Begitu tak terbendung lagi kerinduan yang membuat hati ini makin tertekan. Setelah tiga bulan lamanya pertemuan telah tergagalkan oleh situasi yang masih memanas dengan pendemi.

Rindu adalah salah satu wujud ketidakmampuan hati menahan perpisahan yang terlalu berkepanjangan. Obat rindu hanyalah bertemu. Namun apalah daya hanya bisa menahan tanpa berani mengatakan.

Kebingungan demi kebingungan dirasakan. Mungkinkah ini yang namanya cinta. Jika bersamamu, kebahagiaan akan mengalir deras dalam relung hati. Namun jika harus berpisah darimu begitu rasa yang tidak lagi bisa dipendam.

Kamis sore, tiba-tiba pesan singkat itu masuk. Masih diam belum ingin membukanya. Rindu ini membuat susah saja. Kapan akhirnya kita akan bertemu, berdua bercerita manja tentang rasa bahagia.

“Nanti malam ngopi yuk”

Pesan singkat yang membuat hati ini berdebar bahagia. Rasanya sore ini adalah sore paling bahagia yang pernah dirasanya selama hidup. Mira hanya tersenyum riang sambil mempersiapkan diri untuk bertemu dengannya nanti malam.

Mira seorang mahasiswa yang baru saja kembali dari kampung halamannya menuju tempat di mana dia kuliah. Refan adalah cowok yang dia dambakan sejak dahulu. Seorang laki-laki yang bisa mengalihkan patah hatinya dahulu.

Selama ini, Refan belum benar-benar tau bagaimana perasaan Mira padanya. Refan bukan tipe cowok yang langsung menyatakan cinta ketika kenal dengan seorang perempuan.

“ Cha, malam ini Aku mau pergi dulu ya. Ada yang ngajakin ngopi nih.” Ucap Mira.

“Siapa yang ngajakin kamu ngopi?” Tanya Icha. Teman sekamar Mira di kosnya.

“Temenlah ya.” Jawab Mira.

“ Cowok ya?” Tanya Icha.

Mira hanya tersenyum dan mengangguk. Sebahagia itu Mira mempersiapkan dirinya untuk bertemu seorang teman yang sangat dikaguminya.

Sebelum Refan, Mira memang kerap dijadikan candaan teman-temannya dengan Anko teman satu kelas Mira. Siapa yang tidak kenal Anko. Laki-laki dengan penuh keilmuan di otaknya. Pintar sekali.

Sebenarnya Anko adalah kakak angkatan Mira. Tapi dia telat melanjutkan studinya. Sampai pada akhirnya mereka satu kelas. Bisa dibilang Anko itu idaman perempuan-perempuan di kelasnya. Tidak hanya di kelas namun juga di organisasinya.

Anko, laki-laki berbadan tegap, mempunyai tubuh yang bidang dan sangat pintar dalam berbagai ilmu pengetahuan. Ahh namun sayangnya dia tidak sendiri. Dia sudah punya seorang pendamping di sampingnya.

Sebenarnya Anko juga mempunyai rasa cinta dengan Mira. Namun keduanya hanya memendam rasa itu dalam-dalam. Mira tidak ingin merusak hubungan kebahagiaan Anko dan perempuan yang telah mengidam-idamnkannya.

Cinta memang terkadang begitu. Dikala seseorang saling mencintai namun ada orang ketiga yang tidak bisa untuk ditinggalkan. Begitulah cerita mereka Anko dan Mira. Sampai pada akhirnya mereka saling jujur satu sama lain jika mereka saling suka.

Kejujuran itu hanya sebagai pemanis dalam hubungan mereka. Tidak bisa saling memiliki hanya sekedar mengagumi. Anko memang sosok yang sangat humble dengan siapapun. Harus hati-hati menjadi seorang perempuan jika dekat dengannya.

Malam yang dinantikan telah tiba. Jam 20.00 wib. Mira sudah bersiap untuk segera pergi menemui seorang cowok yang dirindukannya. Persiapan sudah matang. Satu jam sebelumnya sudah mulai memilih baju yang akan dipakainya.

Waktu semakin berjalan. Lima belas menit sudah terlewati. Tiba-tiba handphone berdering. Iya telepon dari Refan.

“Iya, Halo Refan.” Ucap Mira.

“ Yuk, Aku udah sampai di tempat.”

Seketika Mira bingung. Mengapa Refan tidak menjeputnya.

“Kamu naik ojek online aja yaa. Aku pesenin dari sini.” Lanjut Refan.

“Lho kenapa kamu gak kesini aja? Ya udahlah oke cepetan pesenin.” Jawab Mira sambil menutup telponnya.

Mira segera turun ke lantai satu. Kamar kosnya memang di lantai atas jadi harus turun ke bawah untuk menunggu ojek online yang telah dipesankan.

Pertemuan itu berakhir pada jam 23.00 wib. Sudah tidak menjadi hal yang tabu ngopi sampai selarut itu. Banyak mahasiswa yang masih nongkrong malah sampai pagi dini hari.

“Cha, Aku di luar. Pintunya udah dikunci.”  Mira mengirim pesan kepada Icha teman sekamarnya.

“Bentar-bentar, Aku turun dulu.” Jawab Icha.

Malam itu, Mira memang sudah terlewat batas pulang ke kosan. Lebih dari jam 22.00 wib kosan sudah ditutup. Akhirnya Mirapun menginap di kosan temannya.

Pagi yang begitu membahagiakan. Mira pulang dari kos temannya dengan banyak cerita. Icha sebagai pendengar setianya mulai mendengarkan cerita hati seorang perempuan yang sedang jatuh cinta di depannya.

“Aku bahagia banget bisa ketemu Refan. Laki-laki yang selalu ku rindukan. Rasanya tidak bisa ku ceritakan.” Mira membuka ceritanya.

“Eh gimana tadi malam? Ngapain aja sama Refan?” Tanya Icha.

“Cuma curhat aja. Dia tau gak si sebenarnya kalau perasaanku dengannya kayak gini.” Lanjut Mira.

“Mungkin sebenarnya Dia sudah tahu, tapi belum berani ngungkapinnya. Begitulah cowok, mau ngungkapin takut ditolak padahal perempuannya udah nungguin.” Jawab Icha.

“Aku bingung dengan perasaanku ini. Semogalah Aku berjodoh dengannya.” Lanjut Mira.

Cinta itu butuh kepastian. Tidak hanya mengambang di angan-angan. Kemampuan perempuan untuk menahan rasa memang lebih hebat dibandingkan harus berkata sejujurnya kepada lelaki pujaannya.

Penantian demi penantian telah berjalan. Lama semakin lama waktu belum juga menjawabnya. Menunggu, menunggu dan masih menunggu. Sebenarnya apa yang ditunngu? Ucapanmu “ Aku ingin serius denganmu dan berkomitmen denganmu.”

Waktu akan terus berputar hingga akhirnya jawaban “Iya, Aku mau serius dan berkomitmen denganmu.”  Begitulah cinta yang selalu ingin diakhiri dengan rasa bahagia.