Diamlah sejenak kata-kata. Aku ingin bersamamu tanpa keributan yang sia-sia, menebas ruang dengan tangan kosong dan hampa. Sunyi adalah bunyi yang mengendap, dalam riak air yang menetes satu demi satu dalam guci di belakang rumahku. Setiap aku membasuh muka, terkibas namamu dalam percikan yang mengalir di pipiku, terjatuh hingga mengalir ke samudera tertangkap banjang. Aku mengambilnya dengan baik.

Acapkali kau muncul dalam notifikasi pesan daring di gawai, sekadar mengucapkan salam hingga kini kau terdiam sebab salah yang nian bernyanyi. Kesempatan lalu, aku ingin tetap menjawabnya dengan kalimat yang sama; aku rindu, aku ingin memelukmu, aku ingin menjadi satu, aku ingin dengan tanpa melodi pilu. Sekian ingin yang tersampaikan, namun sesak tak mengenal waktu.

Pukul dua pagi, aku terlelap dalam keramaian suara-suara. Bunyi suara jalanan kosong, pohon yang tergerak angin tipis dan bincang-bincang manusia yang terdengar dari kejauhan mengeluarkan tawa. Seorang pria yang sibuk menari bersama jemari di atas laptop jadul itu, kopi yang kian habis atau barangkali tak disentuh dengan sengaja dan aku terjebak dalam sisa obrolan kita kemarin hari. Apakah sama dengan dirimu yang kini terlelap?

Hilmah, bagiku tiada kesempurnaan dalam dirimu yang aku pandang dalam diam maupun sadar. Jemari kecil yang ingin aku genggam itu, aku sadari kadang enggan untuk jemari ini meraihnya. Tidak, sungguh bukanlah aku menampik ingin menyentuhmu. Tiada keraguan, tiada tapi yang terkonsep dalam angan untuk menolak dirimu.

Seminggu katamu, aku amini dengan ragu. Aku tangisi dengan kata-kata, kata-kata yang maknanya saja aku lupa apa artinya. Kau tahu, bahkan dunia ini sudah penuh dengan kata-kata asmara, kalimat kosong yang terbuai dan membuai dalam suara ramai. Ingin aku menangis dengan sengaja, memohon seperti drama, meratap dengan air mata, menganggu dirimu agar kau sadar bahwa aku yang egois dalam berbagai sebab.

Sejenak, aku memikirkan hal-hal itu dengan santai. Kaki yang terselonjor, kepala yang tersandar dengan pikiran-pikiran sisa hari yang lewat begitu saja. Aku ingin mengerti, bahwa diriku kini berkata bukan atas dasar ego-sentris maupun nafsu banal yang nantinya aku sesali hari kemudian. 

Lain waktu, saat sedang menyeduh secangkir kopi yang mestinya kunikmati dengan sebatang tembakau justru aku lewati dengan abur. Mengabu dengan imaji, dengan penat yang makin menumpuk mengakas.

Kupingmu mungkin sudah amat kenyang dengan kalimat-kalimat cinta. Sudah khatam. Sudah dengan sudah, yang tersimpan dalam sela-sela waktu yang kau simpan dengan tertata. Hilmah, bagimu rindu adalah sebab yang jelas dalam jarak antar kita. Lebih jauh dari Bogor menuju Ciputat dengan angkutan umum yang kau naiki dalam ceritamu. Yang aku sesal, adalah mengapa aku tega berkata sesak pada tengah jeda.

Kau hanya rindu, aku hanya rindu dan kita hanya menunggu. Betapa aku sadari aku adalah lelaki yang amat sensitif terhadap kalimatmu, tawamu dan caramu. Katamu salah, aku terlalu menyalahkan diri tanpa mengais logika yang paling sederhana. Benar juga, aku hanya menuang cuka di atas luka yang bahkan tak semestinya ada. Sejak kesalahan adanya, mengapa ampun tidak menyentuhku untuk tidak.

Siang menjelang sore, kau yang sibuk berlalu-lalang. Aku menghampiri dengan sengaja. Cerita itu aku sisihkan, tidak dengan sengaja terucap dalam temu yang singkat. Kulihat matamu, ingin aku menyapunya jika tak ingat dengan plastik yang masih berisi susu yang kubeli dengan sengaja.

Kau tersenyum, aku menyapa dengan riang. Kataku, apa ini perempuan yang aku tega aku ucapkan kalimat tega? Aku buang sejenak pikiran itu, kutemui dirimu sendiri untuk mengingkari emosi saban hari. Kau yang sibuk kesana, kutemani hingga kesini lagi. Tidak ada motor kala itu, kaki adalah kendaraan kita yang dilalui obrolan tentang dirimu.

Urusan itu tertunda, kau pulang. Aku bicara, dengan sedikit kata yang aku coba tekan dengan canda. Bagiku, kesal adalah banding yang tak seberapa. Bagiku, baik dan sayang adalah hal yang selaras sore itu. Namun, mengapa sesak menjadi akhir kata kita? Mengapa kau tidak langsung saja berkata-kata dengan sejumput maksud yang aku akan pahami, tanpa perlu kau marahi aku?

Tolong, betapa aku hendak meringis melihat diriku yang tak kuasa melawan waktu. Melawan sisa zaman, yang semakin semarak kala aku hanya bisa menemukan dirimu dalam sisa kesibukan. Kemudian apa? Sepi yang terhardik dengan terbata-bata olehku,  atau kau dengan kesal yang mulai terulang? 

Kau yang keras kepala, dan aku yang terlalu menangkap dengan emosi yang tidak terduga. Pintaku, jarak adalah jarak. Biarlah adanya, cukuplah itu tanpa sempalan yang tiada ada. Dirimu satu, adalah aku. Diriku sendiri, adalah dirimu. Namun, kita adalah dua patah yang berbeda. Menahan bukan berarti tertahan.

Aku ingin rindumu. Yang sederhana, dengan obrolan panjang tentang ceritamu yang aku nikmati di penghujung hari.