Dari usia sih sudah cukup matang, sedangkan gaji masih UMR. Dengan kondisi begini, apakah cukup untuk ngajak pacar menikah?

Pernikahan memang salah satu hal yang didambakan bagi mereka yang sudah cukup matang baik dalam segi usia maupun finansial. Terutama untuk anak zaman sekarang yang telah menjalin hubungan asmara sudah cukup lama.

Bicara soal umur, bagaimanapun juga pasti akan bertambah. Jadi siapa pun pasti akan sampai pada usia yang disebut matang. Namun, soal kematangan finansial, mungkin tidak setiap orang beruntung mampu mencapainya.

Lalu bagaimana? Apakah pernikahan memang harus ditunda sampai kedua faktor tersebut terpenuhi? Namun, bukankah usia akan terus bertambah? Kalau pun menunggu kedua faktor tersebut terpenuhi, bukankah kita keburu tua?

Kita biasa melihat pernikahan artis-artis yang super mahal dan mewah. Bahkan suvenirnya pun juga mahal dan mewah. Apakah saya iri? Oh, tentu saja tidak, saya cukup sadar kok untuk nggak ngiri dengan pesta pernikahan yang mahal dan mewah tersebut. Memang pernikahan seperti itu sangat didambakan oleh semua orang. Tapi kita yang punya gaji pas-pasan cuma bisa berdoa supaya bisa melakukan pernikahan seperti itu.

Apabila upah kita UMR, katakanlah sekitar Rp2,5 juta. Gaji segitu, belum kepotong dengan biaya hidup, biaya indekos, bensin, pulsa, dll.

Apakah kita bisa menyisihkan uang Rp1 juta untuk menabung? Coba kita hitung dengan hitungan kasar

1. Biaya kos, kita ambil harga yang umum dengan kamar mandi dalam, sekitar Rp550 ribu per bulan.

2. Biaya makan, Rp15 ribu sekali makan. Perkiraan harga ini apabila kita makan dengan nasi padang. Jadi, kalau dalam sehari makan tiga kali. Maka per hari mengeluarkan Rp45 ribu untuk makan. Maka sebulan sebesar Rp1.350.000.

3. Untuk bensin biasanya mengisi seminggu sekali dengan biaya Rp25 ribu. Bensin tersebut hanya untuk pulang-pergi saat kerja saja. Sehingga sebulan jika dianggap ada 4 minggu, maka menghabiskan biaya sebesar Rp100ribu.

4. Kuota internet biasanya Rp100 ribu per bulan. Dengan menggunakan paketan yang paling ngirit dan ada paket malamnya. Pasalnya, ini penting supaya saya tetep bisa nonton streaming sepak bola. Atau kalau bosan mungkin nonton Youtube atau scroll Tiktok.  

Pengeluaran tersebut dalam sebulan tersebut jika ditotal sebesar Rp2.100.000. Maka gaji saya dalam sebulan hanya dapat tersisa Rp400 ribu saja. Itu pun sudah dengan gaya hidup yang amat sangat ngirit. Tanpa jalan-jalan/piknik kemana pun. Jadi, jika si doi pengin ngajak jalan, ya paling di akhir bulan untuk makan bakal ngandelin mie instan.

Pertanyaannya, lantas dengan sisa penghasilan yang sangat minim itu, di umur berapa saya bakal mencapai sebuah kebebasan finansial?

Kalau dipikir-pikir, sampai ubanan pun juga nggak ada yang berani menjamin bahwa kemapanan/kebebasan finansial tersebut dapat digapai. Bukannya bermaksud mendahului kehendak Tuhan ya. Saya ini cuma mencoba untuk berpikir realistis saja.

Tapi beruntunglah saat ini, masih banyak wanita yang rela bekerja membantu keuangan suami. Istilahnya, suami istri sama-sama bekerja. Tapi dengan suami istri bekerja nanti urusan mendidik anak, bagaimana dong? Masak ya kita bakal ngerepotin orang tua kita lagi untuk ngurusin anak kita? Padahal kan, mereka sudah tua dan juga sudah capek ngurusin kita.

Masalah kebebasan finansial ini, mungkin bisa direspon berbeda pada setiap orang. Jika ada orang yang galau yang takut menikah. Maka ada pula kelompok galau yang justru nekat untuk menikah.

Saya mempunyai seorang teman yang sudah menikah. Ternyata, istrinya sedang mengandung anaknya yang pertama. Ia bahkan sudah sering kali berganti pekerjaan. Tapi Alhamdulillah, keluarga mereka nampak bahagia, mereka bisa sama-sama bekerja untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Ternyata benar, urusan rezeki memang sudah Allah SWT yang mengatur. Tetapi mereka juga cukup beruntung, karena masih mendapatkan support dari orang tuanya masing-masing. Bahkan mereka juga dibangunkan rumah yang cukup bagus dan layak.

Maka kita yang mempunyai gaji UMR atau pas-pasan juga harus yakin bahwa kalau kita menikah, pasti Allah SWT sudah atur rezeki kita sesuai takarannya. Memang kita sebagai laki-laki kadang khawatir bagaimana cara untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Namun, selama kita bekerja keras dan ikhlas pasti ada jalan.

Memang kita hidup di zaman sekarang ini cukup berat apabila kita berasal dari keluarga yang sederhana. Banyak tuntutan-tuntutan baik dari dalam maupun dari luar yang kadang menyebabkan kita rasanya ingin menyerah sepertinya. 

Seperti itu wajar, tapi kita juga harus bangkit dan hadapi kenyataan ini. Mungkin saja kita setelah menikah malah rezekinya lancar dan bisa bebas secara finansial. Jadi kita harus tetap optimis dan selalu berdoa agar selalu diberi kemudahan dan kelancaran.

Menurut saya menikah walau gaji masih UMR tetap bisa asalkan kita ada kemauan untuk bekerja keras dan tetap berdoa. Lagi pula tidak selayaknya kita berkecil hati dan minder dengan keadaan kita saat ini. Jadi tetap semangat pejuang rupiah!