Menjadi salah satu dari generasi milenial tidak membuat saya bangga amat. Kehidupan yang tidak terlepas dari teknologi serta aktivitas sehari-hari seakan tak berjalan jika tak ada yang namanya gawai, meyakinkan saya bahwa dinamika hidup makin rumit di atas panggung kehidupan—dunia ini. 

Di zaman yang cukup modern ini, terlepas dari hal-hal yang berkaitan erat dengan teknologi, seseorang akan disematkan nama ‘kolot’ oleh mereka yang melek teknologi. Hal itu lazim bagi generasi ini. Lantas fenomena-fenomena seperti ini akan berakhir di mana? Tentu tidak berakhir.

Setelah mengadakan sebuah reuni dengan teman-teman lama, saya menemukan sebuah fenomena yang cukup menyita pikiran saya untuk berceloteh di sini. Dalam reuni tersebut, saya menemukan sebuah tradisi kehidupan baru yang sangat ironi. 

Suatu momen yang seharusnya menjadi wadah untuk bernostalgia dan membagi kenangan terkesan begitu hambar. Semua orang menggunakan handphone-nya masing-masing dengan kesibukannya tanpa berkontribusi secara percakapan dalam acara temu itu. 

Akhirnya, saya tak segan-segan menamai generasi ini sebagai generasi pongah. Relasi sosialnya ambruk. Etika kebersamaannya runtuh secara total. Ada kecenderungan menafikan sebuah ranah kehidupan baru yang melilit nilai-nilai kebersamaan itu menjadi kaku.

Berangkat dari problem tersebut, saya mencoba menelisik lebih jauh keberadaan generasi milenial saat ini.

Generasi milenial adalah generasi yang lahir di antara tahun 1980-an, yang kehidupannya tidak terlepas dari teknologi (KBBI V). Defenisi ini sebenarnya tidak universal bagi semua orang yang lahir pada tahun-tahun tersebut. Banyak orang di desa-desa maupun di pedalaman yang lahir pada tahun yang sama, tidak menikmati kehidupannya dengan akses-akses teknologi yang secara garis besar didefinisikan oleh KBBI V tersebut. 

Banyak orang hidup dalam lingkungan bebas teknologi. Mereka bukan tak menginginkan penggunaan teknologi, melainkan akses untuk mendapatkannya sangat susah. Kalaupun ada yang menggunakannya, itu hanya untuk keperluan yang sangat urgen.

Salah satu contoh adalah orang-orang desa di Indonesia Timur—banyaknya belum dapat mengakses informasi melalui teknologi modern. Mereka hidup dengan upaya-upaya bertemu secara langsung dengan orang lain tanpa harus melalui informasi lewat media atau alat teknologi yang canggih.

Namun, dinamika kehidupan mereka dapat dikatakan sangat harmonis. Untuk meminjam barang, memberikan undangan, arisan, dan keperluan lainnya, mereka selalu bertemu dan bertatap muka dengan orang yang dimaksud. Mereka selalu mengutamakan komunikasi secara langsung tanpa pengantar/jembatan (gawai).

Representasi perilaku dari generasi milenial saat ini, yang seterusnya akan saya sebut sebagai generasi individualis ini, memacu saya untuk memulai sebuah penakaran sederhana tentang cara penggunaan alat teknologi. Ada tendensi kehidupan yang menjurus pada sebuah wacana yang berkembang saat ini, “elo siapa?”

Tradisi di atas akhirnya memunculkan sebuah kehidupan sosial dalam masyarakat menjadi kaku bahkan mengalami kematian. Siapa sangka? "Orang" tidak lagi menganggap orang lain sebagai sesama untuk menemuinya, namun ia lebih berbasa-basi dijembatani oleh alat teknologi tersebut.

Tindakan ekslusif dari generasi individualis ini sangat minim memaparkan sebuah bentuk kehidupan yang menunjang bagaimana (seharusnya) sebuah kebersamaan tercipta dalam ranah kehidupan demi kemajuan bersama. Berkembangnya teknologi mempreteli tali silaturahmi dalam kehidupan generasi ini. 

Ketika melihat lebih jauh tentang problem ini, ada semacam keraguan dan keengganan yang melekat saat harus bertemu secara langsung dengan orang lain dan menyampaikan keperluannya. 

Contoh paling sederhana; ketika orang tua dari seorang generasi milenial ingin anaknya makan bersama atau duduk bersama, atau bercengkerama, ia akan memilih untuk menyendiri dengan gawainya. Menjauhkan yang dekat, mendekatkan yang jauh.

Ada sebuah kesan yang sangat empuk dalam kehidupan generasi individualis ini. Sebut saja, kurang bisa berkomunikasi langsung. Dulu, selain tatap muka, masih ada teleponan. Seterusnya berkembang ke sms, kini aplikasi chatting-an, dan lain-lain. 

Kegiatan ini tak jarang menjadi protes dari orang tua di kampung, mungkin juga kebanyakan orang yang mengalami tatanan kebiasaan yang sama. 

Orang lain boleh berusaha ngobrol dan berbagi cerita sambil tertawa bahagia, ada yang malah sibuk update status, posting di IG atau FB dan Wa. Alhasil, pertemuan atau perkumpulan itu menjadi tidak total.

Lantas apa yang menjadi kepongahan generasi ini? Tentu saja sudah seperti yang saya gambarkan di atas. Kita belum terlepas dari cengkeraman teknologi yang berarah pada kehidupan mengurung diri tanpa melihat orang lain di hadapan kita. Kita hanya berkecimpung di dalam alat teknologi yang sifatnya sekadar di dalam layar. 

Habert Marshall McLuhan, seorang ilmuwan komunikasi, menjelaskan, Desa Global (Global Village) adalah suatu kondisi mengenai perkembangan teknologi komunikasi di mana dunia dapat dianalogikan menjadi sebuah desa yang amat besar dan luas. Ia memperkenalkan konsep ini pada awal tahun 60. 

Konsep ini sangat kontroversial dan aneh karena pada era 60-an hanya saluran TV yang dimanfaatkan, dan terbatas jangkauannya. Namun, pemikiran ini menjadi relevan pada saat ini. Informasi sangat terbuka dan dapat diakses oleh semua orang.

Dari pemikiran McLuhan ini, dapat ditarik sebuah kesimpulan; penggunaan internet dan media lainnya memudahkan orang untuk melakukan yang namanya komunikasi massal. Komunikasi massal ini akhirnya mengabaikan kehadiran sesama untuk bertatap muka secara langsung. 

Tentu sisi positif yang dapat saya sebut di sini adalah kemudahan untuk berkomunikasi. Namun yang menjadi persoalan bersama adalah komunikasi yang alih-alih melibatkan orang lain tetapi dalam sebuah ruangan yang sangat tertutup. Sehingga, ada upaya menghilangkan esensi manusia sebagai makhluk sosial yang hidup berbarengan.

Saya mencoba membandingkan pemikiran Levinas seorang filsuf Prancis kontemporer yang sangat peka terhadap orang lain itu. Ia bahkan tidak percaya terhadap apa yang dikatakan Descartes “aku berpikir maka aku ada”, melainkan lebih meyakini bahwa ‘Aku (self) hanya mungkin melalui pengenalan terhadap orang lain’.  

Levinas adalah filsuf yang sangat menjunjung nilai-nilai etika. Nilai-nilai etika itu hanya akan terimplementasi lewat bertemu dan berdialog dengan banyak orang. Akhirnya, Levinas telah berhasil melakoni apa yang ia namakan “Etika Wajah”. Ia banyak mengembara dan bertemu dengan banyak orang dan berkenalan.

Generasi milenial yang saya maksud tidak mengambil bagian di sini. Fenomena yang terjadi saat ini sungguh terbalik dengan kerangka berpikir di atas, atau setidaknya jauh dari kehidupan sosial, yang seharusnya menjadi modal setiap orang. Ada sebuah tendensi untuk menghindari sesama manusia. Tradisi tatap muka menjadi pudar bahkan hilang.

Contoh sederhana, dalam setiap perkumpulan yang pernah saya hadiri, banyak teman yang tak merasa hadir dalam perjumpaan tersebut. Mereka malah sibuk dengan gawai, entah bermain game atau membuka internet, lalu melupakan apa yang seharusnya ia lakukan atau pertanggungjawabkan dalam pertemuan tersebut. 

Sebuah perjumpaan dengan orang lain selalu merupakan sebuah pengalaman universal dan penting bagi kita semua. Dalam buku yang ditulis oleh Ryszard Kapuscinski (The Other), sedikit menggambarkan seperti ini: para arkeolog mengatakan pada kita bahwa kelompok manusia pertama adalah suku-suku keluarga kecil yang terdiri dari tiga puluh sampai lima puluh orang. 

Jika masyarakat semacam itu lebih besar, akan sulit baginya untuk bisa berpindah dengan cepat dan tepat. Jika lebih kecil akan lebih sulit baginya untuk mempertahankan diri secara efektif dan berjuang demi bertahan hidup. 

Upaya untuk meluasnya perkenalan dengan manusia lain tidak harus melalui media sosial. Orang harus melakukan perjumpaan dengan orang lain tanpa memprioritaskan alat embel-embel teknologi yang hanya menguntungkan diri sendiri (egois).

Perjumpaan seperti apa yang seharusnya terjadi pada diri manusia (generasi milenial)? Pada era sekarang, untuk mengenal orang lain tidak lagi sukar. Kegamblangan ini tidak begitu menggambarkan bagaimana menghadapi orang lain dengan tatap wajah. 

Kecuekan terhadap sesama makin hari makin nyata akibat pengultusan terhadap alat teknologi yang makin marak. Teknologi menjadi raja dalam kehidupan generasi individualis ini.

Ketika diperhatikan, seorang yang menamakan diri generasi milenial akan sangat jenuh atau bahkan tidak ada gairah kehidupan tanpa gawai, atau lebih tepat, ada kecemasan besar ketika kehilangan gawainya. Ia bahkan akan membeci orang lain karena barang kecil itu. Namun, tidak ia sadari bahwa segalanya yang berkaitan dengan nilai-nilai sosial tidak harus melalui benda mati itu.

Dalam sebuah perjalanan ke Solo guna mendiskusikan sebuah buku puisi, saya banyak bertemu dengan orang-orang yang sebelumnya tidak saya kenal. Saya memiliki modal harapan besar tersendiri untuk menemui mereka dan berbagi ilmu. Itulah misi saya sebelumnya. 

Artinya, saya tak sungkan-sungkan mengeklaim; alat teknologi bukan satu-satunya sarana untuk berkomunikasi. Justru esensi dari berkomunikasi adalah bagaimana sebuah kebersamaan dimulai dari perjumpaan dan perkenalan.

Perkembangan teknologi tentu membawa dampak positif dan negatif. Saya lebih melihat dampak negatifnya sebagai sebuah senjata yang melumpuhkan kehidupan bersama pada generasi Y saat ini. Beberapa di antaranya adalah kecanduan internet. orang tidak dapat hidup tanpa internet, orang lebih eksis di dunia maya ketimbang dunia nyata.

Mental seperti ini, jika tidak diminimalisasi, justru akan menumbuhkan sebuah tradisi kehidupan yang tidak manusiawi. Tentu saja. Bagaimana mungkin orang bisa mengenal lebih dekat sesamanya tanpa bertemu dan berdialog, menciptakan nuansa kehidupan berjiwa sosial? 

Pada akhirnya, semua yang berkaitan dengan kehidupan sosial menjadi kocar-kacir di hadapan manusia yang adalah makhluk sosial itu sendiri.

Media sosial dan peralatan teknologi sangat bermanfaat bagi perkembangan komunikasi. Namun, cara penggunaannya juga harus profesional. Keutamaan dalam kehidupan sosial justru harus menjadi prioritas bersama. Bukan malah memperkerdil relasi—sosial. 

Desa Global merupakan wajah baru kemajuan teknologi saat ini yang dapat membantu orang berkomunikasi dan melakukan apa saja di dunia maya. Namun, Desa Global juga memiliki indikator tersendiri yang senantiasa menjadi pertimbangan bersama untuk menghadapinya. 

Salah satu perilaku yang saya cemaskan adalah ketika generasi milenial salah menggunakannya untuk memulai hidup instan tanpa usaha. Selain itu, melupakan orang lain di sekitarnya.

Selamat berselancar di dalam panggung kehidupan ini.