2 bulan lalu · 282 view · 3 min baca menit baca · Cerpen 42074_58296.jpg
Pexels

Kepada Perempuan yang Melacuri Rasanya

Biarlah semesta menjadi saksi bahwa aku pernah mencintai perempuan sepertimu.

Pertanyaanku satu: apa guna puasa jika setelahnya kau mengumbar dosa? Lalu, di sudut-sudut kosan, kau mencumbui tubuh-tubuh mulus itu dengan desah yang penuh dengan keringat birahi. Kau mendesaknya untuk melucuti sandangan yang menutup kemaluan dan buah dadanya. 

Lalu apa? Mengucap kata manis sembari menciumi tubuh itu dengan sejumput kalimat romansa? Halah, omong kosong!

Demikianlah. Perempuan yang sederhana itu juga dengan tega meninggalkanmu sambil berkata-kata klise. Bukankah begitu, Tuan? 

Duh, apa dayamu. Kau lelaki biasa, bukan seorang kaya. Tampan, tidak terlalu. Kemaluanmu? Tidak terlalu besar. Agamamu? Boleh jadi bagus. 

Tapi, sayang sekali (mantan) kekasihmu itu hanya mencari kesenangan biasa. Boleh jadi, dia cari cinta. Ya, dengan sedikit kebodohannya, dia rela dicicipi barang sedikit. 

Oh iya, aku tak hendak melakukan persekusi. Itu bebas, toh?

Salah kau sendiri, kenapa bisa melepaskan perempuan sederhana itu. Dan, lucunya karena perkara selangkangan! Hahahaha, payah sekali. Dasar bodoh! 

Sudahlah, tak usah pikirkan ajaran guru-guru di pesantrenmu dulu! Molimo saja sana, lebih mantap dan menginspirasi. Barangkali, kau boleh lupa dengan perempuanmu itu. 

Loh, kau kenapa? Mau menangis? Haduh, Anda benar-benar bodoh. Kau menangisi apa? Dirinya? Perempuan bedebah itu justru sedang bermandi keringat, orgasme yang sudah sekian dari lelaki yang merebut libidonya. Mana mungkin dia ingat, sedangkan dia cuma merasa keenakan. 

Moralitas atas dasar agama sudah tidak berlaku, hidup bebas saja. Cinta? Yang penting perasaan, bukan? Kau bersetubuh dengan siapa pun tak masalah, yang penting hatimu, kan? 

Loh, kalau begitu kenapa perempuan itu tak kau begitukan saja? Oh, aku lupa, kau yang sebelumnya kan masih manusia alim. Seorang moralis yang tinggi! 

Kini, hiduplah sesukanya. Boleh pandai mengaji, boleh pandai membaca rawi maulid, boleh juga menjadi ahli agama. Tak apa, itu kedok saja. Ingat, selama kau menggunakan dalih agama dan melegitimasi itu sah dan aman. Hahahaha hebat sekali, bukan.

Tentu saja, konsep cinta macam Qais dan Laila itu hanyalah kisah klasik. Utopis, tak bermakna dan tidak realistis. Buktinya, kau sakit hati, bukan? 

Pada setiap sujudmu, kau meminta pada Tuhan yang Maha Kuasa, memohon padanya untuk menjaga (mantan) kekasihmu yang kau dambakan itu. Supaya apa? Supaya ia benar jodohmu, dan hatinya selalu terjaga. Tak tersentuh, cuma kamu. 

Bung, kau bukan Muhammad dan perempuan tengik itu bukanlah Khadijah. Jangan ketinggian, bodoh. Hidup zaman sekarang sudah harus serba pragmatis, dan itu memang mantap. 

---

Suara gawai berdering, lumayan berisik

“Halo, apa kabarmu” Suara perempuan terdengar syahdu di ujung gawai. Namun, tak ada tanggapan untuk suara itu.

“Aku mencintaimu, tapi ia juga aku cintai” Masih tak ada jawaban. 

“Namun ia nikma.. Eh, tidak begitu! Sungguh kau juga. Hmm, maksudku kau sungguh juga terkasih dalam hidupku.” Perempuan itu tiba-tiba kacau, meracau aneh. Napas terdengar cepat, seperti sedang bercinta. 

Telepon ditutup tiba-tiba. 

“Perempuan asu” suara lelaki yang membakar suasana, setelah menutup telepon itu. Kemudian ia menulis kembali

---

Jadi bagaimana, sudah paham, bung? Lagi pula cinta sudah sebercanda itu. Tak ada lagi nilai sakral dalam cinta. Seks yang dulu sebagai simbol puncak pelebur cinta, kini hanya satu dari bagian kecil cinta. Boleh jadi, seks di masa kini seperti berkata “aku rindu” pada orang-orang yang disayang. Tapi, pikirkan saja itu dengan ringan. 

Lagi pula memang benar, dan itu nikmat, bukan? Loh, kau takut dibilang mesum? Tak usah takut, kau tinggal berkata-kata mesra bak pujangga yang rindunya memuncak. Olah saja kalimat-kalimat yang puitis, lalu rangkul dengan bumbu halus hingga terlihat menarik. Sajikan dengan muka tulus, seakan kau hanya menginginkan incaranmu. Dijamin lunglai dibuatnya.

Lalu, kau bayangkan perempuan nista itu agar kau rasakan dendam yang memuncak itu terbalas. Agar dia tahu, bahwa kalimat cinta menjijikan yang ia sampaikan sembari bercinta itu bisa kau lakukan pula. Tak perlu menunggu Tuhan, kau bisa membalasnya sendiri bukan! Lalu sekarang kau bisa teriak ‘norma anjing!’. Semakin liar, semakin binatang. 

“Hahahaha kau benar juga!”

“Aku akan ikuti saranmu itu, tak ada salahnya dan enak”

“Persetan norma, lebih enak. Bodo amat dengan ajaran baik, lagipula orang seperti kita bebas berkedok”

Aku hanya tersenyum saja

“Lalu, agar perempuan jahanam itu tau rasa bagaimana dilecehkan”

“Menjijikan! Dasar perempuan sundal”

Lalu aku tertawa, puas sekali aku. Anjing, ini benar-benar nikmat. Baru tau aku rasanya ada pelampiasan rasa yang separah ini. Boleh jadi, aku sudah lahirkan konsep baru atas pelampiasan cinta. 

Lalu adzan berkumandang, aku terdiam. Menangis seperti orang bodoh. 

---

Dan, biarlah semesta menjadi saksi bahwa aku pernah mencintai perempuan yang melacuri rasanya itu. Dalam diam, dan nestapa yang beradu.

Artikel Terkait