Mas, malam ini sepi begitu menusuk. Tak hanya dingin yang sampai tulangku, ternyata sepi juga berujung di relung hatiku. Entah kenapa sebabnya. Aku tak tahu.

Atau mungkin aku terlalu merindukan riuhnya perasaan ketika akhirnya kita jumpa suatu saat nanti. Iya, kita; dua orang yang tak pernah saling bertemu. Yang nantinya akan disebut dengan "jodoh".

Harusnya kau paham jika rasional tak ada apa-apanya dibanding kerinduan. Itulah sebabnya aku sering irasional. Yang terus bertanya-tanya, "Kapan kita jumpa?" Meskipun aku tahu, jika suatu saat nanti pasti Tuhan mempertemukan kita. Ya, aku tak akan pernah berhenti bertanya.

Harusnya kau beruntung. Kau tahu kenapa? Karena kau dinantikan oleh orang sepertiku. Yang gigih dan pantang menyerah menanti dirimu. Petarung sejati tak hanya yang bisa mengalahkan ribuan musuh, tapi juga menolak ribuan yang datang demi satu orang.

Aku adalah petarung sejati. Tak hanya bertarung dengan duka kehidupan nan perih, tapi juga bertarung dengan waktu yang semakin menghilangkan kekencangan kulitku.

"Kamu terlalu pemilih, sih."

Aku hanya mendengarkan hatiku yang selalu kutanya ketika bertemu seseorang.

"Apakah dia orangnya?"

"Bukan!" Seru hatiku tegas tanpa keraguan.

Yasudah, aku menurut. Serpihan petunjuk Tuhan terletak dalam hati. Jika hati saja sudah bilang begitu, ya aku manut saja. Kupikir, tiada hati yang ingin menjerumuskan empunya sendiri. Tidak sekonyol itu.

Jadi, jangan pernah menilai orang terlalu pemilih, terlalu ini, terlalu itu. Biarkanlah mereka dengan urusan masing-masing. Toh, si pemilih itu tidak merepotkan hidupmu kan?

Kenapa aku pemilih? Ya jelas dong. Mau beli baju saja harus keliling toko mencari yang pas di hati (eh, pas di badan maksudnya). Masa iya belahan jiwa mau sedapatnya saja?

Mas, kadang aku tiba-tiba jengkel dengan keadaan yang menyudutkanku. Aku sering diberondong pertanyaan yang aku sendiri sedang menanyakannya. Ini seperti pertanyaan, "Mengapa Jakarta selalu banjir?"

Jawabannya banyak, tapi tiada yang tahu pasti. Ada yang bilang bencana alam, ada yang bilang kesalahan manusia, dan sebagainya. Ya seperti itu, tidak seperti pertanyaan, "Satu ditambah satu berapa?" Itu jelas jawabannya satu saja, "Dua."

Malam kemarin aku mencarimu di antara taburan bintang di angkasa, tapi kau tak ada. Esok tadi aku menduga kau di antara titik air deras yang mengguyur bumi, kau pun tak ada. Lalu, sore ini aku ingin mencarimu di antara warna jingga senja. Akhirnya aku urungkan niat, aku terlalu takut perasaanku yang semakin "senja".

Baca Juga: Perihal Rindu

Awalnya aku mengira, apa-apa yang disampaikan orang benar. "Kau hanya mimpi bagiku." Setelah kulangkahkan kaki, aku yakin mereka yang salah. Aku pernah melihatmu satu kali dan tak pernah lagi kulihat setelahnya. Aku jatuh cinta setengah mati denganmu.

Sayangnya, kau telah memiliki "peraduan". Betapa hancur berkeping-keping harapanku. Dan, ini membuktikan bahwa orang yang kucari itu bukan mitos atau aku yang halu. Bukan!

Jangan menyerah wahai diri. Katanya, jika kita berniat pada kebaikan dan yang baik itu tak menjadi milik kita; maka Tuhan akan menggantikan dengan yang jauuuh lebih baik dari itu. Nah, jadi semakin semangat menanti dong.

Jika yang aku tunjuk seperti itu dan Tuhan menjanjikan orang yang lebih baik. Maka aku berekspektasi semakin liar. Tenang saja, Tuhan tidak pernah ingkar janji. Dan, ekspektasi kali ini bukan kesalahan. Beda dengan kekecewaan akibat ekspektasi terhadap "manusia".

Aku adalah orang paling keras kepala atas keyakinan yang kuyakini. Asal itu baik dan benar, maka akan kuperjuangkan mati-matian. Termasuk hal ini, saat jamak orang berpaham aku terlalu halu, tidak masalah. Yang masalah adalah menuruti kata-kata mereka dan "membunuh" diriku sendiri.

Menurutku, jika ada seseorang yang bisa seperti itu. Kenapa aku tidak? Kita sama-sama manusia, sama-sama ciptaan Tuhan yang lahir tanpa apa-apa dan mati tak membawa apa-apa pula. Iya kan?

Baca Juga: Terjebak Rindu

Keyakinan itu yang membuatku menjadi orang paling prinsipil dan keras kepala. Jadi, sekali aku bilang, "Tidak". Ya memang tidak. Bukan semacam anak abege yang pura-pura 'tidak' agar dikejar. Malu juga sama umur, hehe.

Dan, sekalinya aku berkeyakinan keras akan menunggu dan pasti bertemu. Ya sudah seperti itu adanya. Tak ada satu orang pun yang menggoyahkan keyakinanku. Meskipun seribu orang bilang, "Kamu mimpi." Aku tidak akan berhenti berkeyakinan.

Sebelum Tuhan yang menyuruhku berhenti, maka aku akan terus melangkah. Sebelum Tuhan yang melarang, aku akan terus berjuang.

Betul sekali, aku selalu merasa dekat dengan Tuhanku. Bukan mengatasnamakan agama untuk kepentingan apa-apa, tapi berserah diri kepada-Nya selalu membuat gundah berubah jadi tenang.

Dia yang memintaku untuk terus melangkah dan tak berhenti berjuang. Termasuk memperjuangkan penantian dan pertemuan kita, Mas. Salam rindu ya, entah di mana kau berada dan seperti apa rupamu.