Kenduren bagi masyarakat yang menjunjung adat tradisional adalah suatu yang hampir mesti dilakukan, Wabil khusus masyararakat jawa timur. Biasanya acara kenduren dilaksanakan untuk memperingati 40 hari kematian, slametan, hajatan, kelahiran dan lain lain. Biasanya warga NU lah yang biasanya mengadakan kendurenan. Kalau muhamadiyah kan lebih suka sedekah langsung, dan gak suka kalau ajaran agama ditambah-tambah atau biasa disebut Bid'ah.

Ketika ada seorang warga yang mengundang satu RT untuk kenduren, maka semua warga pasti tepat waktu hadirnya. bahkan jika acaranya ba'da Maghrib, sesudah sholat Maghrib pun para warga pasti sudah berkumpul dijalan dan berjalan bersama menuju tempat acara. Memang warga disini terlalu solid untuk diriku yang Introvert tulen. 

Orang Introvert memang cenderung menyukai kesendirian. Dan kurang suka keramaian. Dalam kehidupan bermasyarakat saya dikelilingi oleh orang yang Ekstrovert. Terbukti warga desaku suka sekali membuat acara yang mengundang orang banyak orang. Seperti pengajian, sholawatan, kerja bakti dan lain sebagainya. 

Orang timur kebanyakan memang menganut asas gotong royong, dan punya solidaritas antar warganya tinggi. Bertemu orang pasti sangat menyenangkan bagi orang timur, tidak dengan orang barat yang bergaya hidup lebih suka menyendiri atau bisa disebut individualis. 

Disisi lain aku juga suka dengan buku  barat. Dari situ juga membuatku suka akan cara hidup individualis orang barat. Tapi individualis tidak berarti egois ya. Justru banyak orang barat yang jadi aktivis Lingkungan, Feminis, HAM. Pemikir juga banyak dari baratkan. Karl Marx pencetus ideologi paling gotong royong sedunia saja tinggalnya dibarat.

Bapakku juga termasuk warga yang sangat disiplin dalam menghadiri kenduren. Ia selalu menghadiri setiap acara kenduren yang mengundangnya. Tapi kalau berhalangan hadir karena urusan kerjaan biasanya akulah yang mewakilkan.

Menghadiri kenduren merupakan hal yang tidak menyenangkan bagiku, tapi yah demi martabat keluarga di hadapan warga, dan supaya tidak dianggap anti sosial. Aku pasti menghadirinya, walau dalam hati berkata "oh shitt".

Jangan dipikir aku tak suka kenduren hanya karena ketemu orang, salah kalau begitu. Aku suka jika bertemu dengan kawan sebayaku disekolah. Tapi yang lebih tidak aku suka ialah pada saat membungkus berkatnya.

Membungkus berkat dikenduren membutuhkan ketrampilan tersendiri. Membungkusnya biasanya dengan kertas koran dan daun pisang. Perlu ketlatenan dalam melipat kertas kertas itu menjadi sebuah simpul kertas yang rapi.

Salah sedikit nasi dan lauknya bisa brojol. Untuk mengatasi itu aku biasanya meminta orang disampingku untuk membungkuskannya. Ada perasaan minder saat tidak bisa membungkusnya, rasanya seperti menjadi seorang anak yang gagal. Perasaan sedih karena gagalnya lebih dari ditolaknya seorang siswa dari Ptn, tapi tidak lebih sedih dari jika tulisan esai ini ditolak oleh redaktur Qureta.

Biasanya juga ada orang yang nyelethuk "hah ngono e raiso lele, deloken wi kancamu, gerang ra sumbot". Dengan nada congkak.

Inilah juga yang membuat hatiku hancur. Sudah tidak bisa membungkus dibanding-bandingkan pulak. Didalam hati aku berkata "ingin rasanya jadi warga muhammadiyah, gak ada kenduren, atau kalau enggak jadi kayak orang barat deh yang individualis".

Pernah juga sih aku mencoba untuk membungkus sendiri. Tetapi malah brojol bungkusanku, Sudah brojol diketawain warga lagi. Sungguh peristiwa traumatik. Maka setelah itu aku selalu minta pertolongan orang lain untuk membungkus.Bahkan setelah pulang kerumah selepas kenduren, Bapakku selalu bertanya siapa tadi yang membungkuskan berkatnya.

Aku tidak tahu dari mana warga bisa mempelajari skill membungkus itu. Apakah mereka menggunakan teori pytagoras dalam membuatnya?. Aku yang biasa membaca buku teori saja tidak bisa. Ya iyalah wong yang kubaca teori sosial.

Daripada kenduren yang selalu memakai kertas koran dan daun pisang sebagai media pembungkusnya, yang menurutku terlalu kuno untuk dipakai diabad 21 ini. Aku lebih suka menghadiri acara besar atau nikahan yang media bungkusnya stereofom atau kardus kotak. Terlihat lebih simple dan memudahkan para tamu untuk menikmatinya tanpa harus membungkusnya terlebih dahulu. Karena tidak semua orang memiliki ketrampilan untuk membungkus kertas koran.

Jadi untuk itu bagi tuan rumah yang ingin membuat acara kenduren untuk juga mengerti kondisi saya dan mungkin orang orang diluar sana yang memiliki keterbatasan ketrampilan dalam membungkus. Karena setiap orang pasti punya kekurangannya sendiri sendiri.

Akan lebih baik mungkin dalam mengadakan acara kenduren, lebih baik menggunakan media stereofom atau kardus kotak. Agar memudahkan orang membawa makanannya.

Karena dari Abu Hurairah ra, Nabi SAW, bersabda: “Barang siapa yang melepaskan satu kesusahan seorang mukmin, pasti Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan pada hari kiamat. Barang siapa yang menjadikan mudah urusan orang lain, pasti Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat.