Sosok pemuda bagi masa depan suatu bangsa adalah hal yang sangat penting bagi keberlangsungannya. Pemuda adalah pemegang tunggal estafet pembangunan bangsa.

Karena hidup berganti, setiap orang akan menjadi tua dan pensiun, sehingga pemimpin-peminpin yang tengah memimpin negeri ini suatu saat akan berganti dengan pemimpin-pemimpin yang baru.

Bila diibaratkan matahari, maka usia muda serupa pukul 12. Di mana matahari bersinar paling terang dan paling panas. Secara fisik, pemuda memiliki kekuatan yang lebih, memiliki semangat dan jiwa muda.

Pemuda adalah pengukir prestasi yang membanggakan bagi bangsa dan negara. Inilah jiwa pemuda. Jiwa yang penuh gelora dan semangat membara, hingga ketika seorang pemuda sudah tidak lagi punya semangat, harapan, dan cita-cita dalam hidupnya maka sesungguhnya ia telah menua sebelum ia tua. 

Imam Syafi’i pun berkata, “Tidaklah mungkin orang yang punya mimpi dan bercita-cita besar hanya duduk berpangku tangan. Tinggalkanlah kenyamanan maka kau akan menemukan gantinya karena kenikmatan hidup didapatkan setelah kau melewati kelelahan."

Tantangan dan hambatan kian hari makin menantang. Setiap hari bangsa disuguhi dengan berbagai keburukan dan masalah melalui media-media sosial tanpa memberi solusi akan masalah yang sedang terjadi. Seolah bangsa ini tidak lagi punya harapan ke depan. 

Padahal, begitu banyak prestasi membanggakan yang dipeoleh anak bangsa dan juga potensi bangsa ini yang belum tereksplorasi secara maksimal. Begitu banyak ide-ide cemerlang yang diberikan oleh pemuda bangsa ini khususnya para mahasiswa. 

Mereka terus membangun bangsa lewat berbagai disiplin ilmu yang mereka kuasai dari pertanian, perikanan, militer, hingga politik dan lain sebagainya. Satu hal yang selalu menjadi motivasinya karena mereka memiliki mimpi dan visi yang jauh ke depan.

Memang benar, bermimpi belum tentu menjadikan orang sukses, tapi yakinlah bahwa setiap orang yang sukses pasti punya mimpi-mimpi besar. Begitulah pepatah mengajarkan, “Bermimpilah setinggi langit, jikalau kau jatuh maka kau akan jatuh di antara bintang-bintang”. 

Memang baik meraih suatu mimpi, tetapi lebih baik lagi ketika kau mampu melebihi mimpi tersebut.

Oleh karena itu, jangan pernah menurunkan mimpi dan cita-cita, tetapi perbesarlah usaha, daya, dan kemampuanmu untuk meraih dan menikmatinya. Begitulah yang terjadi di masa-masa yang terdahulu, bahwa pemudalah yang mampu melakukan perubahan besar terhadap bangsa, agama dan tanah airnya. 

Dalam agama, ada Ibrahim muda yang menentang Namrud demi tegaknya nilai ketauhidan, ada juga Musa yang menentang Fir’aun yang zalim, hingga saat reformasi pemerintahan Indonesia yang berperan dan memberikan andil besar yaitu para pemuda khususnya para mahasiswa.

“Seorang anak muda adalah mereka yang tidak mengatakan, ini loh ayahku dan milik ayahku, tetapi inilah diriku.” Begitulah Ali bin Abi Thalib menuturkan. 

Tak ada alasan lagi bagi anak muda untuk bermalas-malasan dan menunggu harta warisan. Karena itu tak ada satupun orangtua di dunia ini, yang nalurinya berkeinginan anaknya seperti orangtuanya, tetapi mereka semua berharap anak-anaknya mampu berkali-kali melebihi orangtua mereka. 

Oleh karena itu, para leluhur bangsa ini merelakan semuanya dari harta hingga jiwa mereka untuk membebaskan bangsa ini dari tangan para penjajah. Salah satu slogan yang terus dikumandangkan saat itu yaitu “Merdeka atau Mati”. Sudah selayaknya para geneasi muda untuk terus berkarya dan melunasi janji-janji kemerdekaan para leluhur bangsa ini.

Bangsa Indonesia bukanlah bangsa terjajah tapi bangsa pejuang, maka tak ada alasan bagi generasi muda untuk berleha-leha dan bermalas-malasan. Begitu beruntungnya para generasi muda yang terus melangkah dan berlomba-lomba dalam kebaikan dan menebar kebaikan.

Sedangkan begitu celakanya para generasi muda yang terus-menerus melakukan keburukan dan tidak melakukan perubahan sehingga mereka pun tergerus oleh perubahan zaman. Generasi tua menawarkan masa lalu karena pengalamannya, tetapi generasi muda haruslah menawarkan masa depan karena  punya harapan.

Pemuda saat ini adalah pemimpin masa depan. Karenanya, jika kita ingin mengetahui bagaimana suatu negara di masa yang akan datang, maka lihatlah pemudanya yang sekarang. 

Oleh karena itu, perlu adanya suatu pendidikan moral, pengembangan wawasan, keterampilan serta penanaman rasa nasionalisme pada generasi muda, karena pemudalah tulang punggung negara di masa yang akan datang. 

Salah satunya melalui penanaman nilai-nilai kepribadian bangsa Indonesia yang tercermin dalam Pancasila dan semboyan bangsa kita “Bhineka Tunggal Ika”, sehingga mereka kelak,  ketika menjadi pemimpin bisa menjadi pelayan umat dalam segala bidang aspek kehidupan berbangsa dan bernegara tanpa melihat kaya miskin, pejabat atau rakyat, suku, ras, agama atau hal yang lain karena semua adalah sama dan tetap satu yaitu untuk Indonesia.

Ketika telah tertanam dalam dirinya nilai-nilai kepribadian bangsa tersebut maka jadilah mereka seorang pemimpin Pancasilais, seorang pemimpin yang selalu dengan teguh dalam mengamalkan nilai-niali yang terkandung dalam sila-sila Pancasila dengan sempurna sehingga secara otomatis dalam dirinya terdapat 5 gaya kepemimpinan yang dikombinasikan menjadi satu, karena sila-sila ini saling menjiwai antar satu sila dengan sila yang lain. 

Dari sila ke-1 mengandung nilai ke-Tuhanan, yang melahirkan gaya Kepemimpinan Thesis yaitu kepemimpinan yang religius yang melaksanakan hal-hal yang diperintahkan oleh Tuhan, dan menjauhkan diri dari setiap larangan Tuhan dan agamanya. 

Lalu sila ke-2 mengandung nilai-nilai kemanusiaan yang melahirkan Kepemimpinan Humanis yaitu kepemimpinan yang berlandaskan perikemanusiaan yang menjunjung tinggi hak-hak asasi manusia, etika sosial dan menjunjung tinggi nilai kebersamaan serta keadilan kepada setiap orang yang dipimpinnya.

Selanjutnya dari sila ke-3 mengandung nilai persatuan yang melahirkan gaya Kepemimpinan Nasionalis yaitu kepemimpinan yang memiliki rasa kesetiaan yang tinggi kepada bangsa atau tanah kelahirannya. Lalu pada sila ke-4 mengandung nilai kerakyatan yang lahirlkan gaya Kepemimpinan Demokratik, yaitu semua kebijakannya berlandaskan pada nilai-nilai kebijaksanaan yang diperuntukan dari, oleh dan untuk rakyat serta dari.

Sila ke-5 mengandung nilai-nilai keadilan yang melahirkan gaya Kepemimpinan Social Justice, yaitu pemimpin yang pandai dalam membaca situasi, mencari kearifan dan menemukan hal-hal yang tidak pernah dikemukakan oleh orang lain dan benar-benar sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat.

Selain itu, tetap menanamkan nilai-nilai yang diajarka dalam agama, yaitu jujur, amanah ,dapat dipercaya, cerdas, hingga mereka mampu bertanggung jawab atas segala tindakan atau kebijakan yang telah diambilnya.

Reposisi Gerakan Pemuda dan Pembangunan Daerah

Gerakan pemuda sebagai gerakan civil society akan terus menempatkan pemuda pada posisi pelatuk sekaligus pengawal perubahan. Semangat inilah semestinya terus terjaga dalam setiap gerakan kepemudaan. 

Indefendensi sebagai pilihan semangat gerakan pemuda dan kemandirian sebagai jiwanya, tidak boleh luntur dalam diri setiap gerakan pemuda. Pemuda jika didefinisikan sebagai masyarakat (social human) yang memiliki kesadaran organik dan senantiasa bergerak dalam kerangka kelembagaan, pada era desentralisasi ini, semestinya pemuda dapat menginternalisasi kembali efektifitas gerakannya. 

Sebagai jawaban atas peran apa yang semestinya diambil oleh pemuda dalam mengisi pembangunan daerah, pemuda perlu mereposisi dan mendefinisikan ulang gerakannya.

Posisi pemuda yang sangat strategis dalam pembangunan daerah, lebih jauh harus diturunkan dalam bentuk lebih nyata. Seperti sifat, “primordialnya” (lahiriahnya) pemuda yang pada puncak mobilitas gerakan paling tinggi, sangat berpeluang mengisi peran perekat antar wilayah. 

Peran mengintegrasikan elemen masyarakat daerah dalam pembangunan juga menjadi pilihan yang seharusnya mampu dilakukan dengan baik. 

Pola gerakan yang memadukan antara mobilisasi kepentingan masyarakat kedalam kebijakan pembangunan daerah (pendampingan/pemberdayaan) politik masyarakat lokal, dan kontrol sekaligus peningkatan kapasitas aparat pemerintah daerah, tidak mustahil untuk menjadi pilihan gerakan pemuda pada tingkat lokalitas.

Sejalan dengan semangat desentralisasi, dengan pelimpahan kekuasaan dan wewenang yang lebih luas kepada pemerintah daerah, membuka kesempatan bagi setiap masyarakat mengisi pembangunan daerah. 

Pemuda sebagai elemen penting masyarakat dalam pembangunan daerah, sudah sepatutnya memaknai dan mewarnai setiap kebijakan pembangunan daerah. 

Disinilah pentingnya pemuda memposisikan diri dan mengambil peran-peran strategis dalam pembangunan daerah saat ini.

Dalam rekam jejaknya, pemuda acapkali dalam posisi sebagai pelopor pembaharuan, pelatuk perubahan sekaligus pengawal perubahan. 

Semangat perubahan yang menjiwai semangat desentralisasi mestinya menemukan titik yang sama dengan peran yang telah melekat dalam diri pemuda. 

Menterjemahkan peran-peran strategis yang memberi konstribusi bagi percepatan pembangunan daerah menjadi pilihan yang tidak boleh berlalu tanpa pemaknaan dari pemuda.

Praktek desentralisasi yang acapkali tidak tepat diterjemahkan oleh pemerintah daerah, perlu terus mendapat kontrol dari masyarakat. 

Maka, pilihan sebagai oposisi (pengontrol kebijakan) dalam setiap kebijakan pembangunan daerah juga merupakan pilihan strategis bagi pemuda.

Sepatutnya, pemuda tidak lagi hanya dalam posisi berpangku tangan atau menunggu inisiasi dari pemerintah daerah untuk bersama-sama berperan mengisi pembangunan daerah. 

Menginisiasi dan mendorong konsep pembangunan daerah dalam era desentralisasi ini, sangat terbuka bagi pemuda. 

Pemuda yang mampu membaca tanda-tanda zamannya, seyogyanya telah berada pada pilihan penguatan kelembagaan lokal, guna mendorong kesadaran semua elemen masyarakat untuk terlibat aktif mendorong percepatan pembangunan daerah.

Akhirnya, pemuda harus menyadari bahwa, harapan dan cita-cita kemerdekaan akan kedaulatan sepenuhnya untuk rakyat, dengan semangat demokrasi oleh dan untuk rakyat, di era desentralisasi ini, ada dipundak para pemuda, pemuda harus terbuka dan progresif.

Pemuda adalah harapan bangsa dan sungguh sebaik-baik manusia adalah mereka yang paling baik akhlaknya dan paling banyak manfaatnya. 

Oleh karena itu, jadilah pemuda laksana mutiara dan permata bangsa yang tetap menjadi pelita ditengah gelap dan suramya generasi muda. 

Mari para pemuda terus mencoba untuk tetap berkilau, kita harus  yakin ,optimis bukan menebar caci maki, kita harus berprestasi bukan hanya menebar benci, dan kita harus sadar betul tugas kita adalah terus berkontribusi bukan hanya mengkritik tanpa solusi. “Bangkit Melawan atau Tunduk Ditindas."