Jika sang Baginda Nabi mampu melakukan sebuah perjalanan singkat dalam kurun waktu satu malam saja dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa hinnga menembus tujuh lapisan langit lalu tiba pada Sidratul Muntaha

Maka malam ini - tepat pada peringatan peristiwa sakral Isra Mi’raj - aku bertekad untuk menuntaskan tulisan singkat melalui kesepuluh jariku dalam mendefinisikan qudusnya namamu.

Bukanlah burak yang menjadi teman keramatku dalam menyusuri rimba tulisan ini, melainkan secangkir air putih dengan campuran sari tebu dan bubuk hitam pahit yang sifatnya suci tapi tak begitu mensucikan. 

Ia adalah kopi. Ramuan kuno yang mampu membawa kedua bola mataku menembus pekatnya malam pada gelombang alfa di titik pusat keheningan.

Jika tujuan utama terjadinya peristiwa Isra Mi’raj adalah untuk mengemban perintah menunaikan sholat lima waktu, maka aku bersaksi bahwa tulisan ini semata-mata dibuat dengan tujuan untuk merangkum keseluruhan rindu yang telah berkabung pada tiap-tiap rongga pikiranku. 

Setiap huruf yang tertulis menjadi kata adalah takzim. Dan setiap kata yang menjelma kalam adalah manifestasi yang maha qudus.

Singkat kata, boleh jadi tulisan ini merupakan tafsir panjang dari kelimat pendek ‘aku rindu kamu’. Boleh jadi pula bahwa rangkuman dari keseluruhan tulisan ini merepresentasikan intisari dari nama panjangmu. 

Maka dari itu, izinkan aku menuntaskan tulisan ini yang sumbernya, tak lain dan tak bukan, kunukil dari sabitnya senyum serta binar bola matamu.

Tulisan ini juga kurangkai sebagai tingkatan tertinggi dari rasa syukur untuk telah menjadi tunggal di hatimu. Aku mencintaimu sama halnya dengan aku mencintai mahakarya Tuhan yang maha estetik. Ada banyak cara untuk bertasbih kepada Tuhan, salah satunya ialah dengan mengeja namamu. 

Binar mata, lengkung senyum, indah tutur, cantik perangai serta seluruh keindahan yang melekat padamu kesemuanya tentu bersumber dari Tuhan. Barangkali aku pernah mengamalkan hal baik, entah apa, sehingga Tuhan mengganjarku dengan pahala berupa aku kini memilikimu. 

Aku sudah tak ragu lagi untuk meyakini bahwa Tuhan ada di sisiku ketika kau memasuki lapangnya hatiku. Aku takkan mengelak bahwa ingatanku penuh oleh kalimat-kalimat Tuhan ketika kau bersemayam dalam rongga-rongga pikiranku.

Singkatnya, semua hal yang disandarkan Tuhan kepadaku yang merujuk kepadamu berpusat dari kata rindu. Kamu dan rindu adalah esa di hatiku. 

Bahwa rindu adalah guru yang mengajari bibirku agar rajin menyebut namamu. Bahwa rindu adalah guru yang mendidik kesepuluh jariku agar mereka telaten menulis namamu.

Meski pada praktiknya kalimat ‘aku rindu kamu’ adalah hal yang klise, hal tersebut tentu akan menjadi keramat ketika ia keluar dari suaramu. Aku mendengar kata rindu sebagai gaung yang agung hanya ketika ia berorientasi pada namamu. 

Hakikatnya, kamu adalah sebuah nama yang jika kusebut, rinduku seketika berdenyut.

Semoga nanti kamu tahu bahwa saban kali aku memanjatkan doa di sepertiga  malamku, aku bertanya kepada Tuhan perihal konsep dan etimologi dari kata habluminallah dan habluminannas, lalu Tuhan tersenyum dan menghadirkanmu sebagai jawabannya. 

Dan ketika Tuhan telah membolehkanku memandangmu, aku sudah tak lagi iri dengan kisah orang-orang yang merindukan surga. Kau ringkasan dari keindahannya.

Maka dari itu, aku merangkai tulisan ini bukan hendak meragukan betapa sepasang matamu adalah dua diksi terbaik dari ratusan kata yang telah rapi tertata. Bukan pula hendak meragukan liku senyummu yang tak ubahnya titik koma sebagai tanda untuk mentakzimkan unsur estetika pada tiap kalimatnya. 

Jika bukan karena namamu, sungguh aku telah berputus asa sebelum kutulis huruf pertama.

Kini, aku telah menemukan tatapan zuriahku pada sepasang matamu. Kudapati namaku yang terucap fasih dari bibirmu. Kekhawatiran menjadi puncak dari zikirku. Bahwa aku adalah seorang pemuja yang tak jemu bersimpuh di hadapanmu. 

Dan semoga kelak kau akan selalu esa dalam diriku. Dan aku akan tunggal dalam dirimu.

Sekali lagi, semoga tulisan singkat di malam yang penuh keramat ini akan menandai  perjalanan jauh yang akan kutempuh -  yaitu perjalanan menuju ke haribaanmu. 

Perlu kuperjelas bahwa tulisan ini tak akan menerima apapun selain namamu. Karena selain sabda, namamu mengandung sugesti yang maha agung. Nama yang mampu meringkas seluruh puisi menjadi elegi abadi.

Langit hanya akan terlihat sepetak jika dibandingkan dengan luasnya hatimu menerima cintaku. Gunung pun terlihat hanya secuil dibandingkan senyum yang mampu menghangatkan dinginku. Laut terlihat setetes apabila seluruh sungai mengarus ke dalam rindumu. 

Kini, mungkin aku tak punya cita-cita apapun kecuali keinginan kecil untuk menjadi tanah air bagi kehidupanmu.

 Akhir kalam, tentu saja seluruh tulisan ini takkan mampu menampung derasnya rindu yang menghilir dari jantung ke seluruh sel-sel tubuhku. Bahwa ‘aku mencintaimu’ hanyalah sebuah ungkapan. Jauh di kedalaman lubuk ini, ada masa depan yang arusnya deras mengalir ke muaramu. 

Maka bila engkau telah menemukan getaran di setiap kalimat pada tulisan ini, itu tandanya bahwa rinduku telah sampai kepadamu.