Problem mengetahui manusia mengalami disemenasi, atau terdeteksinya gejala untuk menyebarluaskan apa yang diketahui. Hal ini berlanjut pada lahirnya faksi-faksi gagasan yang melembaga dan menjadi sebuah ideologi. Keberadaan ideologi tidak bisa disangkal, karena kecenderungan manusia yang senantiasa mengidentifikasi dirinya pada sebuah kerumunan.

Karl Manheim pernah berucap bahwa kesadaran kolektif melahirkan kesadaran identitas. Kerumunan memberikan identitas pada setiap individu-individu dalam kerumunan tersebut. 

Kesadaran ini diproyeksikan beriringan dengan kondisi kala individu mengalami corious identity atau yang saya namakan kepositas diri. Hadirnya fenomena ini menggiring manusia untuk merepresentasikan dirinya pada dunia luar, khalayak, kondisi umum.

Keyakinan ini terus diupgrade kian bertambahnya usia. Pikiran dan pengalaman menjadi sumbangan penentu identitas seorang individu. 

Kesadaran akan identitas itu terus terganti dan terpatri. Bergantinya kesadaran satu dengan kesadaran yang lainnya telah merentangkan jarak antara dirinya yang lampau dengan yang saat ini berjalan. Dalam kurun waktu kehidupan itulah dirinya mengenal kediriannya.

Substansi atas individu tadi akan melahirkan paham atas egonya. Ego terdefinisikan sebagai sebuah “aku” yang mengenal. Kehadirannya telah melembaga pada sebuat ide dan gagasan, sehingga atasnyalah seorang individu mengidentikasi kediriannya. Proses itu dilalui lewat pertanyaan-pertanyaan fundamental atas eksistensi dan keberadaannya.

Ego tersebut timbul dalam tiga fase perubahan. Pertama, ketidaktahuan menjadi kondisi kala manusia mendalami hakikatnya. Ketidaktahuan adalah keberadaan di mana manusia sama sekali tidak mengenal dunia dan peran-peran pasti sebagai individu yang berada. Dia hanya menjalani semua layaknya saluran air, tertuju oleh kondisi, bukan atas aksi (kesadaran).

Pada umumnya, kondisi ini kerap terjadi pada seorang anak kecil. Balita atau masa kanak-kanak dalam hal ini hanya akan menuruti kondisi di mana dia berada. 

Segala keinginan itu sifatnya kondisional, karena terhubungnya individu dengan realitas pembentuk menjadikan segala keinginannya terpengaruhi oleh realitas. Sehingga dalam benak seorang yang masih dalam fase ini akan cenderung bertanya “bagaimana”. Meminjam istilah dari Max Weber, kesadaran ini dinamakan dengan akal instrumental.

Tindakan akal instrumental adalah tindakan yang menuntut akan pemenuhan daripada ekspetasi-ekspetasi yang direspons dari kondisi realitas. Kesadarannya dikonstruksi atas pertimbangan tujuan dan perhitungan tertentu. Dalam kesadaran ini, seorang individu hanya akan mengenali dimensi materinya.

Fase kedua, yaitu fase kepahaman adalah posisi saat individu mulai memahami realitas dan peran-peran yang individu perankan. Pada fase ini, individu akan mulai mengerti posisinya dalam ruang publik. Perannya akan mulai berelasi dengan kepentingan-kepentingan umum, nilai-nilai umum, serta norma yang mengatur kehidupannya dalam masyarakat.

Pada fase ini, seseorang akan mulai mengenal tatanan-tatanan metafisik. Dalam kehidupan masyarakat, tatanan metafisik itu di antaranya adalah nilai yang berkembang, norma yang berlaku dalam daerah setempat, dan lain sebagainya. Fase ini telah memberikan kesadaran pada individu atas komponen dirinya yang bersifat immateril. Hal itu direpresentasikan pada pandangan-pandangan kehidupan yang idealis.

Dunia utopis mulai menjadi bayang-bayang kelabu yang menghantui individu dalam memahami perannya. Peran serta individu dalam keinginan-keinginan untuk mengenal diri mulai meningkat pada realitas-realitas ideal. Pertimbangan yang berlaku bagi dirinya sebagai individu mulai disandarkan pada kenyataan-kenyaan nilai yang diterimanya.

Kepahaman menjadi posisi ideal seorang individu memahami dunia sebagai kondisi seharusnya. Tindakannya itu melembagakan status dirinya sebagai individu yang berperan. Dalam titah dan tindakannya senantiasa didasarkan pada pertimbangan rasionalis, bahkan sesekali bercorak teologis, sehingga selalu ada sandaran argumentatif atas tindakannya.

Pertanyaan-pertanyaan yang awalnya hanya berkutat pada pertanyaan bagaimana, bereposisi menjadi mengapa. Konsekuensi logis dari pertanyaan mengapa adalah jawaban filosofis atau konseptual. Dari pertanyaan itu, seseorang mulai mendalami filosofi hidup, makna-makna hidup, dan konsepsi berkenaan kehidupan.

Kemudian fase terakhir adalah kemengertian,m. Ontologi dari mengerti ini adalah bersandar pada dua pandangan sofis, yaitu realisme dan idealisme. 

Artinya, dalam pandangan ini, idealisme harus dikecewakan oleh realisme, atau dalam sudut pandang lain realisme yang tertangguhkan oleh idealime. Dalam fase ini, individu akan mengalami posisi untuk hidup dalam nilai yang realis.

Nilai-nilai yang idealis tadi akan dipaksa untuk tunduk sebagian atau hanya berkesesuaian dengan realitas yang terjadi. Keadaan-keadaan itu mencipta kondisi individu yang melihat realitas sebagai keadaan yang idea-realis. 

Jika prakondisi yang diciptakan saat fase kepahaman tadi adalah “yang seharusnya” atau dalam arti ini yang ideal, maka paksaan-paksaan dunia real (realitas) tadi akan menciptakan pergeseran nilai idealis, pada semi-idealis atau yang saya namakan tadi dengan idea-realis.

Individu akan menelusuri kembali kediriannya, lewat pertanyaan-pertanyaan tentang “apakah”. Pertanyaan ini memunculkan jawaban-jawaban yang tak berkesimpulan. 

Dari pertanyaan ini, justru yang timbul adalah opsi-opsi dari jawaban. Sehingga kesimpulan akan didapati dari pilihan yang dipilihnya. Sehingga aspek kedirian individu mulai mengerti akan posisinya sebagai manusia yang berelasi sebagai kesatuan. Kesatuan materil sebagai bagian dari semesta serta kesatuan idealis sebagai makhluk pencipta norma.