Kegelapan adalah seperangkat kenangan yang tak pernah menyucikan diri sehingga terbuang dalam kubangan kekalutan yang disebut malam.

Sementara malam adalah penampungan manusia-manusia kesepian yang lupa harus berbuat apa. Hanya sibuk meratapi hari-hari yang akan datang dengan sekelumit pertanyaan, "Kemana aku setelah ini?".

Sungguh, birunya laut atau lapangnya langit tak mengubah isi hati dan pikiran manusia yang kesepian.

Harusnya semesta memberi isyarat, mana hidup yang layak dijalani atau justru memberikan peluang pada kematian yang kian medesak.

Para pekerja keras akan menjarah tubuhnya, menampung keringat berharap malam segera tiba. Sementara perempuan malam beserta lelaki mata keranjang berharap malam tak pernah selesai.

Di belahan lain anak-anak bangsa berharap pagi segera menyambut agar bisa kembali belajar, bermain, dan menikmati waktu dengan luasnya dunia imajinasi.

Kepakan sayap kupu-kupu di belantara Kalimantan berakibat pada luapan air laut berbuntut tsunami di beberapa daerah. 

Jika  Butterfly effect digunakan bisa jadi tangis seorang bocah di pedesaan berdampak kesurupan pada anggota Dewan di Senayan, bahkan matinya seorang menteri yang selalu korup.

Ekologi semakain rusak, kondisi bumi semakin parah. Sehingga malam telah menjadi tempat segala risau diistirahatkan, sebab siang telah menjadi neraka yang membakar segala rasa.

Tetapi dengan kemajuan teknologi, malam tak ubah seperti siang yang merampok segala kedamaian. Lampu-lampu kota menampakkan setiap lorong persembunyian tubuh mungil yang sudah lama tak pernah ditawari.

Kota-kota besar telah kehilangan sensasi kemanusiaan, itulah sehingga orang-orang kaya cenderung hijrah ke desa lalu menganggap kota tak lagi layak ditinggali, se-kampret itu nanti.

Kontradiksi dari stigma dan standar moral atas sempitnya wawasan. Sehingga orang-orang desa juga cenderung menganggap kampung sebagai kondisi yang stagnan, tidak maju-maju.

Memaksa nyaris setiap anak desa untuk merantau ke kota, menjebakkan diri pada malam tak bernama yang panjang.

Sebagian lelaki bajingan yang takut pancaran mentari, mengandalkan malam untuk melantunkan doa-doa singkat untuk harapan yang berkelanjutan. Menjahit kalender yang retak, agar tetap utuh menuntunnya ke hari esok.

Para perempuan yang nyaman dalam hegemoni konsumerisme, senantiasa betah pada koleksi make up dan mengutuhkan keagungan malam sebagai kesatuan yang tetap mempercantik wajah.

"Sungguh waktu adalah aniaya bagi perempuan" , akankah ungkapan Pram berlaku dalam tempo yang panjang. Atau perhiasan merubah segalanya menjadi layak?

Siang memang bukan saat terbaik untuk membahas perihal romansa. Walau emosional berlaku selama manusia hidup, tetapi malam masih unggul memunggungi segala kesedihan hamba-hamba amatir yang dikoyak sepi sebab kehilangan cinta.

Malam selalu memberikan banyak hal kepada manusia, lalu merenggutnya sebelum matahari terbit. Apa-apa yang dimiliki seolah begitu sesaat.

 Lalu siang-malam berganti mengajari manusia tentang hidup dan segala yang mengiringinya sangatlah sementara.

Kebanggan pada kecantikan atau kesombongan atas ketampanan hanya berlaku saat matahari memberi kabar. Sungguh, se-istimewa apapun sesuatu akan tetap terlihat hitam tanpa setitik cahaya. 

Ada banyak pesan-pesan tersirat saat malam hari dan tak pernah menjadi surat yang sampai hingga sore.

Semua menjadi diam, mendendam kuat mengubur bersemayam dalam mimpi buruk manusia yang kehilangan kasur empuk.

Orang-orang muda yang nyaman dengan suasana malam tanpa mesti berbuat apa-apa. Menjadikan tempat tidur sebagai wadah untuk ibadah rebahan yang tak pernah selesai.

Entah siang atau malam, keduanya tidak pernah memberikan kesuksesan maksimal pada manusia yang hanya melihat segalanya dari materi.

Uang beserta kemewahan selalu diperebutkan layaknya bunga desa yang sebentar lagi memasuki usia pernikahan. Mengutuk imajinasi, bahwa khayalan tak lebih dari sekedar kegiatan onani semata.

Mungkinkah? Kebencian pada sesuatu yang sangat berguna pada manusia selayaknya dimaklumi. Seperti perempuan yang butuh kepastian, lalu patah hati.

Memilih membaca puisi atau mendengar lagu pada malam hari kemdudian merasa tenang. Di sini, kepastian atau kenyataan kah yang paling menyenangkan?

Negosiasi dan pertanyaan-pertanyaan sekali lagi tidak diperuntukkan pada manusia yang kehilangan akal.

Manusia memang aneh, kadang hanya sebab butuh pengakuan lalu pura-pura bahagia. Atau demi kemandirian, sehingga walau terkoyak tetap bertahan dan pura-pura kuat.

Ada orang yang dengan berani menentang stigma publik, bergerak sendiri sesuai kehendak walau dunia telah ikut mencaci-maki. Sementara sebagian lain, walau batin merintih menolak namun, hanya karena butuh dominasi ikut pada alur yang menyesatkan.

Hidup ini sudah menjadi gejolak yang tak bisa dimaklumi secara universal. Memilih benar walau sendiri, terasingkan. Atau berada dalam lingkungan mayoritas namun, keliru?

Waktu tak memberi jeda pada manusia untuk memilih. Itulah mengapa ada lelaki memilih menikmati masa muda tanpa berbuat banyak, sementara perempuan selalu tenang merawat wajah agar tetap terlihat menawan.

Sehingga malam selalu menjadi lebih baik untuk semua manusia meluapkan hasrat, demikian sebaliknya, memendam seluruh hingga meledak untuk dikenang sekali atau dirayakan setiap malam minggu.