Jika kau bertanya, apakah aku menyukai takdir? Untuk beberapa hal aku akan menjawab, ya. Tetapi apakah kau tahu, masih ada banyak takdir yang tak aku mengerti. Takdir itulah yang membuatku mengutuk banyak hal. 

Baik, itu diriku sendiri, orang di sekitarku, lingkunganku dan yang paling masuk akal bagiku adalah takdir itu sendiri.

Sekarang, takdir apakah yang kujalani? Selama ini aku berharap akan datang takdir terbaikku, membuatku hidup seperti semula. Bahagia.

Langit yang semula indah, dengan pancaran biru muda yang menenagkan, kini mulai memudar dan tampak berduka. Tak lama kutatap, ia pun mulai meneteskan air mata kesedihannya.

Ribuan derai hujan yang kembali membawaku ke masa silam. Aku mulai meratapi kejadian memilukan itu. Dari sudut penglihatanku. Sosok yang selama ini kutakuti. Selalu kulakukan apa yang  ia inginkan. Aturan-aturan yang selalu jadi alsanku untuk mematuhinya.

Dia mulai memarahiku. Berusaha menjelaskan aturan apa yang sedang kulanggar. Tapi, aku hanya dapat menangis. 

Tepat, dari edaran penglihatanku. Diriku lima belas tahun silam, masih sesosok gadis kecil yang tak kuasa memerintah. Hanya dapat menagis dan mengakui kesalahannya. Kau tahu, siapa yangs sedang memarahiku?

Luapan kesedihan yang  semakin bergejolak. Tak hanya tangisan. Badai pun ikut menyertai penyesalan. Kini, hanya ratapanlah yang dapat kugenggam. 

Dari sudut pandang seorang pendosa ini, aku melihat penyesalan itu seakan menelan cahaya hidupku. Membuatku terpaku akan gelapnya rasa sesal.

Orang yang kutakuti benar-benar lenyap. Aku tak lagi dapat melihatnya melantunkan nasihat-nasihat yang paling kubenci. Membiarkanku melukai hati.

Berharap dia akan kembali memarahiku. Mengikatkan kembali aturan yang ia buat. Tahukah kau ? alasan apa yang mendasari penyesalanku ini? perlahan, langit mulai meluapkan kesedihannya.

Awan mendung bersedia berganti tempat. Langit biru muda yang indah perlahan menempatkan sisi menawan yang luar biasa. Bunga-bunga yang hampir mati ketakutan, tersiram indah dengan cahaya sang mentari. 

Dunia seakan hidup kembali. Kegelapan yang mengkhawatirkan seolah lenyap tak berbekas. Aku menyukai suasana alam yang seperti ini. 

Sejenak aku pun dapat meluapkan kegelapan yang menelan cahaya hidupku. Bolehkah aku mencurahkan isi hatiku pada kalian? Akan alasan ketakutan ini? sungguh, sebesar apa kepedulian kalian?

 Terkadang aku merasa telah merdeka saat ingatan masa lalu itu mulai tertutupi dengan ingatan masa bahagiaku. Tenang, akan kehadiran orang-orang yang peduli. Tidak ada lagi pemaksaan kehendak.

Apa pun mulai dapat memerintah diri sendiri. Tanpa berkewajiban mengikuti perintah siapapun. Namun, ketika langit mulai gelap. Aku juga merasakan kembali kegelapan itu, seperti dirasuki kembali akan kehadirannya. Sosok pemarah. Sang pengatur. 

Biangnya kedisiplinan. Entah kenapa aku merasa harus berterimaksih padanya. Benarkah aku seorang pendosa? Benarkah bahwa ia juga lebih menyesal?

 Jika ia masih hidup, akankah ia lebih meratapi kehidupan? Adakah rasa sayangnya kepadaku ? 

 Sekarang, aku mulai menyusuri jalanan basah yang hampir mengering ini. sekaligus menyusuri lagi sisi gelap masa lalu. Kembali pada belasan tahun yang lalu. Dari sudut penglihtanku yang kesekian kalinya. 

Diriku yang sedang duduk termenung. Menyalahi diri yang berusaha kabur dari aturan ini. Jujur, aku sangat kecewa. Mengapa aku membiarkan dia memakiku sekejam itu, mengapa aku mudah sekali membuang air mataku untuknya. Tetapi, tak dapat kumungkiri. Kehidupan normal yang kujalani sekarang sesungguhnya tidak senormal uang seharusnya terjadi.

 Dua hari yang lalu. Salah satu takdir mulai terbuka. Ketika aku merasa hidupku sudah baik-baik saja penyesalan barupun muncul. Aku tak dapat mengutuk aturan itu lagi. “kamu benar-benar bodoh!” satu kalimat yang telak menusuk ulu hatiku. 

Tertuju padaku. Sejak itulah penyesalan yang sesungguhnya muncul. Selama ini aku tak mengerti alasan aku merasakannya. Penyesalan akibat ulahku sendiri.

Untuk yang terakhir kalinya, tahukah kau? Sesaat aku tak mendengar apapun, kecuali nasihat darinya. Nasihat yang tertanam sebagai aturan dalam benakku. Saat itu pula,sebagai keinginanku yang pertama kalinya, aku ingin mengakhiri hidupku. Ingin mengakhiri penyesalannya, agar ia dapat tenang.

Tapi, aku tak ingin bertemu dengannya dalam kondisiku yang seperti ini. Menemuinya dengan diriku yang jauh berbeda. aku takut, ia tak mengenaliku. Apalagi, jika ia merasa jijik dengan diriku yang sekarang.

Waktu dua hari, kurasa cukup untuk menyadari kebutaanku selama ini, aku akan bertemu dengannya. Setelah aku memperbaiki kesalahan yang ku anggap sebagai kekebasanku. Bolehkah aku sebutkan siapa orang itu? Aku juga punya harapan. Agar ia benar-benar tenang disana. Meski, dulu aku hanyalah gadis kecil yang tak mampu berpendapat secara luas. Hanya sekedar tahu benar dan salah atau iya dan tidak. 

Aku yakin tanpa kusebut siapa dia, kau pasti sudah tahu. Sosok pahlawan yang sering kali kau khianati. Kau salahkan jika ia tak sejalan denganmu. Tetapi, kerap kali kau tangisi ketika itu sudah jadi penyesalan. Tanpanya, kau takkan pernah merasakan penyesalann. Begitupun aku. Itu sudah jelas, bukan?

Dia selalu ada dalam kehidupan siapapun. Dialah tempat pertama kau bersandar sebelum menikmati gelap terangnya dunia. “Aku akan berusaha.” Tolong pegang janjiku ini. Aku akan kembali normal seperti dulu. 

Menjalani hidup seperti saat kau masih bersamaku. Tak akan kubiarkan dukamu yang berkepanjangan ini. melihatku yang sudah jauh dan jalanmu. 

Tak akan. Sekejap bayangan masa lalu yang terus menghantuiku menghilang.

Sebelum itu terjadi, gadis kecil itu melihat ramah ke arahku. Sembari memperlihatkan senyuman khas kesukaannya.