Hubungan antara Rusia dan Iran memburuk hingga akhir abad ke-20. Kemudian, pada tahun 1989, mereka secara terbuka mendeklarasikan ikatan politik mereka, dengan janji melindungi kepentingan bersama mereka dan meningkatkan kerja sama mereka dengan negara-negara non-Barat.

Ada tiga faktor utama yang mempengaruhi hubungan mereka. Pertama, pengaruh Amerika Serikat terhadap Iran dan Timur Tengah selama sebagian besar abad ke-20.

Kedua, hubungan nuklir Rusia dan Iran, karena kedua negara ini telah menandatangani perjanjian kerja sama nuklir.

Ketiga, Rusia dan Iran bersama ke Asia dengan peluang untuk bekerja sama di bidang politik dan ekonomi.

Pada hubungan ekonomi, antara Iran dan Rusia ialah tidak stabil. Meskipun antara akhir 1990-an dan 2008, total perdagangan mereka sangat berkembang, tetapi secara progresif turun dari 2011 hingga 2015 dan sejak saat itu hampir tidak berhasil pulih.

Demikian pula, neraca perdagangan Rusia dengan Iran telah berkembang dengan cara yang sama, meningkat tajam antara tahun 2002 dan 2010, sementara menurun dari tahun 2011 dan seterusnya.

Sehubungan dengan alasan di balik hubungan mereka yang tidak stabil, hal itu tampaknya merupakan konsekuensi dari sanksi yang dijatuhkan masyarakat internasional terhadap program nuklir Iran.

Terlepas dari kurangnya kemajuan ekonomi yang signifikan, hubungan Rusia-Iran yang tumbuh telah tercermin melalui peningkatan kerja sama mereka di wilayah Eurasia. Meskipun kerja sama ekonomi antara Rusia dan Iran yang terbatas, kedua negara ini memiliki kepentingan geoekonomi yang sama.

Adanya kepentingan itu dikarenakan sumber daya yang dimiliki Rusia dan Iran merupakan bagian penting dari ekonomi kedua negara tersebut.

Rusia adalah negara dengan cadangan gas alam terbesar dan produsen dunia kedua setelah Amerika Serikat. Rusia juga menempati posisi ke-8 dalam cadangan minyak bumi dan merupakan penghasil minyak mentah pertama.

Sementara itu, Iran merupakan pemegang cadangan gas dan minyak terbesar kedua dan ketiga. Pada tahun 2019, ekspor utama Iran sejauh ini adalah minyak mentah, meskipun ada batasan yang diberlakukan sejak 2017 oleh sanksi internasional terhadap negara tersebut.

Meskipun tidak berada di antara mitra dagang satu sama lain, mereka menyadari pentingnya kerja sama di wilayah tersebut. Pertama, pada 2017, Perusahaan Minyak Nasional Iran menandatangani berbagai perjanjian dengan perusahaan Rusia seperti Rosfnet dan Gazprom untuk operasi bersama di ladang minyak Iran.

Di bawah kesepakatan ini, perusahaan Iran membeli peralatan dan teknologi Rusia dengan imbalan kontrak minyak, sehingga Rusia dapat menjualnya ke negara ketiga. Perkiraan nilai dari perjanjian ini naik dari $30 miliar pada tahun 2017 menjadi $50 miliar pada tahun 2018.

 Kesepakatan ini adalah bagian dari strategi Rusia untuk meningkatkan perannya di Timur Tengah, menjadi perantara antara Amerika Serikat dan Iran dan memastikan dominasinya sebagai kekuatan energi pemasok ke Uni Eropa.

Dan kedua, Laut Kaspia ditemukan sebagai salah satu skenario terpenting untuk kerja sama Rusia-Iran di sektor energi. Laut Kaspia sendiri merupakan badan air pedalaman terbesar di bumi, mengandung lebih dari 40% dari total perairan pedalaman dunia.

Selain itu, Laut Kaspia ini juga berbatasan dengan Rusia, Iran, Azerbaijan, Kazakhstan, dan Turkmenistan. Hal ini tentu menunjang kepentingan geoekonomi Rusia terhadap Iran.

Laut Kaspia ini menghubungkan negara-negara tanpa perbatasan darat, seperti Iran dan Rusia. Di sisi lain, Kaspia sangat kaya akan minyak dan gas, serta sumber daya lainnya. Bahkan, beberapa jaringan pipa minyak dan gas terpenting berangkat dari wilayah Kaspia ke Rusia, Eropa, dan Turki.

Selain semua ini, Iran juga menemukan ladang gas Chalous di Laut Kaspia, yang diperkirakan merupakan cadangan gas terbesar ke-10 di dunia. Dalam konteks ini, Iran dan Rusia sedang dalam proses penandatanganan perjanjian kerja sama 20 tahun yang akan membagi keuntungan dari bidang ini.

Meskipun hubungan ekonomi antara Rusia dengan Iran berjalan dengan lambat, kedua negara ini telah meningkatkan kerja sama mereka di Eurasia. Tantangan dalam kerja sama kedua negara tersebut tetap menempatkan hubungan Rusia dan Iran dalam posisi yang strategis untuk mengejar pengaruh regional di Eurasia.

Hubungan yang terjalin antara kedua negara, kenyataannya belum mengembangkan aliansi yang solid. Hal ini dikarenakan, meskipun mereka memiliki kepentingan geoekonomi yang sama, terutama di bidang energi, mereka memiliki kepentingan geopolitik yang saling bertentangan di Timur Tengah.

Kepentingan geoekonomi suatu negara sangat penting  bagi hubungannya dengan negara lain. Kasus Rusia adalah contoh yang sangat baik bahwa kepentingan menguasai dunia.

Baik Rusia dan Iran telah menemukan kerja sama mereka sebagai peluang untuk mengimbangi sanksi mereka dari Barat. Namun, Rusia juga tertarik untuk bekerja sama dengan negara-negara lain di Timur Tengah, yang merupakan saingan Iran. Secara keseluruhan, Rusia memiliki tujuan domestik yang sangat jelas yang mengarahkannya ke agenda luar negeri yang sangat pragmatis.