pengajar
3 bulan lalu · 330 view · 6 menit baca · Sosok 58059_77592.jpg
presidenri.go.id

Kepribadian Quraish Shihab dan Karyanya yang Tak Pernah Usang

Jika tidak dianggap berlebihan, saya berani mengatakan bahwa Quraish Shihab adalah cendekiawan-ulama yang paling produktif di Indonesia. Bukan hanya banyaknya karya yang dihasilkan (lebih dari 50 buah), melainkan juga karena kualitas dari tulisan-tulisannya yang berbobot.

Di hari ulang tahunnya yang ke-75 (semoga Allah memberkahi umurnya), penulis yang merupakan anak “ideologis” beliau merasa tergerak untuk setidaknya berterima kasih atas segala sumbangsihnya selama ini. Bukan dengan harta, tetapi sekadar menyajikan kontribusi beliau terhadap umat Islam yang salah satunya ialah melalui karya tulis.

Terbatasnya tempat, di sini saya akan sekadar menyampaikan beberapa di antaranya, seperti Tafsir Al-Misbah, Wawasan Al-Quran, Sunni-Syiah Bergandengan Tangan, dan Jilbab.

Indonesia patut bersyukur karena memiliki Quraish Shihab, sosok ulama besar yang memiliki kedalaman ilmu tafsir Alquran. Betapa tidak, secara akademis, beliau telah menekuni bidang tersebut sejak S1 hingga S3 (linier) di Universitas yang juga tidak diragukan lagi kualitasnya (Al-Azhar Kairo).

Sampai saat ini saja—di Indonesia—tidak banyak jumlah ulama ahli tafsir. Untuk sekadar menyebut nama, ada Syaikh Abdur Rauf Singkily, Syaikh Nawawi Al-Bantani, Mahmud Yunus, KH MHD Ramli, KH R Muhammad Adnan, Buya Hamka, A.Hassan (itu pun tafsir singkat), Tim Tafsir Depag, Ahmad Surkati, Hasby Ash-Shiddieqy.

Meskipun setiap tafsir memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing, misalnya saja Tafsir karya Buya Hamka yang memiliki kelebihan di bidang sastra tetapi agak sulit dimengerti karena pemilihan penulisan diksi yang sudah sedikit asing di telinga orang Indonesia, karya tafsir Quraish Shihab dapat dikatakan sebagai karya kontemporer yang cukup komprehensif. 

Dari semua kitab tafsir yang ditulis ulama Indonesia, sepertinya Al-Misbah merupakan kitab yang paling tebal dengan jumlah sekitar 700 halaman per jilidnya.

Ketika memulai menafsirkan sebuah surat dalam Aquran, Quraish Shihab selalu mengawalinya dengan memberikan gambaran besar tema surat tersebut, memaparkan asbabun nuzulnya (jika ada), hubungan surat yang akan dibahas dengan surat sebelum dan sesudah, macam-macam nama dari surat tersebut, serta memberi tahu lokasi turunnya surat. Bisa jadi yang dipaparkannya merupakan kumpulan pendapat ulama.

Terkadang ia menyampaikan pandangan-pandangan yang asing yang kemudian sepintas dianalisis, tetapi ada juga yang sudah merupakan hasil sintesisnya sendiri, misalnya ketika ia menafsirkan surat Al-A’la. 

Shihab mengungkapkan bahwa mayoritas ulama berpandangan bahwa semua ayat yang terdapat dalam surat Al-A’la turun di Kota Mekkah sebelum Rasulullah hijrah ke Madinah meskipun ada yang menyatakan bahwa sebagian ayat ada yang turun di Madinah seperti ayat ke 14 dan 15. 

Dengan ringkas dia tidak menyetujui pandangan tersebut. Ketidaksetujuannya cukup dengan memaparkan argumen para ulama (bukan argumen pribadi).


Dari segi isi, Quraish memiliki keterpikatan dengan analisis kata per kata. Wajar, karena memang tafsir Al-Misbah menggunakan pendekatan Tahlili. Isinya yang begitu sarat akan nilai-nilai asli Indonesia tanpa ketinggalan hasil-hasil penemuan modern yang menguatkan kedudukan Alquran membuat pembaca merasa diarahkan pengagungan dan ketertakjuban kepada Sang Ilahi.

Salah satu keunggulan dari Al-Misbah ialah dimasukkannya hasil-hasil penemuan ilmiah seperti yang dapat dilihat di banyak surat termasuk surat Ath-Thariq dengan mengutip penemuan ilmiah yang dihimpun dalam kitab Tafsirul Muntakhab oleh satu tim pakar Mesir.

Tetapi, baginya, isi Alquran jauh dari sekadar mengonfirmasi penemuan-penemuan ilmiah yang belum memiliki kebenaran mutlak 100% alih-alih Alquran memiliki pesan yang jauh lebih luas di mana kitab suci ini telah memberikan inspirasi sekaligus tuntutan kepada umat Muslim (khususnya) dan umat manusia (umumnya) untuk melakukan pengamatan ilmiah terhadap bumi beserta isinya. 

Selanjutnya ialah Wawasan Al-Quran. Penulis kira karya ini bisa menjadi pelengkap dari Al-Misbah. 

Jika yang terakhir disebut ini menggunakan metode tahlili, maka yang pertama disebut lebih memakai metode maudhu’i, sebuah metode dalam menafsirkan Alquran dengan cara menghimpun seluruh ayat yang berhubungan dengan tema yang akan dibahas dengan mengabaikan urutan ayat yang tertera dalam mushaf.

Menurut Shihab, jika tahlili diibaratkan seseorang yang menyajikan hidangan prasmanan, masing-masing tamu undangan bebas memilih makanan sesuai seleranya serta mengambil kadar yang diinginkan dari meja yang telah ditata itu, berbeda halnya dengan metode maudhu’i yang dapat diibaratkan seperti seseorang yang menyodorkan sebuah kotak berisi hidangan yang telah disiapkan terlebih dahulu sebelum tamu undangan tiba (seperti nasi box misalnya). 

Yang memilih dan yang menentukan porsi hidangan adalah tuan rumah sehingga para tamu undangan tidak lagi direpotkan karena makanan telah siap untuk disantap.

Kemudian kita masuk ke sebuah buku yang kemudian menjadi sangat kontroversial, apalagi kalau bukan tentang Sunni-Syiah. Buku ini dianggap berbahaya karena dianggap telah memberi ruang bagi Syiah untuk bergandeng tangan dengan Sunni, sesuatu yang dirasa mustahil bagi kebanyakan muslim Sunni. 

Tetapi sebelum berpagi-pagi memberi penilaian kepadanya, alangkah baiknya kita mengenal dulu mengapa beliau dapat memiliki pandangan yang anti-mainstream. 

Sejak kecil Quraish Shihab telah dididik dengan penekanan pada toleransi atau keberagaman pandangan. Dan sebagaimana juga diakuinya, Shihab cenderung merupakan sosok yang lebih suka mencari titik temu alih-alih membentur-benturkan sesuatu yang terlihat paradoksal.


Didikan ayahnyalah yang membuatnya menjadi orang yang sangat menghormati aneka perbedaan. Sang ayah  adalah seseorang yang sangat dekat dengan semua kelompok dan aliran masyarakat sehingga dapat diterima oleh berbagai kalangan umat Islam bahkan non-muslim sekalipun. 

Sang ayah juga selalu menekankan kepadanya bahwa makin tinggi ilmu seseorang, maka makin dalam toleransinya; oleh karena itu, tidak boleh ada satu kekompok yang memonopoli kebenaran.

Bukan hanya ayahnya yang berkata demikian, gurunya di pesantren—Habib Abdul Qadir Bilfaqih—pun selalu menanamkan pada santri-santrinya rasa rendah hati, toleransi, dan cinta kepada Ahlul Bait. Keluasan wawasan menjadikan beliau tidak terpaku oleh satu pendapat. 

Ditambah, hal itu juga diperkuat oleh sikap para dosen al-Azhar Kairo (sebuah lembaga pendidikan yang dikenal sangat moderat dan berusaha menampung aneka mazhab pemikiran). Di sana diajarkan bukan hanya keempat mazhab saja, tetapi juga mazhab Syiah Imamiyah, Zaidiyah, Zahiriyah, dan Al-Ibadiyyah.

Sayang, nasi sudah menjadi bubur. Buku itu telah dicetak dan masyarakat muslim Indonesia masih banyak yang belum “dewasa” dalam menyikap keberagaman pandangan.

Alhasil, dengan prinsipnya yang seperti itu, ia harus siap dengan segala macam konsekuensinya. Cacian, cibiran, makian, bahkan statement “kafir” atau sesat akhirnya bercampur-aduk menjadi sesuatu yang sering diarahkan kepadanya. 

Betapapun, dengan menulis buku tersebut, bukan berarti ia adalah seorang Syiah. Sudah berkali-kali ia menyanggah. Sekali lagi, ia hanya ingin melakukan upaya-upaya titik temu di kalangan umat Islam yang terlihat terpecah belah. “Saya minta diadili. Silakan adili saya,” ucapnya. 

Lebih lanjut beliau mengucapkan, “Kalau terbukti saya Syiah, seluruh biaya peradilannya saya tanggung; tapi kalau yang menuding saya tidak bisa menemukan bukti, biayanya dia yang menanggung.”

Tantangannya ini terkait adanya beberapa tudingan, termasuk dari seorang ketua Majelis Ulama Indonesia, yang menyatakan bahwa dirinya adalah penganut Syiah. Ia mempersilakan pengadilan itu untuk mengadili seluruh karyanya, baik yang dicetak maupun yang berupa audio visual. 

Hanya saja, ia menginginkan kalau Syaikh dari Al-Azhar-lah yang menjadi jurinya. Sebab, menurutnya, ulama-ulama dari Al-Azhar dapat dikatakan sebagai ulama yang kredibel.

Selain buku Sunnah Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah?, buku Jilbab pun menjadi sorotan banyak kalangan. Bukan hanya orang-orang awam melainkan juga para ulama. 

Mereka shock saat mengetahui bahwa ulama sekaliber Quraish Shihab menyatakan bahwa jilbab bukanlah sesuatu hal yang wajib. Atau singkatnya, rambut dan leher bukan merupakan sebuah aurat bagi wanita. Itulah yang disimpulkan oleh banyak orang setelah membaca bukunya yang berjudul Jilbab terbitan Lentera Hati.

Ada satu hal lagi yang membuat orang-orang semakin yakin kalau memang Quraish Shihab berpandangan demikian, yaitu jawaban yang diberikannya saat ada seorang ibu yang meminta pandangannya terkait jilbab dan penerapannya dalam kehidupan di keluarga Shihab. Peristiwa itu terjadi pada bulan September 2009 di acara talkshow Metro TV bertajuk Lebaran Bersama Keluarga Shihab

Setelah acara itu tayang, media menjadi ramai. Bahkan ada satu orang mahasiswa Indonesia yang juga kuliah di Al-Azhar mencoba untuk membantah pandangan Quraish Shihab itu yang kemudian disebar ke YouTube.

Betapapun demikian, penulis ingin menekankan kembali sikap beliau yang sering disalah simpulkan oleh banyak orang. Sebenarnya sampai saat ini ia tidak memiliki pandangan yang tegas soal jilbab. Itulah pendapatnya, atau dalam istilah agama disebut tawaqquf. 


Dalam bukunya ini, ia hanya menghidangkan aneka macam pendapat, mulai dari yang paling strict (ketat) hingga yang paling longgar tanpa memberi kesimpulan akhir atau mentarjih.

Akhirnya, sikap terbaik yang perlu ditonjolkan ialah proporsional dan sewajarnya saja. Harus diakui bahwa beliau adalah ulama dan cendekiawan yang sangat memiliki kontribusi positif terhadap kehidupan beragama, tetapi karena beliau juga bukan nabi, maka wajar jika ada pandangan-pandangan yang berbeda dengan ulama lain.

Dan, jika dirasa kurang sreg di hati, cukup tinggalkan saja sebagian pendapatnya itu, bukan malah bersikap hitam-putih menolak sepenuhnya atau menerima sepenuhnya.

Artikel Terkait