Mazhab Frankfurt berkembang dengan suatu tradisi pelestarian terhadap budaya kritis, yang kemudian berkembang menjadi proyek teoritis utama mereka yakni Teori Kritis. Ia mengembangkan corak filsafatnya sendiri yang nantinya menjadi landasan kritiknya. 

Mazhab Frankfurt didirikan pada 23 Februari 1923 di Frankfurt, Jerman, tepatnya terletak di W. Goethe Universitas Frankfurt (W. Goethe Universitaet Frankfurt) di dalam suatu lembaga riset sosial yang bernama Lembaga Penelitian Sosial (Institut fur Socialforschung).

Bertens menguraikan secara historis tentang Lembaga Penelitian Sosial ini yang telah melahirkan suatu tradisi filsafat kritis yang kita kenal dengan Teori Kritis Mazhab Frankfurt. Lembaga ini didirikan oleh Felix Weil, seorang anak dari pedagang gandum yang kaya raya, sekaligus sarjana ilmu politik. Berkat kekayaannya ia mampu mendirikan lembaga ini dengan bantuan ayahnya. 

Tujuan Felix Weil adalah mendirikan lembaga penelitian yang independen yang mempunyai kemampuan finansial secara mandiri dan tidak bergantung pada Universitas Frankfurt. Di dalam kondisi politik yang panas waktu itu, di mana Hitler berkuasa secara absolut, lembaga ini pernah ditutup pada 1933 oleh rezim Nazi karena mengkritisi dan menentang aliran politik ultra-nasionalisme-sosialisme (Nazi) yang dianut pemerintah. 

Beruntung Max Horkheimer (spesialis filsafat sosial) yang merupakan direktur institut sejak 1930 sudah mengantisipasi dengan mendirikan beberapa cabang di berbagai tempat, misalnya di London, Jenewa, dan Paris. Tetapi pada akhirnya tempat itu pun tidak selamanya menjadi tempat yang aman, sehingga Horkheimer memboyong serta semua anggotanya untuk melarikan diri ke Amerika Serikat dari bayang-bayang fasisme.

Mereka bermukim di kampus Colombia University di New York dengan terlebih dahulu menjalin kerja sama dengan rektornya. Pada masa-masa di Amerika, mereka tetap melanjutkan kerja-kerja intelektualnnya di dalam International Institute of Social Research.

Sekitaran 1949-1950, sebagian anggota dari institut kembali ke Jerman, di antaranya Horkheimer sendiri dan Theodore W. Adorno (spesialis musikologi, filsafat, psikologi, sosiologi) dan Friedrich Pollock (spesialis ekonomi), mereka kembali ke Universitas Frankfurt, tetapi sudah berafilisasi dengannya. Sementara tokoh-tokoh pemikir lain di dalamnya masih tetap bertahan di Amerika, seperti Herbert Marcuse (filsafat), Leo Lowenthal (sosiologi kesusastraan), dan Erich Fromm (psikoanalisis dan psikologi sosial).

Pada dasarnya Mazhab Frankfurt yang mengembangkan teori kritis berangkat dari latar belakang disiplin ilmu dan filsafat yang berbeda-beda. Tetapi tetap pada suatu aturan yang harus dipatuhi yakni independen dan mengembangkan teori berdasarkan maksud teori kritis yakni emansipatif dan praksis.

Di luar nama-nama di atas masih ada nama lain lagi seperti Karl Korsch (spesialis filsafat), Welter Benjamin (spesialis ilmu kesusastraan), dan Carl Günberg seorang direktur institut sebelum Horkheimer.

Nama-nama tersebut di atas adalah nama-nama generasi pertama Mazhab Frankfurt, sedangkan generasi kedua adalah nama-nama seperti Jürgen Habermas, lalu ada Alfred Schmid, Axel Honneth, dan beberapa sarjana muda lainnya.

Secara garis besar, dalam mengembangkan riset dan teori kritisnya, Mazhab Frankfurt sangat dipengaruhi oleh Kant, Hegel, Marx, dan Freud. Teori kritis bermaksud kritik terhadap berbagai aspek kehidupan manusia, ataupun kritik teoritis dari teori-teori lain. Tujuannya adalah mengungkap sifat masyarakat secara akurat di era yang mereka sebut sebagai Spatkapitalismus atau kapitalisme maju.

Ritzer dan Goodman setidaknya memetakan beberapa inti kritik Mazhab Frankfurt, di antaranya adalah pertama, kritik terhadap teori Marxian. Kepada teori Marxian, Teori Kritis menolak determinisme ekonomis sebagaimana berkembang dalam tradisi teori Marxis.

Menurut para teoritisi Teori Kritis, ekonomi bukanlah satu-satunya penentu kehidupan manusia, ada aspek-aspek lain yang turut serta menentukan, yakni kultur, kondisi sosio-politik, subjek atau aktor, dan lain-lain. Maka dari itu Teori Kritis menolak dengan mentah-mentah konsep basis dan suprastruktur yang diajukan Marx, di mana Marx mengatakan basis ekonomi menentukan kesadaran dalam suprastruktur.

Franz Magnis Suseno mengajukan beberapa inti kritik Mazhab Frankfurt terhadap teori Marxis, yakni (a) Dalam masyarakat industri maju, teknik dan ilmu pengetahuan menjadi tenaga produktif pertama. Dengan demikian, teori nilai pekerjaan kehilangan artinya.

(b) Sekaligus pertentangan antara pekerjaan dan modal pun kehilangan relevansinya. Penindasan manusia tidak lagi merupakan penindasan kaum kapitalis terhadap para pekerja, melainkan semua ditindas oleh suatu sistem di mana proses produksi yang ditentukan oleh teknologi sudah tidak terkontrol lagi. Maka analisis kelas kehilangan fundamennya. 

(c) Dalam perbedaan tajam dengan Karl Marx, proletariat kelihatan sudah terintegrasi dalam sistem sehingga tidak lagi bersemangat revolusioner. Dengan kata lain, proletarian bukan lagi subjek revolusi.

(d) Dengan demikian, revolusi kehilangan arti. Dalam pandangan Teori Kritis, revolusi hanya akan mengembalikan keadaan. (e) Kritik terhadap ilmu ekonomi kapitalis diganti dengan kritik terhedap budaya teknokratisme.

(f). Dengan tekanan pada fungsi primer kesadaran dalam usaha emansipasi, primat mutlak dalam bidang produksi tidak lagi terjamin.

(g) Dan akhirnya mereka menolak dogma inti Marxisme, bahwa menurut hukum perkembangan ekonomi umat manusia, niscaya menuju ke penghapusan kelas dan kebebasan manusia.

Inti kritik kedua adalah kritik atas tradisi positivisme yang mengklaim diri bahwa ilmu pengetahuan bebas nilai (value free) dan netral. Positivisme menganggap perkembangan kehidupan manusia adalah suatu gerak yang ilmiah, yang mengabaikan peran aktor untuk memengaruhinya, sehingga ilmu pengetahuan menjadi pasif dan bertentangan dengan tujuan teori kritis yakni emansipatif. 

Positivisme juga merupakan puncak pembersihan pengetahuan dari kepentingan dan awal pencapaian cita-cita untuk memperoleh pengetahuan demi pengetahuan itu sendiri, yakni teori yang dipisahkan dari praxis hidup manusia. Pada tahap perkembangannya, positivisme bukan lagi hanya sebagai teori belaka, melainkan sudah menjadi kesadaran manusia Barat. Positivisme telah memisahkan antara pengetahuan dan kehidupan praktis.  

Tradisi teori kritis menanggap bahwa positivisme menyembunyikan ideologi di belakang klaim netral dan objektifnya yang berpotensi dominatif. Netralitas itu dalam perspektif Teori Kritis harus disingkap dengan mengorientasikan pengetahuan dengan maksud praksis-emansipatif. 

Positivisme telah mengubah kehidupan umat manusia bersifat teknokratis, reifikatif, kapitalistik, dan birokratik, sehingga membawa manusia pada alienasi total dan dehumanisasi. Positivisme juga lekat denga ilmu-ilmu alam, di mana mendasarkan diri pada klaim-klaim empiris. Aguste Comte (1798-1857) disebut-sebut juga sebagai bapak positivisme selain para filsuf di lingkungan Wina.

Inti kritik ketiga adalah kritik terhadap sosiologi yang positivistik. Kritik terhadap sosiologi yang positivistik ini karena sosiologi selalu mendewakan prosedur dan metode ilmiah sebagai tujuan di dalam dirinya sendiri, sehingga selalu melestarikan dan membela status quo. 

Sosiologi yang positivistik membatasi pandangannya terhadap manusia hanya sebatas kesatuan dari pada individu yang mempunyai relasi dengan kesatuan lainnya (masyarakat). F. Budi Hardiman memberikan tiga asumsi dasar yang dianut sosiologi positivistik. 

Pertama, bahwa prosedur ilmu-ilmu alam dapat diterapkan dalam ilmu-ilmu sosial. Dalam hal ini diasumsikan bahwa, gejala subjektif manusia tidak dapat mengganggu objek pengamatan, yaitu tingkah laku sosial manusia. Dengan cara ini objek disejajarkan dengan dunia alamiah. 

Kedua, hasil penelitian itu dapat dirumuskan dalam bentuk “hukum-hukum” seperti dalam ilmu-ilmu alam. Ketiga, ilmu-ilmu sosial itu harus bersifat teknis, yaitu menyediakan pengetahuan yang bersifat instrumental murni.

Inti kritik keempat adalah kritik terhadap modernitas. Kritik terhadap modernitas ini diwakili oleh Herbert Marcuse dengan karya fenomenalnya One Dimentional Man dan Horkheimer serta Adorno dengan karya “Dialektik der Aufklarung” (dialektika pencerahan). Mereka dalam mengkritisi modernitas berangkat dari teori Weberian tentang Rasionalitas-tujuan. Rasionalitas ini mengandaikan tujuan penaklukan terhadap alam dengan Rasionalitas Instrumental, dan terhadap manusia dengan Rasionalitas Strategis.

Rasionalitas-tujuan menurut mereka mendorong umat manusia berpikir secara teknokratik yang membuat mereka membela modernitas itu sendiri dan pada akhirnya mendominasi. Marcuse menjelaskan bahwa kehidupan manusia modern seolah-olah bergerak dalam rasionalitas, tetapi sebenarnya tersembunyi irasionalitas.

Modernitas dalam pandangan Marcuse memuat dominasi dan penindasan, sehingga menurut Marcuse, kita sebenarnya terepresi oleh represi dalam bentuk baru, atau dalam istilah Marcuse adalah Desublimasi Represif.

Dalam “Dialektika Pencerahan”, Horkheimer dan Adorno menjabarkan bagaiman dialektika itu terjadi. Lewat refleksi-diri (terutama berkembang pada zaman Pencerahan Eropa) umat manusia melepaskan dan meninggalkan segala mitos-mitos yang sebelumnya membelenggu rasionalitas manusia pada saat itu. 

Lewat refleksi-diri kemudian umat manusia melahirkan tatanan dunia modern, itu ditandai dengan akumulasi kapital tiada henti, birokrasi yang efektif, efisiensi, teknologi yang berkembang dengan pesat, sehingga semuanya seakan dapat dilihat, diukur, dikendalikan, bahkan diprediksi. 

Tatanan modern yang lahir dari refleksi-diri ini kemudian menjadi suatu model kepercayaan baru umat manusia modern. Ia menggantikan mitos lama yang ditinggalkan, dan menjelama melahirkan mitos baru lewat “produk-produk” modernitas, sehingga kehidupan manusia bergantung pada model rasionalitas kapitalistik, saintistik, dan birokratik. 

Dan pada akhirnya manusia menjadi adaptif terhadap sistem modernitas dan cenderung konsumeristik terhadap produk kapitalisme. Hal inilah yang membuat Horkheimer dan Adorno kebingungan, karena lewat refleksi-diri manusia berhasil terbebas mitos, tapi pada akhirnya menciptakan mitos baru. Dialektika Pencerahan yang mengalami kebuntuhan ini diperbaiki oleh Habermas dengan model Rasio Komunikatifnya.

Inti kritik kelima yakni kritik terhadap “Industri Kultur”. Kritik terhadap Industri Kultur maksudnya adalah kultur yang dirasionalkan, dibirokratiskan, dan dikomersialisasikan. Ini terlihat dari industri televisi dan media sosial yang mengendalikan dan membuat model-model kultur modern, tentang apa yang lagi hits dan sebagainya. 

Ada dua kritik utama dalam hal ini, yakni kritik terhadap “budaya massa” yang itu direproduksi terus-menerus oleh media massa. Budaya massa cenderung populer dengan sebutan budaya pop (pop culture) yang membius masyarakat modern. Dan kemudian kritik terhadap “kultur massa” yang melestarikan penundukan dari “budaya massa”.