Penulis
1 minggu lalu · 235 view · 4 min baca menit baca · Pendidikan 62423_48643.jpg

Kenapa Tidak Hapus Saja Mata Pelajaran Agama di Sekolah?

Pernyataan SD Darmono tentang evaluasi ulang keberadaan pelajaran agama di sekolah menjadi perdebatan panas di ruang publik dan media. Beragam respons pro dan kontra pun hadir dari para tokoh dan politisi bangsa ini.

Mereka yang mendukung berpendapat bahwa keberadaan mata pelajaran pendidikan agama di sekolah kerap disalahgunakan oleh kelompok tertentu (radikal) untuk mengajarkan pahamnya kepada anak-anak. Hal ini sejalan dengan hasil survei yang dilakukan oleh Maarif Institute, di mana ajaran radikalisme sudah benar-benar masuk ke dalam lingkungan sekolah lewat pelajaran agama.

Tetapi, banyak juga pihak yang kontra terhadap pernyataan Chairman Jababeka Group sekaligus pendiri President University dan praktisi pendidikan itu. Salah satunya adalah kader PKS. 

Mereka berpendapat, mengeluarkan pelajaran agama dari sekolah sama halnya melawan perintah undang-undang. Karena, tujuan dari pendidikan agama itu untuk mendidik akhlak yang baik bagi anak-anak demi menciptakan pribadi-pribadi yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Tetapi, pernyataan SD Darmono sudah menjadi perbincangan hangat di tengah kehidupan masyarakat. Bahkan beberapa pihak memanfaatkan momentum ini untuk menyudutkan pemerintahan dengan berpendapat bahwa ada upaya mengembangkan sekularisme di negara kita.

Tidak ada yang salah dengan pihak yang pro dan kontra terhadap pernyataan Darmono. Bahkan Desk Komunikasi Jababeka, Ardiyansyah Djafar, sudah memberikan klarifikasi terkait pernyataan bosnya tersebut.

Bahwa tidak ada niatan mengusulkan kepada presiden agar pelajaran agama dihapuskan dari sekolah, melainkan sebagai perenungan bagi seluruh pemangku kepentingan di dunia pendidikan, seperti apa dan sudah sejauh mana dampak pelajaran agama di sekolah terhadap kehidupan masyarakat Indonesia.

Darmono hanya menganjurkan agar pendidikan agama sebaiknya lebih diajarkan oleh orang tua, di gereja atau masjid dan tempat ibadah lainnya. Sekolah sebaiknya lebih menekankan pendidikan karakter, sehingga nantinya porsi antara pendidikan karakter dari sekolah berimbang dengan pendidikan agama dari tempat ibadah dan keluarga.


Kenapa hal seperti ini harus diributkan? Apa yang salah sebenarnya dengan pendidikan agama di sekolah?

Seperti klarifikasi Ardiyansyah Djafar yang menegaskan bahwa pelajaran agama di sekolah menjadi pintu masuk ajaran radikalisme kepada anak-anak, ada benarnya. Mengingat tidak ada satu pun yang bisa mengontrol apa yang diajarkan guru agama di dalam ruang kelas. Apakah masih sesuai dengan buku pelajaran dan kurikulum pendidikan, atau sudah berubah menjadi hasutan.

Tentu, pernyataan ini tidak menggeneralisasi secara keseluruhan. Akan tetapi, belajar dari kejadian yang sudah ada di negara kita, bukankah hal ini wajib diantisipasi?

Tidak mungkin menempatkan kepala sekolah atau pengawas lainnya setiap ada pelajaran agama di dalam kelas. Dan tidak mungkin pula menetapkan parameter tertentu dalam menyaring guru-guru agama, apakah sudah terpapar radikalisme atau tidak.

Hal inilah yang menjadi kekhawatiran semua pihak, sehingga merasa wajar mempertanyakan apakah pelajaran agama itu benar-benar penting diajarkan di dalam kelas!

Catatan lainnya, yakni "porsi" yang diajarkan dalam pelajaran agama di sekolah.

Kita semua paham bahwa masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang religius. Hal ini dibuktikan dengan ragamnya agama yang diakui negara ini, meski aliran kepercayaan masih berusaha mendapatkan pengakuan dari semua pihak.

Tetapi, jika dibandingkan dengan negara-negara lainnya di dunia perihal karakter, kebersihan, dan kepribadian, bukankah kita seharusnya malu dengan predikat religius yang melekat? Seolah-olah kita hanya menjadikan agama sebagai identitas diri, tapi tidak pernah mampu mengaplikasikannya dengan baik dalam kehidupan realitas.

Masalah keamanan, ketertiban, dan kebersihan masih menjadi momok yang belum terselesaikan di tengah-tengah kehidupan masyarakat Indonesia saat ini. Di mana letak kesalahannya? Sementara kita mendapatkan pendidikan agama yang lebih setiap saat.

Tentu saja pernyataan SD Darmono tersebut menjadi tamparan keras bagi kita semua. Mengaku religius, tapi tingkat toleransi begitu rendah. Mengaku beragama, tapi tidak tertib lalu lintas dan menerapkan budaya antre. Mengaku belajar agama, tapi tidak mampu menjaga kebersihan. Mengaku orang suci, tapi tingkat korupsi begitu tinggi.


Padahal, di saat sejak bangku sekolah pun sudah menerima pelajaran agama, bukankah seharusnya menjadi sebuah nilai lebih dalam kehidupan kita? Sudah tepat sasarankah pelajaran agama yang kita terima?

Saat SD hingga SMA dulu, saya masih ingat bagaimana guru agama saya hanya mengajarkan kami tentang isi Alkitab, kisah nabi, dan perkembangan gereja pada awalnya. Tapi tidak satu pun mengajarkan relasinya dengan dunia realitas.

Porsi pelajaran agama yang seharusnya lebih besar dalam hal pembentukan karakter anak di kehidupan nyata malah diganti dengan kisah sejarah denga narasi yang meninabobokan. Hasil akhirnya, bersikap alim saat belajar agama, namun semaunya saat di luar konteks keagamaan.

Lebih parahnya lagi, saat banyak anak-anak yang menerima pelajaran paham radikal, mereka menjadi lebih tertutup, dan menganggap siapa saja yang tidak sepaham dengannya adalah sesat. Dan pelajaran-pelajaran seperti ini diterima anak-anak di dalam lingkungan sekolah. 

Pelajaran agama hanya mengajarkan ajaran agamanya sendiri, tanpa pernah mengajarkan pentingnya toleransi dan keberagaman di dalam persatuan. Padahal, nilai tertinggi dari ajaran seluruh agama itu adalah kasih, budi pekerti, dan toleransi.

Hal inilah yang tidak ditemukan lagi dalam pelajaran agama di sekolah-sekolah, yang membuat Darmono dan kita semua yang sepaham dengannya, mempertanyakan keberadaan pelajaran agama di sekolah.

Memang, menghapuskan pelajaran agama di sekolah tidak serta-merta bisa dilaksanakan, mengingat hal ini bisa memicu konflik di tengah kehidupan masyarakat Indonesia yang "religius" ini.

Tetapi, pemerintah beserta seluruh stakeholder dunia pendidikan kita harap mengevaluasi sejauh mana pengaruh pelajaran agama di sekolah terhadap perkembangan karakter anak-anak bangsa. Jika memang masih penting, teruskan dengan perbaikan segala kekurangannya, serta pengawasan yang ketat terhadap pihak guru dan kegiatan ekstrakurikulernya.

Jika tidak, mari pertimbangkan kembali. Kita sudah punya "sekolah" belajar agama yang cukup. Ada pesantren, madrasah, pengajian, sekolah minggu, dan pendidikan agama dari tempat ibadah masing-masing, terutama keluarga.

Kegiatan-kegiatan keagamaan yang mana berfokus membangun karakter anak seperti PIARA (Gereja Batak Karo Protestan), Jambore atau MTQ juga perlu untuk dilaksanakan setiap tahunnya. Selain mengisi waktu liburan, anak-anak juga berkesempatan untuk diajari pendidikan karakter, kerja sama, dan kesatuan dalam keberagaman.

Artikel Terkait