Jagad maya kembali menggaungkan trending topic yang menggetarkan para penggunanya. Bagaimana tidak jika yang menjadi topik terpanas membuat hati banyak orang ikut tersulut panas sekaligus mengerut nyeri. Kasus perkosaan yang terjadi pada tahun 2019 kembali mencuat ke permukaan.

Kala itu Lydia (bukan nama sebenarnya) mencoba mencari keadilan ke Polres Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Semua berawal dari keluhan buah hatinya yang merasa kesakitan saat buang air. Naluri seorang ibu mengatakan ada yang tidak beres menimpa anaknya. Benar saja, laksana disambar petir hati Lydia kala dia mendengar pengakuan anak sulungnya telah diperlakukan tidak senonoh oleh ayah kandungnya.

Pasangan itu memang telah bercerai, tetapi Lydia memberikan kebebasan pada mantan suami untuk ikut mengasuh ketiga anaknya. Lelaki itu bebas menjemput dari sekolah, serta memberikan uang jajan dan mainan. Sayangnya, kepercayaan yang diberikan oleh ibu kandung dibalas dengan tindakan yang tidak pantas.

Berbekal pengakuan ketiga anak dan hasil visum, pada pekan pertama Oktober 2019 Lydia melaporkan kasus tersebut ke Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (PPT PPA), Dinas Sosial, Luwu Timur. Dia diterima oleh petugas bernama Firawati. Begitu mendapatkan laporan dari Lydia, Firawati yang mengenal mantan suami Lydia justru berinisiatif menelepon lelaki itu.

Lydia pun dikonfrontasi dengan mantan suaminya. Selanjutnya anak diperiksa oleh petugas -yang notabene bukan psikolog anak- di Pusat Pembelajaran Keluarga di unit PPT PPA. Hasil pemerikasaan menunjukkan anak tidak mengalami trauma dan hubungan dengan orang tua cukup harmonis.

Tindakan Firawati inilah yang menjadi dasar penyelidikan kasus. Lydia merasa proses penyelidikan penuh dengan manipulasi dan konflik, seperti anak divisum tanpa pendampingan, ketiga anak yang berusia di bawah sepuluh tahun itu diperiksa penyidik berseragam tanpa didampingi ibu, penasehat hukum, pekerja sosial, dan psikolog.

Penyelidikan terus berjalan hingga pemeriksaan ke Biddokkes Polda Sulawesi Selatan. Tidak hanya anak, Lydia pun diperiksa kejiwaannya. Hasilnya dia didiagnosis memiliki waham yang bersifat sistematis yang mengarah pada gangguan waham menetap. Selama menjalani proses yang menguras energi dan perasaan, Lydia juga mendapatkan ancaman penghentian nafkah dari mantan suami. Yang paling menyakitkan hati Lydia adalah saat dirinya dipaksa menandatangani BAP yang belum semua fromulir terisi dan belum dibaca secara detail. Hasilnya dua bulan kemudian – lebih tepatnya 63 hari- penyelidikan kasus dihentikan tanpa dijabarkan detail penghentian.

Laiknya seorang ibu yang ingin memperjuangkan nasib anak-anaknya, perjalanan panjang Lydia untuk mendapatkan keadilan belum berhenti. Dia pun membawa duka nestapanya ke PPT PPA Kota Makassar. Di sana dia mendapatkan rujukan ke Lembaga Bantuan Hukum Makassar melalui Koalisi Bantuan Hukum Advokasi Kekerasan Seksual Terhadap Anak.

Kasus Tiga Anak Saya Diperkosa inipun menjadi viral tatkala dipublikasikan oleh Multatuli Project. Sayangnya, ada kekuatan siber yang mencoba membungkam dengan cara menenggelamkan situs tersebut. Namun, masyarakat yang peduli bahu-membahu untuk bergerak. Banyak media yang merepublikasikan tulisan Multatuli Project. Tak pelak tagar #percumalaporpolisi pun merajai trending topic di Twitter. Masyarakat tinggal menunggu langkah dari polisi yang mengatakan mungkin sekali kasus ini dibuka kembali.

Perkosaan memang selalu menarik perhatian khalayak luas tatkala kasus yang persentasenya seperti puncak gunung es diangkat ke area publik. Tidak banyak korban yang berani melaporkan nasib buruk yang dialaminya. Mayoritas korban dan keluarganya memilih menutup diri rapat-rapat karena menganggap sebagai aib yang bisa menjadi jalan terjal untuk kehidupan di masa depan.

Belum lagi relasi kuasa antara pelaku dan korban ikut merumitkan persoalan. Para pemerkosa ini seringkali memanfaatkan posisi dan kekuasaan untuk menekan korban sehingga tindak kejahatannya sulit diungkap. Fakta yang terjadi selama ini memang menunjukkan sebagian besar pelaku sudah dikenal oleh korban. Mereka acapkali memiliki posisi yang lebih dibandingkan dengan korban, misalnya: ayah dan anak, paman dan keponakan, guru dan murid, majikan dan pembantu, bos dan bawahan, dan lain sebagainya. Bukan tidak mungkin intimidasi dan ancaman kekerasan diterima oleh korban dari pemerkosanya.

Tentu tidak mudah bagi korban untuk menyeret pelaku ke penjara. Membawa kasus ke jalur hukum memerlukan persiapan yang sangat matang jika tidak ingin kandas di tengah jalan. Barang bukti yang kuat mesti dikumpulkan dengan cermat hingga sedetail-detailnya. Namun, yang terjadi kadang sebaliknya. Alih-alih memahami pentingnya bukti fisik, terkadang korban yang sedang panik malah berusaha melenyapkannya. Bukannya mengambil spesimen yang ditinggalkan pelaku, seperti bekas sperma dan rambut kemaluan, korban memilih mandi hingga semua bekas yang melukai martabatnnya sirna.

Ketidaktahuan korban mungkin masih ditambah lagi dengan perasaan trauma saat melaporkan kasusnya ke polisi. Membuka kembali kronologi cerita yang menyakitkan jelas bukan sesuatu yang mudah. Cekaman trauma dan kecemasan justru bisa membuat korban mengalami mental block yang membuat laporan di BAP mudah dipatahkan saat maju ke persidangan.

Belum lagi jika korbannya anak-anak. Tentu proses penggalian cerita jauh lebih rumit prosedurnya. Idealnya anak didampingi oleh orang dewasa yang membuatnya nyaman saat disidik. Penyidik pun sebaiknya tidak memakai seragam yang memberikan kesan menakutkan untuk anak. Ruangan untuk penyidikan pun seharusnya dibedakan dan ditata khusus untuk korban anak-anak. Dekorasi ruangan pun dibikin semenarik mungkin agar anak merasa betah.

Dengan berbagai kerumitan yang dialami korban, dapat dimengerti jika banyak yang memilih tidak melaporkan kebiadaban pemerkosa. Jika ada korban atau keluarganya yang bernyali meminta keadilan selayaknya mendapat dukungan dan apresiasi agar orang yang mengalami kejadian serupa berani bersuara lantang.

Beruntung saat ini masyarakat sudah semakin cerdas. Media sosial efektif untuk memberikan tekanan kepada pihak yang bersangkutan untuk berbuat seadil mungkin. Saat ini mata publik sedang menyorot tajam pada kasus tiga anak yang diperkosa oleh ayah kandungnya. Tentu sangat menarik menantikan episode selanjutnya. Bola ada di tangan polisi. Akankah bergulir cantik ke gawang atau melenceng jauh di atas mistar?

Kita tunggu saja.