Pergi

Perempuan tua itu setengah menatap, ia bersungut-sungut mengucap pisah. Dipilihnya kata-kata yang paling bijak dari kamus budi, merangkai kalimat dalam ruang kalbu, lalu mengurai dari mulut yang budiman. Kata-kata Ibu mengalir. Meresap sempurna di ubun-ubun. Ibu selalu membasahi jempolnya dengan liur di ujung lidah. Menghiasi dada dan dahiku dengan liur. Ritual wajib, sebagai iba sekaligus doa.

Bapak begitu tegar. Ia mengerti bersama waktu. Ia paham tentang perjuangan dalam sebuah perjalanan. Bahkan dengan kepergianku. Beliau jarang menangis. Barangkali air matanya hampir kering karena jarang berkedip menatap masa depan yang berat. Bapak hanya sesekali mengeluh, tentang lelah yang sering bercanda dengannya.

Pergiku meninggalkan sunyi. Semakin menambah rasa kehilangan berbaur dengan setumpuk pertanyaan yang belum dijawab Tuhan. Pada setiap sore yang hening, di pojok depan rumah ayah duduk membungkuk. Barangkali ia merenung tentang ‘’mengapa’’. Kata yang tak kujnung dipahami dengan beberapa butir alasan  yang kejam. Bapak tidak bisa berbuat lebih. Dia hanya sosok guru tua sederhana. Hanya tau mengabdi, tulus berkorban agar Tuhan tidak lekas marah.

"Jika berada di tanah orang, hendaklah kamu selalu berdoa, sesering mungkin merendah, perbanyak sabar dan sedapat mungkin pantang menyerah". Pesan Ibu bersarang di mata kaki.  Wejangan ayah menghujani dada.

Semenjak pergi, Ibu kerap menutup mata. Membasuh muka dengan butir Rosario yang jatuh dari kelopak mata. Menggenang di sepanjang kubang asa. Ibu selalu menyiangi sedih kemudian menabur doa-doa di pojok firdaus.

Ibu berharap. Ketika panen tiba, doa-doa yang telah matang dapat menjadi berkat yang cukup untuk pulang ke rumah.


Merantau

Aku pernah bertemu seorang perantau. Sekitar 30 tahun ia pergi meninggalkan kampung. Baru beberapa pekan dia datang. Suatu pagi yang mendung, di bawah pohon kersen di depan gelas-gelas kopi yang semakin dengin, ia bercerita tentang hidup di tanah orang. Katanya “hidup di rantau tidak mudah. Gampang-gampang susah. Kamu harus pandai membagi duka, bijak memahami rasa dan tidak boleh tenggelam dalam riang yang kebablasan”.

Salah satu di antara kami mencodongkan badan kemudian berkata, “bukankah banyak yang bercerita jika hidup di tanah rantau itu mengasyikan. Bertemu banyak orang, hidup di kota yang besar dan megah. Segala sesuatu bisa didapatkan. Lalu apa maksud dari pandai membagi duka, bijak memahami rasa dan tidak boleh tenggelam dalam riang yang kebablasan?”.

Sang perantau menatapnya. Menyeruput kopi sambil menutup mata. Sesaat kemudian dia berbisik kepada kepada kami…. ‘’merantualah”.

  • Perjalanan
  • Perjalanan menawarkan tujuan-tujuan
  • Melabuhkan oasis
  • Di sepanjang singgah
  • Pada setiap rumah yang kita namakan pernah

  • Perjalanan takan pernah terbatas
  • Kisah-kisah takan cepat usai
  • Demikian juga suguhan kopi
  • Yang selalu lahap di meja makan

  • Perjalanan sering mendesak
  • Langkah harus berkenan
  • Karena semesta baru dapat dipahami
  • Bila engkau rela untuk meninggalkan rumah

  • Trilogi Senja Kala

  • (1)
  • Adakah yang istimewa ketika mentari terbenam?
  • Bukankah jingga hanya sesaat melintas
  • Sisanya adalah biru yang pekat
  • Menggiring rindu menuju malam

  • (2)
  • Sebenarya ada ketakutan yang wajar
  • Ketika senja hampir berlalu
  • Bilamana hati tak siap mengamini malam
  • Beserta seluruh rindu yang tenggelam dalam pekatnya

  • (3)
  • Kadang senja hanyalah suatu kisah yang ambigu
  • Lalu tenggelam
  • Senja yang berikutnya hanyalah teka-teki
  • Sekaligus malapetaka
  • Adakah asmara yang lebih rapuh
  • Dibanding bernostalgia dengan derita?
  •  
  • Musim

  • Musim semi tiba
  • Bertaruklah segala iba
  • Bermekarlah rupa-rupa asa
  • Pada pucuk-pucuk ranting bidara

  • Sejak panas berulah
  • Kita gersang tiada basah
  • Begitu pula belantara
  • Masih terbakar membara

  • Gerimis kita berteduh
  • Di antara tepian masa, lekaslah
  • Lebat datang meletup
  • Aku dan kamu dalam cinta yang kuyup

  • Tak perlu kau cemas
  • Tentang daun-daun yang gugur
  • Musim hanyalah jeda masa untuk berbenah
  • Agar kita semakin leluasa mendefenisikan rindu
  • Pada musim-musim berikutnya

  • Trilogi Malam yang Rindu

  • (1)
  • Malam adalah cara semesta memberi arti
  • Tentang ada dan tiada
  • Karena hitam dan abu-abu adalah rindu itu sendiri
  • Jika malam menurutmu adalah sunyi yang mengharukan
  • Maka rinduku adalah terang yang menghangatkan
  • Sebab cinta kita tidak tumbuh di antara kecemasan-kecemasan

  • (2)
  • Antara nyala lilin dan sunyi yang menggenangi kalbu
  • Ada rasa yang meresah
  • Malam yang terlalu berulah
  • Ataukah kita yang terlalu larut dalam kisah

  • (3)
  • Barangkali kita punya kecemasan yang sama
  • Tentang ilusi dari segala diam
  • Seperti lazim embun menggantung
  • Pada sepotong malam yang rapuh
  • Memberi arti pada sebuah kegelisahan rasa

  • Kematian
  • Mengapa misteri?
  • Sebab ia begitu rahasia
  • Demikianlah maut dengan segala kepastiannya
  • Kematian memang keji
  • Namun hidup yang sesungguhnya
  • Harus berawal dari sebuah kepergian

  • Saatnya tiba
  • Kita akan berhenti seperti titik
  • Pada sajak-sajak yang sangat pribadi
  • Sebercanda itukah Tuhan??