2 tahun lalu · 1010 view · 6 menit baca · Politik unfriend.jpg
https://www.flickr.com/photos/oliverjd/6310449752

Kenapa Terjadi Gelombang Unfriend Saat Menjelang Pemilu?

Kalau pemilu ribut. Semua ribut pemilu. Kalau nggak ribut nggak pemilu.

Harus diakui bahwa pemilu membawa kegaduhan dan menghabiskan energi kita. Apalagi, pemilu DKI Jakarta kali ini membawa kegaduhan yang luar biasa.

Pemilu Gubernur rasa pemilu presiden. Sama gaduhnya, sama ributnya, bahkan sama musuh-musuhannya.

Tidak heran lagi saat jelang pemilu seperti sekarang ini, tidak hanya ada perang ayat, perang status, perang komentar, perang postingan, dan perang tandingan link serta gambar terjadi. Semua urat otot leher saat marah tersalur ke jempol tangan, menyebabkan jempol kapalan akut.

Tidak hanya itu. Perang pun terjadi antara mereka yang berteman dan bersahabat hanya karena berbeda pilihan. Tak jarang proses unfriend terjadi saat si teman tidak lagi asyik karena memiliki perbedaan dalam hal beropini yang tak lagi bisa ditolerir.

Pemilu ini bukan hanya sebuah proses berdemokrasi untuk kontestasi ide dan program dari para calon pejabat negara. Tetapi, pemilu juga sebuah kontestasi karakter dari para calon konstituen. Karakter yang diuji adalah bagaimana individu menghadapi isu kontroversial dan mengatur diri untuk menghadapi orang-orang yang tidak setuju dengan kita.

Pemilu menghadirkan kesempatan bagi kita untuk menguji seberapa besar kemampuan kita menegosiasikan perbedaan. Keberanian kita untuk mengutarakan pendapat di tengah gelombang opini yang begitu besar untuk tidak takut disebut "tapir," "domba," "kecebong," "unta," dan berbagai jenis hewan lainnya. Menguji bagaimana cara kita menerima atau berargumen dengan opini orang lain yang "heloooo" (baca: idiot atau bodoh).

Karakter dan ideologi yang dianut oleh individu akan semakin terlihat dari hal-hal yang mereka posting di sosial media, terutama saat pemilu. Benarlah jika ada yang mengatakan "You are what you post."  

Dalam teori psikologi sosial mengenai pilihan, dijelaskan bahwa setiap individu selalu senang dengan dikotomi kebaikan versus kejahatan, good vs evil, atau angel and devil. Teori dari strukturalis melalui Ferdinand Saussure pun mengembangkannya menjadi kode binary, dimana banyak kode-kode komunikasi yang kita pakai selalu berasosiasi dengan binary good vs evil.

Itu sebabnya retorika binary kebaikan dan kejahatan sangat manjur untuk dijual dalam proses kampanye. Setiap kandidat maupun konstituen selalu mengidentifikasikan diri mereka dengan the good, the angel, atau kebaikan. Sementara kelompok sebelah adalah the demon, the evil, keburukan, kemungkaran, dan seterusnya.

Misalnya kode kata “Ahok” akan mengarahkan Anda pada binary yang mana: good atau evil? Lalu kode kata “Anies” akan anda asosiasikan pada binary yang mana? Lalu kata “Agus,” “FPI,” “MUI,” dan seterusnya. Jadi, bisa saja Anda berada di grup “angel” tapi grup yang Anda sebut sebagai “devil” justru menganggap Andalah si Jahat.

Misalnya, Anda berada pada kubu Ahokers dan Anda merasa bahwa FPI itu jahat dan buruk, serta kandidat yang mereka usung sama busuknya. Sebaliknya, FPI merasa Andalah yang jahat dan busuk. Bahkan Jonru dan pengikutnya merasa merekalah yang benar, itu sebabnya Jonru tidak terima saat Panji menyebut Jonru suka memfitnah. Lucu kan!  

Parahnya, dalam penelitian yang sama, otak kita pun memproduksi berbagai macam cara untuk mengurangi disonansi atau gangguan yang menantang cara berpikir kita. Terutama, cara berpikir yang membuat kita berpikir sebaliknya, yakni, bagaimana jika aku ternyata adalah si jahat dan merekalah sebenarnya si baik.

Dalam psikologi komunikasi, proses ini disebut mengurangi disonansi kognitif. Manusia akan berupaya untuk mengurangi informasi gangguan yang membuat kita merasa tidak nyaman dengan yang kita percayai. Misalnya dengan memilih informasi, menginterpretasikan informasi seperti yang kita kehendaki, mengembangkan cerita yang membuat kita paham dengan yang kita percaya, membuat keputusan, dan mengingat yang perlu diingat.

Proses ini sangat kuat terjadi terutama saat menghadapi isu yang pahit dan sulit. Bahkan efeknya tidak hanya mengenai mereka yang bertitle sarjana.

Ambil contoh kasus penistaan Ahok dan pembelaan Nusron Wahid. Dari awal mereka yang memang sudah tidak suka dengan Ahok akan selalu memilih informasi yang bisa mendukung ketidaksukaan mereka dengan Ahok. Cerita-cerita juga dikembangkan dan berkembang seiring dengan keinginan mereka untuk percaya bahwa Ahok adalah the evil jerk. Momentum video Al Maidah 51 yang dikutip Ahok di kepulauan seribu tentu menjadi the Eureka moment bagi mereka yang memang sudah tidak suka Ahok.

Sebaliknya, pada saat Nusron Wahid melakukan pembelaan terhadap Ahok, Nusron tampil bak Power Ranger bagi Ahokers, yang membasmi para monster yang menyudutkan pujaan mereka dengan pedang opini. Tentu informasi untuk mendukung kesukaan mereka terhadap Ahok akan selalu mereka kumpulkan. Cerita-cerita seputar siapa Nusron juga berkembang untuk mendukung sepak terjang Nusron yang cadas dan lantang. Momentum ILC menjadi eureka moment bagi pendukung Ahok.

Lalu muncullah meme yang menistakan Nusron atau argumen yang membuat Nusron tampak bodoh. Terus menerus berulang terjadi kepada kandidat lain juga. Seperti lingkaran setan dalam perang medsos ini.  

Pada akhirnya, para pendukung maupun pembenci para kandidat, siapapun itu, baik Ahok, Agus, Anies, sebenarnya tidak hendak saling meyakinkan. Mereka asyik sendiri meyakinkan diri sendiri bahwa merekalah si baik, tetapi mereka sebenarnya tidak bisa meyakinkan lawan mereka.

Mereka merasa senang sendiri saat didukung sesama penyuka kandidat. Mereka senang mendengar berita-berita yang menyenangkan telinga dan mata mereka sendiri mengenai kandidat mereka. Mereka senang mengutarakan hal-hal yang bias sesuai dengan dukungan mereka.

Itulah sebabnya media online yang mendukung salah satu kandidat sangat laris belakangan ini. Dikutip, dibagikan, di-like, di media sosial tidak peduli bagaimana pun kaedah dan etika jurnalistiknya. Tidak peduli judulnya tidak sesuai isi, yang penting click bait-nya sesuai dengan harapan si pemuja. 

Tetapi, perang sebenarnya terjadi pada silent readers dan swing voters. Mereka yang hobi menonton, hobi mengamati, dan kadang tidak berpendapat sebenarnya sedang menjadi juri dalam adu mulut para haters dan lovers para kandidat. Mereka yang diam sebenarnya adalah raja yang kepada merekalah kekalahan dan kemenangan kandidat itu sedang dipertaruhkan.

Jika merujuk pada survey seperti SMRC atau bahkan LSI, ada sekitar 15% hingga 20% swing voters yang sedang mengamati gerak-gerik pendukung kandidat maupun kandidat itu sendiri. Merekalah yang akan menentukan dalam kode binary di kepala mereka sendiri mana yang akan mereka sebut “kawan” dan “lawan.” Pada akhirnya, mereka yang akan memilih 1,2, atau 3. 

Memikirkan ulang arti Informed Citizens    

Salah satu tujuan dalam proses berdemokrasi adalah tercapainya masyarakat yang paham informasi. Tetapi, dalam berbagai kasus sosial media semakin kita paham suatu informasi, semakin buta-lah kita pada suatu masalah. Semakin tertutuplah kita kadang pada informasi yang lebih luas.

Saya terpaksa harus setuju dengan statement mantan dosen saya, Martin Carcasson, yang saat ini sedang meneliti tentang pemilu di Amerika Serikat, bahwa ide “informed citizen” yang begitu mulia harus diterjemahkan kembali. Semakin kesini, media yg on demand hanya bertujuan untuk semakin memuaskan keinginan dan keyakinan kita. Alih-alih kita menjadi “well informed citizens,” kita justru menjadi semakin “miss informed.”

Carcasson menyebutkan bahwa semakin tinggi polarisasi yang terjadi dalam suatu pemilu, maka semakin besar polarisasi informasi, data, dan pendapat. Dimana warga negara atau calon pemilih hanya akan memilih berita, data, dan bukti yang mendukung posisinya saja.

Sehingga, sekalipun Anda berisik di media sosial dengan melempar banyak fakta, data, website, dan lain-lain kepada teman Anda yang sudah jelas berbeda pilihan, jangan terlalu berharap dia akan berubah. Bisa jadi justru yang Anda lakukan itu akan memperkuat opini dan posisinya. Alih-alih berubah, ia akan semakin keukeuh lalu berujung pada debat kusir tiada henti. Level diskusi pun tidak akan meningkat menjadi lebih produktif. Akhirnya, goodbye friends, I unfriend you.  

Tetapi, ada potensi lain yang bisa Anda gali yakni kualitas argumen Anda, postingan Anda yang berkelas, serta pemikiran Anda di sosial media yang inovatif dan kreatif bisa jadi menyetir pemikiran para swing voters dan silent readers. Mereka yang diam-diam mengamati, menjajaki, dan memahami dua atau tiga pihak yang sedang berlomba.

Pada akhirnya, di sinilah perang yg sesungguhnya. Siapa yang berhak mendapatkan suara para swing voters? Pendukung dari kubu kandidat manakah yang bisa mempengaruhi para silent readers ini dengan kreatifitas, inovasi, dan logika berpikir yang menarik.

Teruslah beropini dengan cerdas!

Artikel Terkait