Perubahan dalam menjaga image seseorang di media sosial, menjadi hal yang sangat penting di era yang serba digital. apa yang kamu lihat belum tentu sama dengan yang mereka alami didunia nyata.

Saat beberapa postingan dari teman menunjukkan banyak foto sedang liburan, foto dengan barang-barang mewah ataupun lain hal, yang menaikkan image mereka dalam bermedia sosial. Namun pada kenyataannya apa yang kita lihat belum tentu nyata dalam kehidupannya, orang seperti di atas cenderung sedang mengalami perjuangan, kegelisahan, dan ketakutan.

Sukses tapi menderita kata lain dari orang yang suka menjaga image di media sosial dengan membagikan kesuksesannya, namun faktanya dibalik itu memiliki banyak masalah yang tidak mereka umbar.

Terlihat biasa saja namun itu adalah salah satu gangguan psikologis yang membuat suatu keadaan seseorang berkaitan dengan perilaku yang sedang membayang-bayangi,  memiliki banyak masalah tapi terlihat baik-baik saja atau disebut dengan Duck Syndrome.


Apa itu duck Syndrome?

Merupakan perilaku seseorang dari penampilan luar terlihat tenang, cool, kalem, tetapi sebenarnya sedang diliputi banyak kecemasan itulah yang disebut duck syndrome atau biasa di kenal sindrom bebek berenang.

Istilah di atas mengacu pada perilaku bebek saat berenang, yang mana saat berenang di air terlihat tenang dalam mengendalikan dirinya. Tetapi sebenarnya jika dilihat dari sisi dalam air, kaki bebek sedang bersusah payah mendayung untuk dapat mengendalikan diri supaya tetap bergerak dengan tenang.

Terlihat tenang dipermukaan, kalem dan cenderung santai, padahal mereka sedang berjuang keras untuk sukses. Alih-alih mengakui sedang mengalami situasi sulit, para penderita duck syndrome justru menyembunyikan dari orang lain dan berpura-pura baik-baik saja.

Duck Syndrome ini merupakan terminologi yang dijelaskan pada suatu fenomena popular. Pertama kali istilah tersebut dari Stanford University, sebagai salah satu kampus terbaik di dunia dengan mahasiswa pilihan yang dalam hal prestasi mereka saling berebut peringkat (C.Beaton, 2016).

Mahasiswa di sana pada tahun pertamanya mereka berusaha menampilkan diri mereka seperti bebek, di atas permukaan terlihat tenang, namun di bawah air mereka bersusah payah mengayuh kaki-kakinya untuk terus berjuang.

Karena mereka tidak ingin terlihat kalah saing, maka mereka melakukan hal tersebut untuk menjaga citra untuk terlihat sukses dan tetap tenang. Padahal hal tersebut menjadi masalah baru apabila apa yang ditampilkan pada publik sangat berbeda dengan apa yang dirasakan.

Adapun demikian rasa kecemasan yang muncul pada penderita duck syndrome sering kali terakumulasikan pada kejadian-kejadian jangka panjang. Beberapa hal penyebab proses kecemasan terjadi.

Pertama, lingkungan seperti situasi di sekitar penyintas yang dirasakan ketidak nyamanan seseorang dengan teman, rekan kerja, tetangga dan bahkan keluarga. Kedua, mental yang tidak sehat, seperti merasa terancam oleh sesuatu, khawatir kehilangan sesuatu, perasaan bersalah, berdosa, bertentangan.

Menurut Greist, Mattew, Sherkey (Gunarsa,2006) menjelaskan penyebab munculnya kecemasan yang dibaginya menjadi 2 yaitu Internal yang meliputi Individu tidak siap menghadapi kegagalan, Persepsi negatif terhadap diri sendiri dan secara Eksternal melalui tuntutan sosial yang berlebihan, dan standar kesuksesan yang terlalu tinggi.

Lalu bagaimanakah mencegahnya?


Komunikasi asertif cegah Duck Syndrome

Kemampuan seseorang dalam berkomunikasi menentukan kepiawaiannya beradaptasi dengan lingkungan, sehingga di saat komunikasi antar personal dapat menjembatani antara individu satu dengan lainnya sehingga terjalin hubungan yang dapat saling menguntungkan.

Utamanya dengan tatap muka komunikasi memungkinkan pelakunya melihat reaksi secara langsung. Baik secara verbal atau Non-verbal, dengan kemampuan tersebut dapat membangun melalui kemampuan Komunikasi yang asertif.

Komunikasi asertif menurut Mc Neilage dan Adam merupakan salah satu bentuk komunikasi antar personal yang terjadi secara langsung, terbuka dan jujur, yang menunjukkan pertimbangan dan pengorbanan terhadap individu(Hamzah dan Ismail, 2008).

Selain itu Neilage dan Adam menyatakan bahwa asertifitas merupakan proses untuk menghilangkan hambatan personal sehingga dapat mengembangkan kreativitas. Asertif juga salah satu cara efektif untuk mencapai kebebasan diri dan rasa percaya diri. Di dalam aserivitas juga terkandung rasa percaya diri, kebebasan berekspresi yang terbuka, tanpa mengecilkan arti orang lain.

Maka jika seorang terjangkit gejala dari duck syndrome sering berpura-pura tenang dan santai di hadapan banyak orang, padahal sebenarnya ia sendang berjuang dengan susah payah dalam mencapai apa yang ia inginkan.

Gejala yang ditemukan Greist, Mattew, Sherkey(Gunarsa,2006) dari seseorang yang tersebut yaitu sebuah kondisi kecemasan, dan ketakutan dari seseorang yang tidak siap menghadapi kegagalan.

Sehingga komunikasi asertif yang berkembang secara bertahap sebagai hasil dari interaksi seseorang dengan orang lain di sekitarnya. Menjadikan seseorang berprilaku asertif dengan beberapa faktor yang dijelaskan Fauziah (2009), Mulai dari hukuman yang dialami seseorang pada masa lampau mempengaruhi apakah orang tersebut akan bersikap asertif, non asertif, atau bahkan agresif.

Ganjaran atau dapat diartikan bahwa seseorang akan mengulangi sikap yang sama agar mendapat ganjaran yang sama dengan yang pernah ia dapatkan, dan yang terakhir modeling yang meliputi proses meniru dan mengamati tingkah laku orang-orang yang menjadi publik figure.

Maka dalam hal duck syndrome yang banyak dialami generasi saat ini yang seolah-olah tenang, nyaman, dan sukses, nyatanya mereka sendiri sedang berjibaku dengan apa yang mereka perjuangkan.

Adanya komunikasi asertif yang lebih mengutamakan kejujuran dan keterbukaan sehingga menumbuhkan rasa percaya diri pada seseorang dapat dijadikan solusi pencegahan bagi seseorang yang sedang terjangkit sidrom bebek. Meski kadang kita sendiri tidak sadar bahwa yang dilakukan merupakan bagian dari perilaku asertif.