Cahaya keperakan terurai helai demi helai menghangatkan tengkukku, membentengi tiupan angin dari bibir-bibir tak bertanggung jawab agar tak mengontaminasi indra pendengaranku..

Tatapan Hijau ametys mencekam, namun berhasil menyembunyikan rahasia pesonaku. Mutiara yang tak pelak menjuntai dalam maroonnya, bagai perisai pertahanan penuh keangkuhan pertanda diriku tidak butuh pion-pion seperti kalian..

Bibir meronaku mahir dalam bertutur kata, istana Jingga pun takluk dan tunduk pada setiap sabda-sabdanya. Penciumanku tak pernah tertidur, ia mampu mendeteksi ke mana pun darah campuran itu melarikan diri..

Aku adalah pemilik kesaktian dalam satu lentikan jari jemari. Kupu-kupu kristal nan ranum menyertaiku dengan sumpah setia tanpa harus mengkhianati Tuhannya..

Ini adalah jubahnya para Dewi, seperti Dione yang harus rela kehilangan belahan jiwanya, Aphrodite juga harus rela kehilangan kecantikannya. Aku adalah perampas yang paling mumpuni, menelan hingga ke akar-akar kecantikan, yang menjadikan diri ku kian abadi..

Aku melangkah dengan pasti, tanpa membelah serpihan nestapa yang telah melenyapkan titisan Bidadari..

Megaberlian ini, pemilik malam lah yang menancapkan, memotorik raga ku hingga tak kenal rasa lelah. Otak ku hanya mampu mengingat dua nominal saja, satu dan seluruhnya. Aku adalah satu-satunya yang maha menaklukan dunia, dan aku harus menguasai seluruhnya..

Ada yang tak henti-hentinya bekerja, dan aku menyebutnya itu dengan peti ingatan, peti harta karun yang meratukan ku hingga pita suara mu sudah tidak mampu lagi bergetar..

Ada yang terdengar merdu mengelabui senja hingga nyiur turut berterbangan, dan aku menyebutnya itu dengan kotak nyanyian. Kotak suara yang khas, dan hanya kepunyaan ku seorang..

Ada yang menyayat kalbu, seolah sepasang mata mu mengalirkan Niagara Merah, dan aku menyebutnya itu dengan tulisan bertuan. Tulisan tangan yang tegas, dan mematikan..

Namun aku tetaplah wanita berkelambu, berteman dengan kehangatan, dan kelembutan, meski kamu menyebutnya itu dengan, kepalsuan..

Aku adalah mutiara yang tak diperkenalkan Tuhan pada intan permata, aku adalah maha surya yang tak diperkenalkan Tuhan pada Betelgeus, hingga sebagai mentari, aku merasa diri ku lah yang paling pantas untuk dipuja..

Aku adalah kehidupan yang tak diperkenalkan Tuhan pada asgardia, aku adalah bintang Biru yang tak diperkenalkan Tuhan pada venus, hingga sebagai makhluk yang bernama manusia, aku enggan tertumpah dari zona rasa nyamannya..

Aku adalah Rada yang tak diperkenalkan Tuhan pada Khrisna, aku adalah penebar umpan yang tak diperkenalkan Tuhan pada Wisnu, hingga sebagai seorang wanita, aku tidak tau, jika telah salah menjatuhkan hati ku, maka berakhirlah kehidupan ku..


Cairan Milenium dan Embun Merah Muda

Pernah kah kamu mendengar sebuah cerita pengantar tidur di negri awan? Sebuah dongeng yang bercerita tentang cairan Milenium yang ditetesi embun Merah muda.. 

Dongeng yang melegenda bahkan jika disandingkan dengan keempat poros singgasana Dewi Athena. Dongeng yang sudah berulang kali aku ceritakan pada anak-anak malam..

Kamu tidak keberatan jika harus mendengarnya bukan? Cairan Milenium adalah sosok yang sama sekali tidak pernah terpikirkan oleh pekatnya malam. Cairan yang teramat murni, tanpa sajak kepalsuan hingga akhirnya tertumpah oleh racun penyihir yang teramat kejam..

Cairan Milenium : Adakah setetes keindahan di seberang sana?

Batin sesosok yang tak terjamah oleh tiupan angin yang memanjakan jiwa-jiwa di keheningan malam itu..

Sampai pada suatu ketika, cairan Milenium merasa dirinya amat buruk. Racun itu seolah melumpuhkan dirinya. Tapi siapa sangka? Jangan kan dirinya, bahkan Sang Pencipta pun merasa tidak rela..

Tuhan: Kamu tercipta bukan untuk menjadi seperti ini, cairan Milenium!

Tttssss, itu adalah kali pertama cairan Milenium ditetesi oleh embun Merah muda. Tidak butuh waktu yang lama, keduanya menyatu dalam detik yang teramat singkat. Sebuah kejutan yang menjadikan keduanya bersyukur pada Sang Pencipta..

Tidak! Cairan Milenium tidak pernah membayangkan bahwa dirinya akan ditetesi oleh embun Merah muda. Sebaliknya, cairan Merah muda juga tidak pernah membayangkan bahwa dirinya akan dituangkan ke dalam wadah yang penuh dengan aroma-aroma ketulusan itu..

Entahlah, entah siapa sebenarnya cairan Milenium, dan entah siapa sebenarnya embun Merah muda? Tidak ada yang peduli bahkan anak cucu mereka..

Hanya saja, anak-anak malam yang dulu selalu mendengarkan ku bercerita enggan untuk tertidur pulas, mereka justru memilih untuk menyaksikan, bagaimana cairan Milenium dan embun Merah muda menghabiskan sisa umur mereka, dengan hidup bersama selamanya..