Nun, nafasku kini tidak lagi berhembus. Tapi tenang saja, aku tidak lagi perlu mendoamu, menetaskan mataku setiap malamnya menahan sesak nafasku yang tidak lagi bisa kuatur ritmenya dengan baik. Tidak perlu lagi aku bersumpah mati, sembari membayangkan dirimu memegang pundakku setiap malam kala kita masih muda berseri.

Tidak perlu lagi aku terjebak dalam persimpangan masa silam yang selalu saja menghantui laju darahku. 

Nun, aku tahu kau hanyalah seorang hamba yang dimiliki Tuhan seutuhnya. Aku ikhlas melepaskanmu ke sisi Dirinya. Tapi, aku tetap lemah tak bertumpu, tak bisa mengganti dirimu dengan siapa pun, dan melawan getir setiap hari. Aku masihlah manusia, Nun.

Aku memungutnya, ia bernama ketabahan. Kian hari kujaga, tanpa melawan rasa kemanusiaan. Itulah hidupku selama sembilan tahun memandangimu di depan pusara, tengah keramaian. Tapi, aku bahagia kekasih pujaan. Kini, kau adalah tujuan matiku yang kesekian. Kurasa, ini memang rencana Tuhan. Mempersiapkan agar aku menerima kematian.

Karena, kau adalah orang yang akan kutemui setelah mati.

Dunia tak perlu lagi mendengar rintihan hatiku. Aku tidak perlu lagi merintih, yang membuat sakit dadaku. Kiranya, meski aku tahu masih belum cukup amalku serta baikku. Aku selalu berdoa, moga Tuhan yang Maha Baik mau mendengar dan menerimaku. Tiap sore, aku memandang langit dari sudut jendela kala langit terbentang dalam diamku. Aku tahu, kau boleh jadi tidak memandang langitku

Perkara ini, bagiku bukanlah masalah langit atau sore hari yang kian hari kian menambah. Tapi, perihal bagaimana aku melihat matamu dahulu menengok langit, dan aku menyadari itu sungguhlah indah. Kau masih ingat bukan, bagaimana lalu-lalang terpaan selalu saja menumpu, kau masihlah menjadi sandaranku kala resah.

Aku rindu masa itu.

Nun, kalau saja dahulu aku terlalu terlena oleh pengetahuan, apa bisa aku mengenalmu dengan cinta? Terima kasih, Nun. Bagiku, menyayangimu adalah penawar dari luka yang bertubi-tubi kudapati kala berpikir dengan nalar yang kadang hampa. Andai saja, kau tak membawa cinta, barangkali tidak ada perayaan cinta saat kini aku menuju dirimu, terkubur satu pusara.

Cinta memang begitu rumit, Nun. Bagaimana aku dulu sangat bandel lalu meledekmu beruntun. Tapi, kelak malah aku yang terlamun, lalu terpikir bagaimana gula jawa bisa menjadi gula pasir, dan kau nantinya yang kini menjadi orang yang selalu kutuntun. Meski, pada akhirnya kau yang pergi dulu, Nun.

Nun, aku kira beribu kata yang aku rangkai beribu banyaknya kini telah terbalas. Tiada lagi yang membekas, kerana kini namamu sudah bertanding di sebelahku, tertera dengan jelas.

Sementara, biar kini kita nikmati dahulu. Kita coba untuk menyusun lagi cerita-cerita pada setiap malam yang kau ceritakan di atas meja, atau kasur. Tak perlu cepat-cepat, kini waktu tak lagi akan menjerat. Hanya aku, seorang dan dirimu yang akan menemani sampai dunia ini habis waktunya terbabat.

Menunggu adalah keahlianku, Nun. Kala kau pergi dahulu, aku mulai mengenal itu dengan rapi dan pilu. Tetap saja, aku tahu bahwa menunggu bukanlah perkara kecil yang bisa aku pecahkan dengan teori-teori logis keahlianku. Padam api itu masih menyala, untuk bangsa kita terutama, agar lebih menunjukkan jati diri, daripada berdiam terpaku.

Mari kita mendoa, Nun. Pada bangsa ini, pada tanah ini, dan pada negara ini. Agar tumbuh, lalu menjulang namanya, lalu saat mati daun yang berguguran tumbuh lagi menjadi asa baru untuk tetap hijau dan terus tumbuh. Karena daun jatuh berguguran, selama hijau ia akan tetap terus tumbuh menembus langit dan bintang-bintang di cakrawala atas.

Nun, aku lupa mengatakan bahwa kisah kita menjadi terkenal di atas sana. Membahana! Duh, bagaimana ya? Kukira kisah ini cukuplah sederhana, tapi kukira memang itu karena dirimu, Nun. Aku hanya lelaki biasa yang memilikimu, dan kau terima kasih padamu yang telah mau mendampingi lelaki macam aku seorang.

Kita pandangi dari kubur sini, Nun. Kita lihat, dan tentu kita doakan seperti sebelumnya. Orang-orang baik, dan ikhlas yang bersembunyi pasti ia akan terus bermunculan, terus berhamburan menjadikannya negeri ini madani yang berdiri kokoh di atas pusara kita berdua. Yang kelak, saat yang lain datang menyusul kita, nama bangsa ini masihlah ada dan terus harum wanginya. Tugas kita sepertinya telah selesai bukan, Nun? 

Nun, apiku mulai padam. Aku segera menyusulmu, kau cukup diam saja ya disana? Tidak perlu kemana-mana, aku tahu waktu memang kadang begitu lama di atas sini, tapi bersabarlah sedikit, sayangku. Sepertinya cakapku banyak, ya? Tak apa, barangkali surat ini adalah tulisan yang baik untuk kita nikmati atau anak-anak kita baca.

---

"Bagaimana, kau masih menunggu?"

"Ha? Menunggu apanya, kan sudah bersama"

"Hahah, iya benar juga"

"Jadi, mari melihat bangsa kita? Kau tak akan lelah, kan?"

"Bagaimana mungkin aku letih, sedang kau disini"

Kepada Eyang, dan kekasihnya Bu Ainun. Selamat merayakan pertemuan kembali.