.

***

Kuperhatikan dinding rumah yang masih itu saja. Putih dengan kekusaman yang kentara. Bahkan ada terkelupas di sana-sini. Loteng, nampak bekas rembesan air tanda ada atap yang bocor. Tak diperbaiki, hatiku risih jadinya.

“Mana ibu?” kataku

Mita nampak menarik napas pelan. Matanya berkaca-kaca. Tak mampu memandang wajahku, seperti ia ingin menyembunyikannya.

“Setiap hari Ibu bercerita tentang Uda. Ia begitu merindukan Uda. Di saat makan malam, sering ia menceritakan kisah kesuksesan Uda. Kegigihan Uda. Selalu setelah Uda cerita di hp, ia ceritakan lagi kepada kami. Ia begitu bangga pada Uda. Semua foto-foto yang Uda kirim ia simpan rapi di album,” kata Mita yang lantas menangis.

"Mana Ibu, kok tak kelihatan," kataku lagi.

Mita masih menangis. Gerak hatiku pun sudah tak tertahan. Aku segera mengerti maksud Mita.

“Ibu meninggal? " leherku seperti patah mengucapkannya. Dadaku menyesak. "Aku kok tak tahu?”

“Waktu Mita menelepon, Uda katakan sedang keluar kota, sedang tidak bisa bicara lewat hp. Ibu dan Mita sepakat tak menelepon Uda lagi. Waktu itu Ibu sedang sakit keras dan memanggil-manggil nama Uda. Belum sempat pergi ke puskesmas, Ibu akhirnya meninggal di rumah.”

Segera kumatikan rokokku. Dadaku tertohok.

Pelan-pelan di kedua sudut mataku menetes air. Kenyataannya, Ibu meninggal aku tak tahu.

"Ibu meninggal lima bulan yang lalu," kata Mita.

Lama hening.

Aku memandang wajah Mita. Dia dua tahun di bawahku, 30 tahun umurnya kini. Tentu saja dia cuma perempuan desa sederhana yang lulusan SMA. Tapi ia termasuk pintar di sekolah dulu. Karena aku waktu itu masih kuliah, otomatis peluangnya untuk kuliah setelah tamat tertutup. Sebenarnya, punya ijazah SMA sudah begitu tinggi baginya--ia tipe orang yang pandai bersyukur menurutku. 

Ibu hanya janda yang kerjanya menjahit pakaian, yang punya sepetak tanah di daerah mudik peninggalan Ayah yang tauke pinang. Inginnya Mita punya usaha sendiri, tapi Ibu tak ada modal untuk diberi kepadanya. Ia jadinya bekerja di toko untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya.

“Sudah hampir Magrib, Ari kok belum juga pulang ke rumah ya?” kataku membuka percakapan lagi.

“Dia lama hidup frustasi di kampung setelah Uda menolak permintaannya untuk kuliah. Padahal dulu waktu SMA ia begitu terinspirasi dengan kisah-kisah Uda. Setiap cerita yang ia dapatkan dari Ibu tentang Uda seperti pegangan hidup baginya. Ia begitu bersemangat belajar. Bahkan sampai tengah malam. Ia ingin seperti Uda. Ia pergi merantau. Ke Palembang. Berjualan kopi dan rokok.”

Ari adik terakhirku. Ia datang ke rumahku di Jawa seorang diri meminta uang masuk kuliah dan jaminan uang SPP karena ia telah diterima kuliah di negeri, di Padang. Katanya, lewat telepon pasti tak kuangkat. Kukatakan, urus saja surat keterangan miskin atau beasiswa. Waktu itu aku baru beli rumah dan tabungan hanya sedikit--belum lagi cicilan mobil yang baru pula kubeli. Istri dan pendidikan (masa depan) anak yang jadi pikiranku waktu itu. Karirku belumlah secermelang sekarang.

"Masalahnya uang masuk tak ada," kata Ari terlihat menangis setelah permintaannya kutolak.

Bermalam pun Ari tak mau di rumahku. Usahaku melunakkan hatinya dengan memberinya ongkos pulang, ia tampik.

“Kata Ari sebelum merantau. Ia ingin mandiri. Ibu marah kepadanya karena ia seperti mengumpat. Katanya sebelum memutuskan merantau, ’Foto dan cerita saja yang ia kirimkan ke kampung.”

Mita berbicara terbata-bata. Hatiku pun seperti diaduk. Miris. Aku pun kembali tersedu.

"Semenjak Ayah meninggal Ibu terus banting-tulang dan aku ingin menyenangkan Ibu di hari tua, kata Ari sebelum meninggalkan rumah," kata Mita lagi.

Kuteguk sedikit tehku.

Tentu aku melihat gambaran beban di wajah Mita. Betapa tidak. Hidup di kampung, sebagai seorang perempuan yang sudah berumur 30 tahun, tentu saja ada rasa di dirinya, masyarakat sudah mendesaknya--aku sendiri ada rasa bersalah, karena tak bisa mencarikan jodoh untuknya. 

Tapi ia kuperhalikan terlihat lepas. Mita pernah bilang dulu padaku, waktu aku pulang libur kuliah, ia tak mau bersuami yang hanya numpang hidup di rumahnya. Maksudnya tentu saja suami yang ada kerjanya. Boleh tinggal di rumah pihak perempuan, seperti adat Minang, tapi harus ada kerjanya. Ia masih mengulang kata ada kerjanya dua kali lagi waktu itu.

“O ya Mita, setelah habis rokok dan teh ini, aku ingin ke Mudik, melihat tanah kita. Sepeda motor ada kan. Aku ingin meminum kelapa muda yang baru diambil dari batangnya. Sibak masih tinggal dekat sana kan. Nanti dia yang kusuruh memanjat pohon kelapa kita,” kataku sembari menghisap rokok.

“Sepeda motor sudah dijual Ari untuk modal merantau. Tanah kita sudah tidak ada. Sudah dijual Ibu untuk kuliah dan biaya hidup Uda di Jawa dulu,” kata Mita, wajahnya berubah ketus. Ia lantas berdiri, beranjak pergi ke dapur.

Sendiri. Kembali hanya hening. Kutengok foto wisudaku di dinding. Aku jadi terkenang Ibu.

"Tapi Ari pulang sewaktu Ibu meninggal. Walau ia memang belum sukses," kata Mita lantang dari dapur--terdengar sesegukannya.

Entah mengapa pikiranku tiba-tiba mengarah ke cerita Malin Kundang yang dulu sering Ibu dongengkan padaku sebelum tidur sewaktu kecil, setelah mendengar kalimat Mita yang terakhir.

Terasa ada getar bumi yang kupijak.