Sore itu Mas Herman mengunjungi tanah kelahirannya di sebuah desa di kota L. Tak lupa ia mengajak Mbak Dewi, istrinya. Sementara dua orang anaknya tetap tinggal di Jakarta. Bersamaku karena harus masuk sekolah. 

Kemarin pagi ketika baru datang dari mudik lebaran di kampung halaman, aku segera mengabarkan berita bahwa bapaknya, Uak Haji Jali, meninggal dunia.

“Benar, Tri?” katanya.

“Iya, Mas.”

Mas Herman terdiam. Kulihat ia menunduk ke lantai marmer sejenak, kemudian masuk ke kamar. Aku segera pergi ke kamarku. Menaruh tas dan barang bawaan lainnya dari rumah. 

Sudah setengah tahunan ini aku bekerja di rumah Mas Herman yang masih termasuk kerabat denganku. Mindoan. Bapakku dan bapaknya masih saudara sepupu. Dulu, ketika mendatangi panggilan pekerjaaan di sebuah perusahaan, tanpa sengaja aku bertemu dengannya. 

“Sulastri. Benar kamu Sulastri?” katanya. Aku mengangguk dan  mencoba untuk mengenalinya.

“Aku Herman. Mas Herman. Kau ingat bukan?!””

Kemudian dia menceritakan bahwa dirinya adalah salah seorang manager di perusahaan itu. Dan beberapa hari yang lalu, tanpa sengaja dia menemukan lamaran pekerjaanku di bagian personalia. Katanya lagi, dia meminta kepada bagian personalia agar aku dimasukkan dalam kelompok yang mendapatkan panggilan kerja. Dan itu adalah rencananya untuk bertemu denganku. 

Ketika dia bertanya tentang diriku, aku mengatakan bahwa setelah bercerai dengan Mas Surip beberapa bulan yang lalu, aku minta ijin kepada keluarga untuk pergi ke Jakarta. Mencoba mengadu untung sekaligus mencari suasana baru. Untunglah, aku belum dikarunia seorang anak, sehingga tak punya tanggungan kecuali diri sendiri. 

*

Sore itu, aku pamit kepada orang sedesa denganku yang tinggal di daerah Pasar Senen. Selama di Jakarta, aku numpang di rumahnya. Aku mengatakan kepadanya bahwa sebenarnya aku tidak diterima bekerja di perusahaan, tapi ada seseorang yang menawari aku bekerja sebagai pembantu pada sebuah keluarga di daerah Menteng. 

Karena Mas Herman menyuruhku merahasiakan keberadaan dirinya, maka aku pun tidak mengatakan bahwa aku bekerja di rumah Mas Herman. Aku juga tidak memberitahu alamat kepada orang sedesaku itu. Saat melepas kepergianku, ia menasehatiku untuk berhati-hati. Kulihat di wajahnya tersirat kekhawatiran. Aku membalasnya dengan tersenyum.

Setelah menemukan alamat yang diberikan Mas Herman, aku hanya berdiri di depan pagar halaman. Menatap sebuah rumah bertingkat yang cukup besar. Sebelumnya, tak pernah kusangka rumah Mas Herman seperti itu. Aku melangkah masuk ketika Mas Herman memanggilku dari pintu. Tak lama kemudian, aku pun tahu bahwa rupanya Mas Herman sudah mempunyai dua orang anak dan keduanya sudah duduk di bangku Sekolah Dasar. 

*

Kira-kira dua belas tahun aku tak bertemu Mas Herman. Sejak lulus kuliah, ia tak pernah kelihatan di rumah. Kata Uak Misri, Emaknya, Mas Herman memang tak pernah pulang. Bahkan lebaran pun tidak. Dan sudah sepuluh tahunan ini, Mas Herman tak pernah berhubungan dengan orang rumah sama sekali. 

Pernah suatu ketika orang tua Mas Herman menyuruh salah seorang anaknya, Mas Danu untuk mencari Mas Herman di Jakarta setelah beberapa orang tetangga yang mudik lebaran memastikan bahwa Mas Herman masih di sana. Berdasarkan informasi yang dikumpulkan dari para tetangga yang pernah melihat Mas Herman, Mas Danu mencoba mencari. Memang akhirnya Mas Danu menemukan alamat Mas Herman, namun pemilik rumah kontrakan mengatakan bahwa Mas Herman telah pindah beberapa hari yang lalu.     

Beberapa hari yang lalu aku juga mendengar dari orang sedesaku yang rumahnya kutumpangi. Katanya, ia pernah beberapa kali bertemu Mas Herman dan tak pernah lama bercakap-cakap. Namun, ketika ia bertanya tentang alamat, Mas Herman hanya diam kemudian pamit pergi. Sampai kini, ia tak pernah tahu di mana Mas Herman tinggal. 

*

Aku cukup senang bahwa sore itu Mas Herman mengunjungi orang tuanya. Ya, sudah seharusnya seorang anak pulang setelah mendengar berita bahwa Bapaknya meninggal, pikirku.

Dulu, ketika aku pertama kali bertemu dengannya di Jakarta, aku pernah menanyakan, kenapa ia selama ini tak pernah pulang. Bahkan di waktu lebaran pun tidak. Namun, ia hanya diam. Saat pamit pulang lebaran dua mingguan yang lalu, aku juga bertanya kepadanya.

“Mas Herman pulang lebaran kali ini?”

“Entahlah.” 

Hanya itu. Ia kemudian pergi ke kamarnya mengambil pesangon untukku. 

Saat melepas kepergianku, ia berpesan kepadaku agar tidak memberitahu  kepada orang rumah bahwa aku bekerja di rumahnya.  

“Tri, jangan bilang siapa-siapa, ya,” katanya. Tentu saja, aku terkejut. Aku mendengar dari mulut Mas Herman sendiri. Aku pun terus bertanya-tanya. Bahkan sampai kini, aku masih bertanya-tanya meski aku sering berhasil melupakan hal itu. 

*

Sore itu, Mas Herman menelpon. Ia mengatakan bahwa dirinya akan cukup lama tinggal di desa. Ada urusan yang harus aku selesaikan, katanya. Ia meminta pengertianku karena akan cukup lama mengurus dua orang anaknya sendirian. Nggak apa-apa, kataku saat itu. Ia kemudian mengatakan bahwa dirinya sudah mengirim uang kepadaku untuk keperluan sehari-hari. 

Sudah sepuluh hari. Namun, Mas Herman dan Mbak Dewi belum juga kembali. 

*

Setelah mengantar dua anak Mas Herman masuk sekolah, aku pergi ke pasar. Di sana, tanpa sengaja aku bertemu dengan orang sedesaku yang dulu rumahnya kutumpangi. Pada lebaran kemarin, aku juga bertemu dengannya di desa. Waktu itu, ia mengatakan bahwa aku sombong karena tidak pernah mengunjungi dirinya. Rumahnya. Aku tersenyum meminta maaf kepadanya. Aku cukup sibuk, kataku. 

Setelah menanyakan kabar masing-masing, ia kembali menanyakan alamat di mana aku bekerja. Namun, aku tetap dengan jawaban seperti biasanya. Di daerah Menteng. Itu saja. Karena memang Mas Herman menyuruhku untuk merahasiakannya.

“Kamu tahu Herman, Tri,” katanya tiba-tiba. 

“Iya.” 

“Beberapa hari yang lalu, aku mendengar kabar bahwa Herman pulang ke desa setelah beberapa tahun tak pernah pulang.” 

“Ya, baguslah. Apalagi bapaknya, Uak Haji Jali, baru saja meninggal.”

“Dan kamu tahu, Tri. Ternyata, kepulangannya hanya membawa celaka?!”

“Membawa celaka bagaimana?”

“Iya. Kini, keadaan keluarga Haji Jali tak karuan. Anak-anaknya berebut warisan. Bahkan Herman sampai menyewa pengacara untuk berhadapan dengan saudara-saudaranya. Dan Uak Misri jatuh sakit karena hal tersebut.”

Aku tersentak. Tak percaya. Namun, orang sedesaku itu terus meyakinkan bahwa itulah yang terjadi sebenarnya. Dalam perjalanan pulang, pikiranku tak karuan. Tiba-tiba aku sudah berada di depan rumah bertingkat yang cukup besar milik Mas Herman.