4 bulan lalu · 1544 view · 3 menit baca · Politik 92012_62029.jpg
pexels

Kenapa Prabowo Menang Debat?

Beberapa jam setelah debat, trending Twitter masih mengatakan bahwa calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto memenangkan perdebatan. Tentu ada trending #DebatCerdasJokowi yang ketika saya akses sekitar pukul 01.00 (18 Februari 2019) jumlahnya melampaui #PrabowoMenangDebat. 

Saya tak sanggup membahasnya secara teknis terbentuknya kesepakatan tanda pagar itu melalui kerja organik atau robot. Akan tetapi, pada kenyataannya, itu tidaklah begitu penting, menurut saya.

Ada beberapa hal yang menarik (meski lebih banyak tidak menariknya, tentu saja) dalam debat edisi kedua Pemilu Presiden dan Wakil Presiden malam lalu. Apa yang dijanjikan oleh tim sukses tidak terjadi. Meski katanya Jokowi bertahan dan Prabowo menyerang, yang terjadi sebaliknya

Prabowo harus mengelap kacamatanya yang mungkin lembab akibat panas tubuhnya. Atau juga hanya sekadar bentuk refleks kepanikan. Sedangkan Jokowi sangat garang. Meski ada yang mengatakan dia sempat off side dalam menyerang soal pribadi Prabowo soal kepemilikan hak guna lahan yang sangat luas di Kalimantan dan Sumatera.

Tapi poin intinya bukanlah bagaimana strategi mereka berusaha meyakinkan calon pemilih melalui debat. Namun, lebih pada apakah debat ini signifikan dalam mencapai tujuan itu? Apakah benar debat membuat seorang calon memenangkan hati dan logika pemilih?

Jangan-jangan debat hanyalah laga layaknya sepak bola saja. Baik buruk tetap dibela. Kalah juga akan tetap setia. Yang ditunjukkan hanya permainan teknis kosong saling serang tanpa gagasan politik yang kongkret.

Lagi-lagi fanatisme buta bisa jadi menghalangi itu semua. Terlebih, debat yang tidak esensial membuat potensi massa golongan putih tidak berubah pikiran. Mungkin para calon golput menonton untuk mencoba peruntungan, siapa tahu ada yang layak dipilih. 

Tapi, jika format dan isinya buruk, malah ditakutkan mereka lebih suka memilih calon alternatif nomor urut 10 Nurhadi-Aldo dengan Koalisi Tronjal-Tronjol Mahaasyik-nya.

Kenapa bisa seperti itu? Karena dengan kondisi edukasi politik kita saat ini, yang muncul bukan lagi penilaian akan performa dan gagasan yang ada dalam debat. Yang muncul adalah sampah digital dalam feed media sosial kita. 

Jikapun ada yang mengalisis dengan serius, kebanyakan hanya menunjukkan kehebatan idolanya. Atau mengungkit kesalahan lawan meski sebenarnya kesalahan kecil-kecil, demi untuk berlindung. 

Sesat-sesat pikir dalam quotes di media sosial bisa jadi mengganggu kenyamanan kita yang sedang mencari pertimbangan logis untuk memilih calon pemimpin.

Tentu akan nyaman dilihat jika yang berkompeten membahasnya dengan lebih objektif. Sehingga, harapannya, pemilih bisa mempertimbangkan referensi, yang saat ini justru lebih dikuasai preferensi. 


Sentimen emosional dan relatif menggunakan simbol-simbol ras dan golongan serta agama lebih laku ketimbang sentimen soal keberpihakan kandidat pada isu-isu kronis negara ini. Apa isu kroniknya? Kita lihat secara sekilas saja soal korupsi, HAM, ekonomi, dan lingkungan. 

Tema-tema seperti itu seolah hanya ada di visi misi dan jadi pepesan kosong perdebatan. Tidak terlihat adanya pembeda yang nyata dalam diskursus pemilu terkini. Debat tidak menunjukkan diferensiasi kualitas gagasan para kandidat.

Diskusi kemarin yang tidak selesai soal keberpihakan calon presiden kepada isu revolusi industri versi keempat ternyata tidak begitu dibahas. Kita mudah lupa sekali pada diskusi pada hari kemarin. 

Tentu sebenarnya menarik untuk dibahas secara serius. Akhirnya yang muncul hanyalah kekreativan nakal warganet muda membuat meme sarkastik soal objek tunggal: Unicorn.

Kita tidak bisa melihat secara jernih bagaimana calon presiden kita berjanji kepada kita soal apa yang akan dilakukan untuk menghadapi masa-masa internet dan kecerdasan buatan benar-benar datang. Hampir tidak terlihat sama sekali. 

Kita tidak bisa menyimpulkan mana calon yang siap atau tidak menghadapi itu. Atau memang tidak ada? Dan karena kita mudah melupakan, maka yang perlu disampaikan adalah sebatas retorika yang tidak bisa diuji keterikatannya pada implementasi rencana. 


Dan toh jika nanti sudah menang, pendukung tidak begitu buas mengkritik. Atau, toh jika dilakukan, oposisi pun akan selalu menghujat.

Logika politik seperti itu yang membuat bangsa kita, dari desa-desa dan kelurahan hingga sampai tataran tertinggi negara ini masih berpotensi luas untuk terselenggaranya pesta korupsi. Kenapa? Masyarakat mudah lupa, sedangkan yang mendapat amanah apalagi.

Apa Pentingnya Menang Jika Tak Mencerdaskan?

Apa hasil dari perdebatan capres yang tidak bermutu itu? Sampah-sampah digital dan visual yang berpotensi menutup kejernihan kita dalam menentukan pilihan. 

Dan, sebagian yang merasa tak sanggup melihat lagi, mereka mungkin akan memanfaatkan hari libur 17 April 2019 untuk melakukan yang jarang dilakukan di negara ini, membaca novel tentang kemanusiaan.


Masyarakat kita dalam berdiskusi di sosial media selalu mengungkit hal kecil dan remeh sehingga diskursus untuk hal-hal besar tertutup. Politik SARA dan hoaks menutup politik. Sedang politik menutup kemanusiaan. Sempurna sudah kesesatan kita dalam menghadapi perbedaan pandangan politik.

Menurut Anda, siapa yang menang debat ronde kedua? Apa benar klaim tren bahwa #PrabowoMenangDebat, atau memang terbukti bahwa ada #DebatCerdasJokowi, atau bahkan keduanya tidak ada yang menang dan tidak ada yang cerdas dan itu hanyalah sampah digital yang mengganggu diskursus diskusi kita?

Artikel Terkait