Hampir tengah malam ketika sebuah pesan singkat datang, "Aku ingin membaca puisi terakhirmu, boleh?" Aku tersenyum, setengah tertawa lebih tepatnya. Aku mengerti setiap tangannya menggenggam waktu luang atau jenuh dengan kehidupan kotanya yang riuh, ia selalu menyapaku, dengan caranya. Seperti malam ini, mungkin ada beberapa hal yang ingin ia katakan, bukan hal penting kurasa, tapi cukup menyenangkan untuk dibicarakan.

Aku memang bukan teman terbaiknya. Ia punya banyak sahabat-sahabat terbaik di dekatnya. Sejak mengenalnya enam tahun lalu, aku menyukainya. Percakapan kami tak pernah membosankan dan kurasa selalu menyenangkan. Terkadang ia menghilang lama, mungkin sibuk dengan cerita-cintanya yang aku dengar pasang surut bak air laut.

Beberapa menit lagi jam dua belas malam, aku kembali mengingatnya. Sementara di luar, angin mengantar dingin, mungkin karena musim akan segera berganti. Belakangan cuaca sungguh tak menyenangkan, beberapa kali flu menyerang, sedikit batuk-batuk. Mungkin aku butuh vitamin untuk bertahan dan butuh cinta yang menguatkan.

Heiii... cinta kubilang? Aku tertawa tanpa suara. Di dalam cermin, bayanganku tertawa lebar, menggodaku dengan jarinya membentuk daun cinta. Kami tertawa, lantas bayanganku mengedipkan mata kirinya dan menghilang.

Aku masih tertawa, menertawakan cinta yang begitu menyedihkan tapi tak pernah bosan dibicarakan. Ah, kenapa ngelantur ke mana-mana, aku sampai lupa bahwa temanku itu sedang menunggu jawabanku. Maka kutuliskan kata-kata semacam puisi untuknya, begini;

Kupotong jarak, sedepa demi sedepa.
Remuk hujan jatuh di pelataran, remahannya mengambang menjadi pertanyaan.
Sungguh kesedihan ini harus kubunuh dalam sunyi, agar teriakkannya tak menyakiti.
Kekasih, ceritakan padaku tentang hari esok sesaat setelah masa lalu kita kemas, dan pesta kehilangan telah tuntas.

*

Suatu waktu percakapan kita jatuh dalam secangkir kopi. Setiap cecapnya terasa, melarutkan segala. Menyala dalam padam lampu kamarku. Sambil sesekali tawa kita pecah bercampur tebalnya asap tembakau.

Feeling Good yang dilantunkan Michael Buble, aku begitu menyukainya. Puluhan kali kudengar. Kurasa kau pun juga. Kurasa ini membuatku merasa lebih baik, mengurai lelah, melepaskan jengah. Aku juga menyukai ini, Fall Again dari Kenny G feat Robin Thicke.

Seperti jatuh cinta berkali-kali pada seseorang yang padanya pandanganku luruh. Diam-diam, dalam-dalam. Ah, kembali aku melantur, maafkan aku. Baiknya kutulis lagi semacam puisi, tapi mungkin bukan, entahlah. Aku tak peduli, bacalah saja, seperti ini;

Setiap senja menyimpan cerita, tak melulu cinta yang itu-itu saja.
Terang jingganya menawarkan banyak hal, kadang sekulum senyum kadang tiris gerimis yang membuatku harus merapatkan jaket, dan memasukkan tanganku di saku sekedar menemukan hangat.
Lalu senja kali ini kita menuang riuh percakapan di gelas-gelas tinggi berwarna biru.

Sebotol bir dingin. Sepiring kue cokelat bertabur kacang dari toko roti ujung jalan.
Pertemuan kita tak terlalu istimewa, di antara basah jalanan selepas hujan, kulihat engkau sibuk menerka-nerka perasaanmu sendiri.

Sesekali melihat jam di pergelangan tangan atau mencari sesuatu entah apa, di ponsel yang kau bilang baru dibeli seminggu yang lalu.

Sesekali senyummu mengembang, sedikit kaku, mungkin karena kau paksakan. Sayang, aku tak meminta apa-apa, lepaskan beban di pundakmu, sederhanakan rasa. Cinta tak harus serumit itu, kan?

Sekali lagi kau tersenyum, kali ini lebih tulus... Maka biarkan waktu membawa kita pada sebuah realita, sekalipun itu luka.

Kepadamu yang jauh, rinduku bersauh.
Aku, yang masih saja memandangmu dari jauh dan menemuimu kadang kala.